
Hari minggu pagi, Fal berbaring di tempat tidur sambil baca buku ketika Tanvi masuk kamar.
“Fades ke mana?” tanyanya.
“Lagi sama Mama,” jawab Tanvi singkat sambil membuka lemari dan membereskan baju Fal.
Fal menepuk kasur. “Sini.”
Tanvi menurut dan berbaring di samping Fal.
Kepalanya direbahkan di bahu Fal.
“Hari ini aku mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut?” Fal menyimpan bukunya di meja.
Tanvi tidak menjawab, wajahnya tampak murung.
Fal membelai kepala Tanvi lembut.
“Kamu kenapa? Ada yang kamu pikirin?”
Tanvi terdiam dan menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh ia tidak sanggup kehilangan suami yang amat dicintainya.
Tapi menyakiti Alisha sama saja menyakiti orangtuanya.
Alisha begitu mencintai Fal.
Bahkan sampai frustasi dan nekat mau bunuh diri.
Ia bisa melihat Papa Malik begitu terpukul takut kehilangan Alisha.
Tapi ia pun tidak sanggup meninggalkan Fal.
“Kak, apa aku boleh bersikap egois?” tanyanya nyaris tidak kedengaran.
Fal mengerutkan dahi.
“Egois dalam hal apa?”
__ADS_1
Air mata Tanvi bergulir turun, dan langsung memeluk Fal erat.
Meski heran, Fal membalas pelukan Tanvi.
Yang bisa dirasakannya, Tanvi sedang terpukul.
“Tanvi, ada apa? Cerita sama aku.”
Tanvi tidak menjawab, makin erat memeluknya.
Fal membiarkan beberapa saat, dan melepas pelukannya pelan-pelan.
“Ada apa sayang? Apa yang ganggu pikiran kamu sekarang?”
Tanvi mengangkat kepalanya, matanya sudah memerah.
“Apa boleh aku minta Kak Fal nggak tinggalin aku?”
Makin heran, Fal memegang kepalanya.
“Kamu istriku. Apa alasan aku harus ninggalin kamu?”
Alisha ingin mereka bercerai dan Fal menikahi Alisha.
Tanvi bisa melihat betapa terpukulnya Alisha harus kehilangan Fal.
“Apa aku punya pilihan selain ninggalin kamu, Kak?” tangis Tanvi pecah.
Fal bisa merasakan yang Tanvi alami.
Melihat wajah sendunya, membuat Fal tidak bisa berkata apa-apa.
Yang jelas, Tanvi dihadapkan pada pilihan sulit.
Tanvi terisak-isak.
“Aku nggak sanggup kehilangan kamu, Kak.”
“Kamu pikir aku sanggup?” balas Fal, sambil memeluk Tanvi erat.
__ADS_1
“Aku sayang kamu, Tanvi. Tolong jangan berpikir aku mau ninggalin kamu.”
HP Tanvi berbunyi.
Ada panggilan dari Alisha.
Fal mengambil dan mematikan HP Tanvi.
Tanvi masih sesunggukan, ketika Fal juga mematikan HP-nya.
“Aku nggak mau bikin Papa dan Ibu sedih, tapi aku juga berat kalo harus ninggalin kamu, Kak.”
Tanvi bersandar di bahu Fal.
Fal memeluk bahu Tanvi, dan mengusap pipinya.
“Jangan nangis lagi. Aku akan coba bicara dengan Alisha.”
“Tapi gimana kalo dia tetep maksa kita cerai?”
“Sayang, apapun yang terjadi, cerai bukan solusi masalah kita. Biar aku bicara baik-baik sama Alisha.”
“Dia kecintaan sama kamu, Kak. Dia cuma mau nikah sama Kak Fal.”
Fal menghela nafas lesu.
“Iya, ini salah aku. Dan aku akan selesaikan. Tapi bukan dengan kita bercerai. Aku nggak mau kehilangan kamu dan Fades. Kalian jauh lebih berharga dari apapun.”
Tanvi masih cemas, namun Fal meyakinkan masalah bisa diatasi.
“Udah, jangan dipikirin. Kamu rileks aja ya. Hmm… Fades kan lagi sama Mama nih,” nada bicara Fal mulai nakal.
“Trus?” Tanvi mulai tersenyum, lupa akan kesedihannya.
“Mau bulan madu sekarang?” Fal mengedipkan mata lucu.
Tanvi tersenyum geli dan mencubit hidungnya gemas.
Fal ikut tersenyum dan memeluk Tanvi, tanpa peduli Alisha berusaha menghubungi mereka berdua.
__ADS_1
***