Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Episode 23


__ADS_3

DING DONG...


" Assalamualaikum "


Terdengar suara bell pintu dan Rani yang sedang mengucap salam. Membuat aku dan mas fatih menghentikan kegiatan yang sedang kami lakukan.


Lalu mas fatih memandang ku. Sedetik kemudian dia menunduk dan bergumam.


" Astagfirullah " gumam mas fatih.


Aku tak tau harus berbuat apa. Aku melirik kanak kiri dengan gusar. Aku semakin merasa bersalah. Karna apa, tentu saja karna ini kedatangan ke 2 temanku. Mereka datang dengan janjian aku, rani dan icha semalam.


Melihat felis yang gusar. Fatih mengangkat dagu felis. Dikecup lembut bibir tipis felis yang memerah akibat ciuman mereka.


" tak apa sayang. Mas bisa nunggu hingga nanti malam. Karna mungkin nanti malam mas gak akan berbelas kasih padamu. " bisik fatih ditelingan felis.


Fatih langsung berdiri dan menuju kamar mandi mereka yang ada didalam kamar. Tanpa melihat wajah felis yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


Felis segera memakai hijabnya kembali, merapikan pakaiannya dan segera bergegas keluar.


" waalaikumsalam " jawab felis dengan membuka pintu rumah.


Icha : koq lama sih lis buka pintunya???


Felis : oh. Itu.. Eee... Tadi.. Itu... lagi beresin cucian kering. Iya cucian kering.


Rani : yang beneer. Kok aku mencium bau-bau yang mencurigakan yah. Kamu nyium nggak cha??


Icha : eh. Iya nih. Bau apa yah...


Rani : iya kan. Bau apa coba???

__ADS_1


Tanya Rani, kaget sekaligus berharap icha menangkap maksudnya untuk menggoda felis. Kaget karna biasanya icha yang polos nggak bakalan nyambung kalok diajak becanda tanpa rencana...


Icha : ooohh. Aku tau. Aku tau ini bau apa ran..


Rani : iya iya. Bau itu tuuuuhh. Kan ya...


Icha : iya. Bau ikan bakar. Waaah. Haruumnya. Pasti dikasih rempah ya lis pas dibakar. ( jawab icha dengan bangga karna bisa menebak bau masakan dirumah).


Sedangkan Rani langsung tepuk jidat. ' ya gustiii. Kenapa temenku ini nggak ngerti situasi banget yah' pikir Rani.


Dan...


" Ppfftt ". Terdengar suara felis yang berusaha menahan tawa. Sekaligus senang tentunya, karna berkat icha, Rani gak bakal niat lagi buat godain dia.


Tak lama mas fatih datang..


Fatih : kenapa dek. Kok nahan tawa gitu.


Felis : ah nggak. Ini mas. Icha nyium bau ikan bakar yang dimasak ummi. Katanya harum banget...


Fatih bingung. Apa yang lucu dengan mencium bau ikan bakar yang harum. Pikirnya...


Felis : ah nggak. Nggak pa pa mas. Ya udah. Yuk mas berangkat. Biar nggak kesiangan. Nanti nggak dapet tempat duduk. Yuk Ran, Cha...


Rani : ah iya lis. Sampean duluan Gus. Nanti saya sama icha ngikut dibelakang.


Ucap rani dengan sedikit menunduk untuk menghormati Gus-nya tersebut. Karna meskipun Gus Fatih adalah suami dari sahabatnya, tetap saja Dia adalah putra dari kyai. Pemilik sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Al-Furqan.


Fatih : iya. Saya sama felis duluan. Yuk dek


Felis : iya mas.

__ADS_1


Fatih dan felis berjalan beriringan. Dibelakang mereka. Ada Rani dan Icha yang ngikut.


Sebenarnya rani merasa kurang enak untuk makan bersama Gus fatih. Apalagi kalok sampek dibayarin. Rani merasa sungkan. Meski dia tau. Dari dulu katanya, Gus fatih itu loyal terhadap para santri putra dan putri. Dan untuk santri putri, tentu saja dalam batas yang masih wajar...


Setelah sampai warung mang acing. Fatih memesan untuk dirinya dan felis. Sedangkan Rani dan Icha juga ikut memesan setelah fatih selesai bicara. Setelah pesanan datang....


Felis berusaha mencairkan suasana dengan mengajak icha bicara. Karna iya berfikir bahwa icha lebih mudah diajak bicara dengan santai dengan sifatnya yang agak polos. 😁


Felis : cha. Gimana sama kuliah kamu. Lancar nggak???


Tanya felis basa-basi


Icha : duh lancar apaan. Susah banget lah. Aku untung aja disini banyak juga yang masuk di fakultas Ushuluddin. Jadi katanya, aku tuh harus lancar dan fasih dalam membaca al-Qur'an dan tafsirannya. Trus banyak membaca tentang ilmu Hadist juga. Jadi yah sekarang aku faokus dulu sama tafsir al-Qur'an.


Felis : oooohh. Susah yah. Tapi kamu pasti bisa lah.


Icha : Rani tuh yang enak. Gramatikal Arab. Jadi kan gampang. Dipesantren kan dianjurkan menggunakan bahasa arab dan Indonesia. Jadi udah kayak makanan sehari-hari.


Rani : enak aja bicara sembarangan. Nggak gampang juga tau. Masih harus teliti. Harus tau bahasa bagusnya sama nggak juga...


Icha : susahan punya aku. Ya kan Lis. Gus???


Aku dan Rani tertegun. Gak tau harus ngomong apa. Awalnya aku memang berniat mencairkan suasana. Namun aku juga masih sungkan sama mas fatih. Ku lirik mas fatih.


Mas fatih yang sedang makan baksopun menghentikan dan tersenyum. Bahkan seperti sedikit tertawa...


Fatih : kalau menurut saya. Sama saja. Hanya tingkat kesulitan akan berbeda tiap naiknya tingkat pemahaman kita sendiri. Jadi semakin kamu belajar dan berusaha memahami apa yang kamu ingin pelajari, maka nanti akan semakin mudah untuk kamu melanjutkan ke tingkat pelajaran yang lebih diatasnya.


Jawaban fatih membuat keduanya manggut-manggut...


Sejak pertanyaan icha itulah yang membuat suasana jadi lebih hangat. Icha dan Rani saling bertanya kepada fatih tentang hal-hal yang lain juga tentang perkuliahan mereka. Tentunya dengan felis yang beberapa kali juga bertanya pada icha dan rani.

__ADS_1


..........


Kami sampai dirumah saat sudah jam 11 siang. Rani dan Icha sudah kembali ke pesantren dari tadi. Sedangkan aku dan mas fatih masih mampir ke butik kk Nita dan kk faruq. Mas fatih membelikan ku 3 setelan gamis beserta hijabnya. Sedangkan mas fatih membeli 1 celana hitam. 1 baju koko warna putih bergaris abu-abu. 2 kaos 👕 putih dan hitam untuk sehari-hari. Dan 2 sarung...


__ADS_2