
Di ICU, dokter mengambil tindakan karena kondisi Tanvi memburuk.
“Ya Allah, Pa.. bagaimana keadaan Tanvi?” Mama panik.
“Sabar, Ma. Kita tunggu kabar dari dokter.” Papa ikut panik.
“Aku rasa Ibu dan Bapak jangan diberitahu dulu kalau Tanvi masuk rumah sakit,” kata Om Tito.
“Tapi kan, Pa, Ibu Bapak sudah dalam perjalanan ke rumah. Nanti kita jawab apa kalau acara tujuh bulanan batal?” tanya Tante Rima cemas.
Kakek dan Nenek habis berlibur menemui saudara jauh di Surabaya.
Dan berencana kembali hari ini untuk menghadiri acara penting cucunya.
“Kalau begitu, harus ada yang menunggu di rumah.”
“Pa, lebih baik Papa Mama, Om dan Tante Jihan pulang saja. Biar Farhan dan Reva yang jaga di sini,” usul Farhan.
Mama menggeleng. “Enggak, Farhan. Tante mau nungguin Tanvi.”
“Tante, percayakan Tanvi sama kami. Pokoknya Farhan akan segera telepon Tante kalau sudah ada kabar tentang Tanvi.”
“Farhan benar, Ma. Banyak yang perlu kita urus karena acara batal. Biar Farhan dan Reva yang menjaga di sini. Lebih baik kita semua pulang. Sebentar lagi Ibu dan Bapak pasti sampai dan kita harus menjelaskan.”
Akhirnya setelah dibujuk, Mama dan Tante Rima setuju pulang, walau masih cemas.
Farhan dan Reva menunggu di depan ICU.
“Nggak enak ya hamil,” komentar Reva.
“Kasian Tanvi.”
Farhan tidak menanggapi omongan istrinya.
Ia mengeluarkan HP dan menghubungi Ares.
“Res, gimana? Lo semua udah nemu Fal?”
“Belum.” Suara Ares juga terdengar lelah. “Gue udah cari ke kantor, ke gym, kafe tempat biasa, nggak ada juga.”
“Lo udah cari ke apartemennya Alisha? Mungkin dia di sana.”
“Wandi yang ngecek ke sana. Dia belum ngabarin gue.”
“Shit! Emang Fal hobi banget cari masalah! Kalo lo ketemu dia, suruh dia ke rumah sakit secepatnya.”
“Lho rumah sakit? Kenapa emangnya?”
“Tanvi masuk ICU. Dia terus manggil nama Fal.”
__ADS_1
“Trus acaranya batal?”
“Nggak perlu lo tanya. Pokoknya usahain kalian nemuin Fal dan suruh dia cepet ke rumah sakit.”
“Oke, Han.”
Klik.
Farhan meremas HP-nya, emosi.
“Sayang, aku laper nih. Kita makan yuk?” rengek Reva.
“Kamu sendiri aja. Aku nggak lapar.”
Reva angkat bahu, dan berdiri.
“Ya udah, aku keluar dulu.”
Begitu Reva pergi, Farhan meremas kepalanya, cemas dengan kondisi Tanvi.
Ia mencoba menelepon Alisha.
Tapi tidak aktif.
“Fal, kali ini lo bener-bener kelewatan!”
***
“Kok buru-buru sih, Fal? Ntar malem aja lo balik,” rayu Alisha.
Mereka makan siang di restoran yang romantis, merayakan ulang tahun Alisha.
“Nggak bisa, Lis.” Fal mulai gelisah. “Barusan lo janji cuma makan siang aja. Gue harus pergi. Ada acara yang nggak bisa gue lewatin.”
“Ya gue emang janji. Tapi janji itu untuk dilanggar. Dan gue mau seharian sama lo.”
Alisha tersenyum menggoda.
Fal menggeleng. “Sorry, Lis. Nggak kali ini. Gue harus pergi. Mana HP gue?”
Alisha merengut dan memegang HP Fal.
“Nggak bisa, lo nggak boleh pergi.”
“Lis, gue nggak bercanda, gue harus pergi!”
“Nggak boleh.”
Fal mendengus dan melihat jam tangannya.
__ADS_1
*Gawat, acaranya pasti udah mulai. Gue harus cepet pergi.*
Tapi ia akui tidak bisa kasar pada Alisha.
Bagaimana cara dia akan pergi?
“Fal!”
Mereka kaget, dan menoleh.
Rendy menghampiri mereka dengan nafas terengah-engah.
“Gila lo emang! Gue Ares sama Wandi nyariin lo dari tadi! Untung gue lewat dan liat mobil lo diparkir.”
Rendy menyemburkan kekesalannya.
“Ada apa kok lo panik, Ren?” Fal menegang.
“Istri lo pingsan dan masuk rumah sakit.”
Fal terkejut setengah mati.
“Apa?! Gimana keadaan dia?!”
“Farhan sama istrinya lagi jaga di rumah sakit. Dari tadi kami coba telepon HP lo malah off. Sekarang mending lo ke rumah sakit. Istri lo manggil nama lo terus.”
“Lo nggak boleh pergi!” sambar Alisha sewot. “HP lo ada sama gue. Kunci mobil lo juga. Gue nggak akan biarin lo pergi.”
“Terserah lo, Lis. Gue harus nemuin istri gue!” Fal berbalik.
Alisha langsung menjatuhkan diri.
“Fal, tolongin gue! Perut gue sakit!”
Fal dan Rendy kaget tiba-tiba Alisha terguling dari kursi sambil memegang perutnya.
“Ya udah, lo pergi aja, Fal. Biar gue yang urus Alisha.” Rendy mengeluarkan kunci mobil. “Pake mobil gue.”
Tanpa pikir panjang, Fal mengambil kunci mobil Rendy.
“Lo hubungin aja Bu Namila, pembantunya. Suruh jagain dia.”
“Beres.”
“Fal, jangan tinggalin gue!” jerit Alisha, namun tidak dipedulikan Fal.
Fal melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan hati gelisah.
***
__ADS_1