Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 43


__ADS_3

Taman sudah sepi.


Tanvi duduk melamun, dengan mata sembab, air matanya sudah mengering.


Sejak kecil ia berharap ibunya datang kembali.


Maka dia tidak mau diadopsi.


Tapi sekarang, mengingat penantiannya selama ini membuat sakit hati pada ibunya semakin dalam.


Dia tidak menyangka akan begini.


Jauh lebih baik jika ia tidak tahu.


Tiba-tiba ada yang memegang kedua bahunya, membuatnya menoleh.


Fal!


“Kalau mau ngelamun, ajak suami kamu dong.”


Fal duduk di samping Tanvi.


Tanvi diam saja, hanya menunduk.


Tanpa bicara, Fal melepas jaket dan


memakaikannya.


Untuk beberapa saat, tidak ada suara.


Fal tahu betul apa yang dipikirkan Tanvi.


“Kak,” kata Tanvi pelan, tanpa menoleh.


“Ya?”


“Boleh minta tolong?”


“Sure. Ada apa?”

__ADS_1


Tanvi menggamit tangan Fal yang mengikutinya bingung.


Tanvi membawanya ke sebuah kebun dekat taman.


“Tanvi, ngapain kita ke sini?”


Fal heran sambil celingukan karena sepi.


Tanvi tidak menjawab, matanya mencari-cari sesuatu di tanah.


HP-nya difungsikan sebagai senter.


“Kamu lagi cari apa?”


Tak lama, Tanvi menemukan yang dicarinya.


“Ini, Kak.”


Kening Fal berkerut melihat gundukan tanah dekat pohon.


“Ini?”


Meski heran, Fal menuruti kemauan istrinya.


Dan menggali gundukan tanah menggunakan batu.


Cukup lama, ia menemukan sebuah karung besar tertimbun dalam tanah.


“Apa ini?” tanya Fal.


Tanvi membuka karung dan mengeluarkan isinya.


Fal terdiam melihat keranjang bayi yang sudah rapuh.


Di dalamnya juga ada selembar kain, selimut kecil, popok bayi, dan baju bayi yang sudah lusuh.


“24 tahun yang lalu, aku hanya bayi yang tidak berdaya. Dibuang begitu saja tanpa tahu sebabnya. Tapi bodohnya, aku masih aja coba mencari orangtuaku. Meski aku tau, mereka nggak akan cari aku. Mereka buang aku jelas nggak mau aku lahir. Makanya, begitu Bu Ratna meninggal, aku udah janji bakal kubur semua tentang orangtuaku. Aku nggak akan cari mereka lagi. Jauh lebih baik aku nggak kenal mereka. Daripada hatiku makin sakit.”


Tanvi menarik nafas sejenak.

__ADS_1


“Tapi kenapa, sekarang ada yang datang mengaku ibuku?” Tanvi meremas baju bayi miliknya. “Kenapa dia datang disaat aku sudah lupa?”


Fal bingung menjawab.


“Kak Fal tau tentang ini kan?” tanya Tanvi tajam membuat Fal gelagapan.


“Kak Fal tau pembantunya Alisha itu yang cari aku, tapi Kakak nggak kasih tau aku sama sekali?”


“Tanvi, kamu tau dari mana?” Fal agak panik.


Tanvi memalingkan muka.


“Aku denger Kak Fal bicara dengan Kak Farhan di rumah sakit. Dan aku memastikan sendiri, dia shock lihat kertas berisi namaku.”


“Tanvi, aku sembunyiin ini dari kamu, karena aku nggak mau kamu kepikiran,” jelas Fal panik.


“Aku tau kamu kecewa. Tapi apa nggak sebaiknya kamu dengar penjelasan Bu Namila? Dengan dia cari kamu lagi, itu membuktikan dia menyesal. Bagaimana pun juga, dia nggak buang kamu ke jalanan kan? Kalau dia tidak punya hati, dia nggak bakalan buang kamu ke panti asuhan. Kalau dia benci, untuk apa dia kasih kamu nama yang indah? Kalau dia tega, dia bakal ninggalin kamu tanpa selimut dan biarin kamu kedinginan.”


Air mata Tanvi bergulir turun.


Tangan Fal terulur menghapus air matanya.


“Kita pulang ya. Kamu harus rileks. Jangan berpikir terlalu keras. Semua pasti ada jalan keluarnya.”


Tanvi mengusap pipi dan menunduk sedih.


“Kita harus cepet pergi. Kalo ada yang liat malem-malem kita di sini, nanti dikira macem-macem, apalagi ada keranjang bayi begini. Ntar kita dituduh mau buang bayi kan bahaya.”


Fal membereskan semua seperti semula, lalu membantu Tanvi berdiri.


Tanpa buang waktu, mereka pergi dari sana.


Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tanvi membenarkan kata suaminya.


Mungkin ia hanya perlu berbesar hati memberi ibunya kesempatan menjelaskan.


***

__ADS_1


__ADS_2