Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 55


__ADS_3

Alisha berhasil diselamatkan, walau kondisinya kritis.


Polisi langsung mengusut kasus ini.


Diduga suster mencurigakan yang dilihat Fal itulah pelakunya.


Fal segera menuju kantor polisi untuk bersaksi.


Polisi juga sudah menangkap pelakunya setelah CCTV depan rumah sakit merekam plat nomor mobilnya.


Ia langsung kaget melihat seseorang muncul di sana.


“Gwen?!”


Gwen menatapnya tajam, tangannya diborgol.


“Dia yang sudah menyamar jadi suster dan menyuntikkan obat pada Alisha.” Begitu kata polisi.


Sudah lama wanita cantik itu tidak muncul, Fal tidak habis pikir yang diperbuatnya.


“Lo pikir gue bisa semudah itu lupain semua perbuatan lo?” desis Gwen, yang masih tampak mempesona walau pakai baju tahanan.


“Kenapa lo mau celakain Alisha?” tanya Fal tidak habis pikir. “Lo sama sekali nggak kenal dia.”


“Alisha?” Gwen mengerutkan dahi. “Siapa itu Alisha?”


“Lo enggak usah berlagak bego. Dia udah sekarat gara-gara lo racunin.”


“Jelas-jelas gue racunin Tanvi, gue nggak kenal Alisha.”


Alis Fal bertaut.


Apa maksud…?


Ooohhh….


"Gue ngerti sekarang. Lo mau celakain Tanvi?”


Gwen angkat bahu sambil mencibir.


“Iya sih, tapi kayaknya gue salah sasaran. Lagian, waktu itu gelap. Gue mana liat siapa yang tidur di kasur atas nama istri lo itu.”


Jelas akhirnya.


Sasaran Gwen sebenarnya adalah Tanvi.

__ADS_1


Dan Alisha berniat ingin mengejutkan Fal dengan berbaring di kasur Tanvi.


Pada akhirnya Gwen mengira itu Tanvi dan melaksanakan niat jahatnya tanpa melihat siapa korbannya.


Entah Fal harus bersyukur apa tidak.


Tanvi terhindar dari bahaya, tapi Alisha yang terkena imbasnya.


Sungguh Fal tidak terpikir ini akan terjadi.


Gwen masih menyimpan dendam padanya.


Hingga Gwen digiring kembali ke sel, Fal termenung.


Memikirkan bagaimana jika Tanvi tahu.


Pasti Tanvi terpukul dan menyalahkan dirinya sudah menyebabkan Alisha celaka.


***


Meski sudah melewati masa kritis, Alisha mengalami kelumpuhan.


Dia bahkan tidak ingat bagaimana bisa ia ada di kamar Tanvi kala itu.


Alisha hanya mengira Fal akan langsung memeluknya yang dikira Tanvi.


Papa Malik yang mengetahui ini merasa bersalah tidak menjaga Alisha.


Fal merahasiakan perihal Gwen dari Tanvi, demi menjaga perasaannya.


Setelah Tanvi keluar dari rumah sakit, Papa Malik mengajaknya bertemu berdua saja.


“Maafkan Papa, Nak. Ini semua salah Papa. Kalau Papa tau dari awal, Papa tidak akan izinkan Alisha berhubungan lagi dengan Fal.”


Tanvi tersenyum pahit.


“Kak Fal dan Alisha udah kenal jauh sebelum kami menikah. Aku ngerti perasaannya Alisha. Tapi aku tetap menghormati keputusan suamiku. Kami sudah punya anak. Sudah banyak yang kami lalui. Meski ini kesalahan Kak Fal, tapi aku punya kewajiban untuk setia pada suamiku.”


“Papa tau, Nak. Papa tidak berharap kamu mengikuti mau Alisha. Papa juga minta maaf, atas apa yang terjadi dengan Bu Namila. Papa tidak bisa menjanjikan apa-apa.”


Tanvi mengerti betul arah pembicaraan Papanya.


Jelas.


Papa dan ibunya terlibat hubungan gelap di masa lalu.

__ADS_1


Pasti Papanya berpikir apa yang dapat memperbaikinya.


“Pa, aku cukup bahagia mengetahui yang sebenarnya. Sekarang yang terpenting, kondisi Alisha, Pa. Bagaimanapun juga dia tetap kakakku, aku nggak mau liat dia menderita. Meski aku sendiri bingung harus melakukan apa.”


Papa Malik memegang tangan Tanvi.


“Papa akan perbaiki semua. Papa akan bawa Alisha pergi dari sini. Suasana baru, dan situasi yang jauh dari kenangan yang ingin dia lupakan. Papa berharap, suatu saat Papa diberi kesempatan bertemu lagi dengan kamu, Fal, dan cucu Papa.”


Mata Tanvi mulai memanas.


“Apapun keputusan Papa, aku yakin ini yang terbaik untuk Alisha.”


Papa Malik mengeluarkan amplop besar dan memberikannya.


“Apa ini, Pa?”


“Kamu bisa lihat sendiri.”


Penasaran Tanvi membuka amplop.


Surat wasiat.


Matanya membulat melihat nama ahli waris.


“Papa tau, kamu pasti menolak menjadi ahli waris Papa. Demi menjaga perasaan Alisha. Tapi Papa sudah tua, Nak. Papa tidak tau apa yang akan terjadi. Maka dari itu, Papa mewariskan setengah kekayaan Papa untuk cucu Papa, Fades.”


Tanvi terdiam membaca isi surat wasiat, yang mana Fades mewarisi harta Papa milyaran.


Papa Malik mengelus kepalanya.


“Papa harap, kamu bisa menerima ini. Dan Papa tidak akan lelah menunggu pertemuan kita selanjutnya, entah berapa tahun lagi.”


Tanvi menggeleng dan tersenyum.


“Kapanpun Papa ingin, kita bisa bertemu tanpa menunggu bertahun-tahun. Bagaimanapun juga, Papa tetap Papa. Aku harap, suatu saat Alisha bisa membuka hati menerimaku sebagai adiknya.”


“Tentu, Nak. Papa akan selalu bujuk Alisha. Dan Papa akan berusaha agar kalian bisa akur.”


Papa Malik meraih Tanvi dalam pelukannya.


Pelukan yang hangat seorang ayah.


Air mata Tanvi menetes di ujung mata.


Buru-buru dihapusnya.

__ADS_1


Ia tidak ingin Papa Malik sedih jika dia menangis. Mungkin ini yang terbaik.


***


__ADS_2