Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 44


__ADS_3

“BU Namila.”


Bu Namila kaget, keranjang sayurannya sampai jatuh, melihat Tanvi sudah menunggu di depan lift.


Wajah Tanvi pucat karena kurang tidur.


Semalaman ia memikirkan semua perkataan suaminya.


Walau bagaimana pun, jika ia memang ibunya, ia harus menghormati.


Jika ibunya tidak mau merawatnya, seperti kata Fal, pasti ada alasannya.


“Nak..” Bu Namila tersenyum haru dan memeluk Tanvi yang diam saja.


“Maafkan Ibu.”


“Apa buktinya kalau aku ini anak ibu?” tanya Tanvi.


Bu Namila terkejut, namun memaklumi sikap Tanvi.


“Ada tanda lahir di punggung sebelah kiri. Benar kan?”


Air mata Tanvi bergulir turun.


Berarti benar Bu Namila ibu kandungnya.


Kembali ke apartemen, Tanvi tidak berkata apa-apa.


Bu Namila mengikutinya dengan rasa sedih.

__ADS_1


“Ibu tau kamu kecewa, Nak. Tapi ini semua bukan kemauan Ibu. Bukan mau Ibu meninggalkan kamu.”


Bu Namila mengambilkan air minum dan menuntunnya duduk di sofa.


Tanvi meneguk airnya, tetap diam.


“Ibu menikah di usia 20 tahun. Semua yang semula Ibu kira indah, hancur begitu suami Ibu mengalami kecelakaan dan lumpuh. Suami Ibu putus asa dan mencoba bunuh diri. Akhirnya Ibu menjadi TKW untuk mengumpulkan biaya operasi. Tapi Ibu khilaf, Nak. Begitu kembali ke Indonesia, semua hancur. Suami Ibu ternyata pura-pura lumpuh agar Ibu pergi mencari uang untuknya. Hutang judinya banyak. Bahkan suami Ibu menikah lagi. Semua makin parah ketika Ibu hamil. Begitu kamu lahir, suami Ibu hendak menjual kamu demi uang. Ibu tidak bisa membiarkan, makanya Ibu tinggalkan kamu di panti asuhan. Ibu berharap, ada orang baik yang merawat kamu menjadi anaknya.”


Mendengar penjelasan ibunya, Tanvi terdiam.


Haruskah ia percaya?


“Tapi sekarang Ibu kembali, Ibu ingin bertemu anak Ibu. Dan Ibu tidak menyangka, Mas Fal mantan pacar Non Alisha adalah suami kamu, Nak.”


Bu Namila menatapnya penuh sayang.


Tanvi menatap ibunya, mencoba mencari apa ibunya berkata jujur.


Bu Namila memeluknya erat, sambil mencium kepalanya.


Ya.


Mungkin ia pernah sakit hati pada ibunya.


Tapi benar kata Fal, dia hanya perlu memberi ibunya kesempatan menjelaskan, karena semua terjadi pasti ada alasannya.


Ibunya tidak membuangnya, tapi menyelamatkannya dari ayah yang mau menjualnya.


Melihat ibunya kembali datang mencarinya, membuktikan ibunya pun tidak menginginkan berpisah darinya.

__ADS_1


Apapun yang akan terjadi, ia hanya tidak ingin berpisah dari ibunya lagi.


***


“Bu Namila, dari mana sih? Belanja sayur aja lama banget!” omel Alisha begitu Bu Namila tiba.


“Maaf Non, Ibu belanja jauh soalnya supermarket deket sini sayurannya kurang lengkap.” Bu Namila beralasan.


“Kok Non sudah pulang? Ibu belum masak apa-apa.”


“Beresin koper. Lis mau tugas ke luar kota seminggu.” Alisha masuk kamar, untuk bersiap-siap.


“Baik, Non.” Bu Namila membuka lemari baju.


“Halo, Fal.” Suara Alisha cukup keras menelepon.


Bu Namila menajamkan pendengaran.


“Gue mau ke Bandung seminggu. Lo nyusul ke sana ya? Kita sekalian liburan. Apa? Nggak bisa? Ahh lo gimana sih? Lo kan pemilik perusahaan, ngapain sibuk kerja? Kasih aja kerjaan lo ke bawahan. Beres. Ahhh gue nggak mau tau, pokoknya gue tunggu di sana. Nanti gue SMS alamat hotelnya. Titik. Bye, Honey…”


Alisha menutup telepon sambil tersenyum puas.


Yakin Fal tidak akan menolak kemauannya.


Bu Namila memikirkan bagaimana perasaan Tanvi melihat suaminya masih dekat dengan Alisha.


Apalagi Tanvi sedang hamil besar.


Ini saatnya perannya sebagai seorang Ibu.

__ADS_1


Ia harus melindungi anaknya, bagaimana pun caranya.


***


__ADS_2