Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 45


__ADS_3

“Iya, Ma. Fal akan coba bicara dengan Tanvi. Mama Papa yang sabar. Fal nggak bisa memaksakan kalau Tanvi tidak mau. Tapi Fal akan coba bujuk dia. Oke, Ma? Iya, Fal pasti usahain. Mama tenang aja ya. Oke, Ma.”


Fal mematikan telepon sambil keluar lift.


Seharian ia lelah bekerja.


Belum lagi Alisha merecokinya terus menerus memintanya menyusul ke Bandung.


Lama-lama ia jenuh terus mengikuti maunya Alisha.


Mama meminta mereka tinggal di rumah karena khawatir jika Tanvi sendirian di apartemen ketika Fal di kantor.


Ia menekan bel, berharap Tanvi belum tidur.


Pintu terbuka.


Ia terperangah, tas kerjanya terlepas dari tangan.


“Bu Namila?!”


Bu Namila salah tingkah. Antara takut dan senang.


“Kenapa ada di sini?”


Bingung mau jawab apa, Bu Namila mengambil tas Fal.


“Maafkan Ibu, Nak. Ibu hanya cemas dengan kondisi Tanvi.”


Fal masih speechless dan celingukan.


“Tanvi?”


“Sudah tidur.”


Karena tidak mau mengganggu istirahat Tanvi, Fal mengajak Bu Namila keluar.


Mereka duduk di taman belakang apartemen yang sepi.

__ADS_1


“Jadi Ibu sudah beritahu Tanvi?” tanya Fal.


Bu Namila jadi gelisah. “Iya, Nak.”


“Apa saya boleh tau kenapa Ibu meninggalkan Tanvi di panti asuhan?” pertanyaan Fal membuat Bu Namila tercekat dan menarik nafas berat.


Lalu Bu Namila menceritakan kejadian yang membuatnya terpaksa meninggalkan Tanvi di panti asuhan.


“Ibu cuma takut sesuatu yang buruk terjadi pada Tanvi, maka Ibu terpaksa meninggalkannya di panti asuhan yang jauh dari rumah tinggal Ibu. Kalau sampai Tanvi ditemukan, bisa-bisa suami Ibu akan menjualnya. Ibu nggak sanggup melihat Tanvi menderita, tapi Ibu juga tidak berdaya untuk melawan suami Ibu. Maka setelah memastikan Tanvi aman di panti, Ibu melanjutkan tugas Ibu sebagai TKW.”


Alisha pernah memberitahu Bu Namila sudah bekerja di keluarganya sejak ia kecil.


Bu Namila yang mengasuhnya dan menjadi asisten rumah tangga.


Bahkan Bu Namila ingin terus bekerja bersama Alisha, karena sudah tidak memiliki rumah dan keluarga di Indonesia.


Bu Namila menjelaskan meninggalkan Tanvi di panti asuhan Jakarta, agar tidak ditemukan suaminya.


Karena rumah Bu Namila di daerah Tangerang.


Fal paham kenapa Tanvi tidak dapat menemukan petunjuk tentang orangtuanya.


“Lalu, apa Ibu tau ke mana suami Ibu sekarang?”


Bu Namila menggeleng. “Terakhir Ibu dengar dia ditangkap bandar judi karena hutangnya yang tidak kunjung dibayar. Ibu tidak tau lagi kabarnya.”


Fal akhirnya mengerti dan memahami keputusan Bu Namila.


Karena jika Bu Namila tidak meninggalkannya, entah bagaimana nasib Tanvi sekarang.


Bu Namila menatap Fal, penuh haru.


“Terima kasih sudah menjaga Tanvi. Ibu tidak menyangka, putri Ibu sudah menikah dan menjadi wanita seutuhnya.”


Fal tersenyum kecil.


Mungkin Tanvi tidak menceritakan awal mula mereka menikah pada ibunya.

__ADS_1


“Bu, saya minta, tolong rahasiakan hal ini dari Alisha.” Fal berkata serius. “Ibu tau sendiri bagaimana sifatnya.”


Bu Namila menatapnya aneh.


“Tapi jika Ibu boleh bertanya, apa kamu mencintai Tanvi?”


Fal terdiam sebentar dan memalingkan wajah.


“Saya merasa tidak pantas dicintai Tanvi. Karena saya terus saja menyakiti dia. Ibu lebih kenal saya, bagaimana perasaan saya pada Alisha. Sulit untuk saya menjauh dari Alisha. Tapi apapun itu, Tanvi sangat berharga untuk saya. Meski saya mencintai Tanvi, tapi saya merasa tidak bisa membahagiakannya.”


Melihat Fal galau, Bu Namila memaklumi.


“Ibu paham, Nak. Baik, Ibu akan rahasiakan ini dari Non Alisha. Meski Ibu sayang sekali sama Non Alisha yang Ibu rawat sejak kecil, tapi Ibu tidak akan mengorbankan kebahagiaan anak dan menantu Ibu. Ibu bisa merasakan, Tanvi begitu mencintai kamu, Nak. Tolong bahagiakan dia dengan cara apapun. Ibu tidak akan mengganggu keluarga kalian. Cukup Ibu tau dan Tanvi bisa menerima Ibu, tidak perlu orang lain tau.”


Fal menghela nafas lega.


“Terima kasih, Bu. Jika sudah saatnya, saya akan membantu menjelaskan pada keluarga besar. Alasan Ibu pasti bisa diterima.”


“Tidak perlu terburu-buru, Nak. Cukup kamu beri Ibu kesempatan untuk menebus kesalahan Ibu pada Tanvi. Apa boleh Ibu mengurus Tanvi selama Non Alisha pergi?”


“Saya tidak punya hak melarang seorang Ibu yang ingin bertemu anaknya. Tentu saja, kapan pun Ibu mau menemui Tanvi, saya mengizinkan.”


Bu Namila tersenyum lega.


“Tapi kalo saya boleh tau, apa ayah kandung Tanvi masih hidup?” tanya Fal membuat Bu Namila kaget.


“Saya paham Ibu takut dengan suami Ibu, saya hanya ingin tau ayah mertua saya. Saya tidak akan bertindak lebih.”


Bu Namila mendadak berkeringat dingin dan memalingkan wajah.


Fal jadi curiga. “Ada yang Ibu sembunyikan?”


Bu Namila menatap Fal, tegang, cemas, campur aduk.


“Sudah lama Ibu simpan rahasia ini, Nak. Rahasia yang Ibu sendiri tidak berani ungkap pada Tanvi. Tapi Ibu rasa, kamu bisa dipercaya, Nak.”


“Ada apa sebenarnya, Bu?” Fal makin penasaran.

__ADS_1


Begitu mendengar cerita Bu Namila, Fal menganga kaget, tidak percaya.


***


__ADS_2