Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 21


__ADS_3

BERKAT perawatan intensif dan penjagaan ketat dari keluarga agar Fal terhindar dari pikiran pekerjaan, kondisi Fal pulih sepenuhnya.


Tanvi bisa tenang bekerja lagi.


Seperti pagi ini, ia sudah rapi memandang pantulan dirinya di cermin.


“Mudah-mudahan acara hari ini lancar.”


“Kamu udah mau pergi?” tanya Fal yang baru mandi dan masih mengenakan handuk.


“Iya, Kak. Mau langsung ke mal. Di sana mau ada acara launching produk kita. Kak Fal mau ke sana juga?”


“Iya tapi aku harus ke kantor dulu.”


“Kalo gitu aku duluan, Kak. Banyak yang harus dikerjain.”


Tanvi mendekati Fal yang duduk di tempat tidur, tiba-tiba…


Kraakkkkk!!


“Astagfirullah…” Tanvi jatuh menimpa Fal, dan…


Cuuppp!


Fal sendiri kaget ketika pipinya dapet shock kiss dari Tanvi.


“Aduh Kak, maaf maaf…,” Tanvi jadi panik sekaligus malu. “Heels aku patah lagi.”


“Duuhh, kalo beli sepatu yang teliti lah. Patah melulu,” omel Fal, lebih coba menutupi rona merah wajahnya.


Tanvi melihat jam.


“Duuhh udah mepet waktunya.”


Ia memakai sepatu biasa, dan menyambar tas.


“Aku pergi dulu, Kak.”


Ia mencium tangan Fal secepat kilat dan bergegas keluar kamar.


“Tanvi, sarapan dulu?” tegur Mama.


Di meja makan sudah ada Papa, Mama, Om Tito, Tante Rima, dan Kakek.


“Aku buru-buru, Ma.”


“Lho sarapan lah dulu,” tegur Tante Rima.


“Memang ada apa sampai kamu terburu-buru begitu, Tanvi?” tanya Kakek.


“Hari ini mau ada launching produk, Kek. Makanya aku harus cepet sampai karena banyak yang perlu dikerjain.”


Muncul Farhan, sambil menenteng map tebal.


“Pa, ini ada berkas yang perlu Papa baca. Hari ini Papa nggak ke kantor kan. Sekretaris Papa yang titip itu.” Farhan menyerahkan map pada Om Tito.


“Kamu datang pagi-pagi cuma mau berikan berkas ini?”


“Ya siapa tau penting kan, Pa. Lagian apartemenku deket dari sini.”

__ADS_1


Farhan menoleh pada Tanvi.


“Kamu udah mau pergi, Vi? Fal mana? Nggak barengan?”


“Kak Fal mau ke kantor dulu, Kak. Aku mau langsung ke mal. Makanya duluan.”


“Ya udah aku anter aja, kan sejalan sama kantor.”


“Betul tu, Nak. Lebih baik bareng Farhan. Kalau pesan taksi bisa lama datangnya.” Kata Om Tito.


Tanvi setuju.


Yang penting cepat sampai.


“Kami pergi dulu.”


Setelah cium tangan ke semua orangtua, Tanvi dan Farhan berangkat.


Tak lama Fal turun sudah rapi dengan baju kerjanya.


“Pa, tadi kayak ada suara Farhan.” Fal duduk dan menikmati roti selai.


Semua memandang Fal aneh, lalu semua jadi tersenyum.


Fal heran. “Tadi ada Farhan kan, Ma?”


“Iya ada. Tapi sudah pergi dengan Tanvi. Istrimu itu buru-buru banyak pekerjaan.”


“Kamu juga datang lah ke acara launching.”


“Kalau pekerjaan di kantor udah selesai, Fal pasti nyusul ke sana.”


“Aku pergi dulu.”


Mama mau mencegah, namun ditahan Tante Rima.


“Biarkan saja.”


“Tapi itu pipinya…”


Tante Rima tersenyum jahil.


***


“Tanvi, gimana? Udah ditelepon orangnya? Kok belum dateng?” tanya Sekar.


Tanvi masih mencoba menelepon.


“Nggak nyambung dari tadi. Mungkin lagi di jalan.”


“Vi, mana orangnya?” muncul Daniel. “15 menit lagi kita mulai. Mumpung pengunjung lagi banyak ini.”


“Iya, Mas. Ini lagi aku coba telepon.”


Tanvi jadi ikut panik, karena Reva, kakak iparnya, yang akan menjadi model untuk launching hari ini tidak bisa dihubungi.


“Aduhh parah! Saya nggak mau tau, 5 menit sebelum acara dia harus udah di sini. Kamu yang tanggung jawab.”


Daniel bergegas menuju panggung mini di tengah mal.

__ADS_1


“Salah kita juga sih nggak siapin model cadangan,” keluh Sekar. “Gue mau cek persiapan produk. Lo terus coba telepon dia.”


Begitu Sekar pergi, Tanvi menghentakkan kaki kesal karena HP Reva di luar jangkauan.


“Ada apa, Vi?” muncul Farhan membuatnya kaget.


“Kak Farhan di sini? Kirain tadi balik ke kantor.”


“Aku disuruh Papa ngawasin acara hari ini. Kamu kenapa? Kok kayak bingung?”


Tanvi meremas HP-nya, kesal.


“Kak Reva ke mana? Kok HP-nya off?”


“Ngapain kamu cari Reva?” Farhan balik tanya bingung.


“Lho? Emang Kak Reva nggak cerita? Dia jadi model untuk acara ini. 15 menit lagi mulai, tapi Kak Reva nggak bisa aku telepon.”


Farhan jadi bingung.


“Dia nggak bilang apa-apa. Tapi, dia lagi nggak di sini.”


Tanvi kaget. “Lho? Jadi dia ke mana?”


“Dia berangkat ke Jepang tadi malam. Mau ada acara fashion show.”


“Apa?! Aduuuhhh gimana sih? Kemarin udah deal, sekarang aku harus gimana? Bisa-bisa kena marah manajer!”


Tanvi panik bukan main, melihat di panggung Melly beserta beberapa SPG sedang memperkenalkan produk-produk kosmetik terbaru.


Tadinya Reva yang harus make-up.


Tapi kakak iparnya tidak ada, Tanvi tidak tahu harus berbuat apa.


“Apa nggak ada model cadangan?”


“Nggak ada, Kak. Ini udah mepet banget. Aduuhh mesti gimana ini?”


Tanvi putus asa ketika Daniel dan Oji mendekatinya.


“Mana modelnya, Vi?”


“Nggak dateng, Mas,” jawabnya lesu, siap kena marah.


Daniel kesal dan melihat jam.


“Nggak ada waktu lagi. Karena modelnya nggak dateng, kamu yang harus gantiin.”


“Hah?”


“Kenapa? Ini kan tanggung jawab kamu. Jadi kamu yang harus make-up di panggung. Sana naik!”


“Tapi, Mas…”


“Nggak ada tapi-tapi.. pengunjung udah banyak. Kalau gini keadaannya, kamu nggak ada pilihan lain. Oji, bawa Tanvi ke panggung!”


Tanvi pasrah ditarik Oji menuju panggung.


***

__ADS_1


__ADS_2