
ATAS berbagai pertimbangan, Tanvi mengundurkan diri dari perusahaan.
Ia ingin fokus dengan kehamilannya.
Karena sejak kejadian di rumah Pak Hendra, kondisinya melemah.
Fal tidak mau ambil resiko dan memintanya berhenti bekerja.
Biar fokus urus rumah tangga saja.
Dan Fal menjamin untuk adik-adik panti akan mendapat pendidikan yang memadai, karena itu tujuan Tanvi bekerja, hanya untuk kelangsungan panti.
Kabar lainnya lagi, teman-teman timnya, Melly, Sekar, Andri, dan Oji, sudah tahu rekan mereka ternyata menantu pemilik perusahaan.
Karena Fal sendiri yang memberitahu Tanvi akan resign dikarenakan hamil muda.
Langsung saja mereka meminta diadakan farewell party sehingga Tanvi mengundang mereka ke apartemen, sekaligus bertemu Fal sebagai suaminya.
Setelah Daniel dipecat dengan tidak hormat, Melly diangkat menjadi kepala tim karena kinerjanya yang paling baik.
Mereka merasa kehilangan ketika Tanvi mengundurkan diri, namun mendukung keputusannya.
Surprise juga begitu mereka tahu rekan mereka adalah istri dari atasan.
Hubungan Fal dan Tanvi pun semakin erat.
Seperti pagi ini…
“Selamat pagi, cinta.”
Tanvi membuka mata dan tersenyum.
“Selamat pagi.”
Fal memandangnya penuh sayang.
“Cantik banget ya istriku apalagi baru bangun tidur.”
“Gombal.”
Tanvi menggeliat menarik tangannya dan melemaskan otot-ototnya.
Tiba-tiba Fal nyosor cium keningnya.
“I love you.”
Pipi Tanvi memerah.
“Romantis atau ngegombal ini?”
“Mulai sekarang, setiap kamu mau tidur, dan ketika kamu bangun, aku akan ucapkan hal yang sama. I love you.”
Tanvi tersenyum malu.
Fal berubah menjadi romantis.
“Oh ya aku udah siapin sandwich buat sarapan.”
“Aku maunya nasi goreng.”
“Belum boleh. Itu berminyak. Dokter bilang, kamu kekurangan vitamin C. Jadi aku wajib kasih makanan yang seimbang. Nanti kalo kondisi kamu udah lebih baik, aku masakin nasi goreng ala Fally dari Inggris pokoknya.”
“Bener ya mau masak buat aku?”
“Iya, tapi sekarang sandwich-nya dimakan lho. Mau aku bawain ke sini?”
“Enggak usah, aku makan di meja aja. Lagian tiduran terus badanku pegel.”
“Ya udah, yuk kita makan.”
Fal hati-hati membantu Tanvi turun dari tempat tidur.
Perhatian Fal membuat Tanvi merasa amat dimanja.
__ADS_1
“Aku baru tau Kak Fal bisa masak?”
Tanvi duduk dan mencicipi sandwich-nya.
Fal duduk di sampingnya.
“Buat kamu, aku bisa apa aja.”
Tanvi makan lahap.
“Eh Kak Fal nggak kerja? Udah mau jam 7 ini. Aku siapin bajunya dulu ya.”
Tanvi berdiri namun ditahan Fal.
“Aku di sini aja nemenin kamu.”
“Gimana kerjaan Kakak di kantor?”
“Hmmm…” Fal mendelik jahil. “Kalo kita jauh, ntar aku kangen.”
“Iiiihhh Kak Fal kok godain terus siiihh?” Tanvi malu.
Fal tertawa kecil. “Kapan jadinya check-up kandungan?”
“Nanti siang. Kak Fal mau anterin?”
“Iya dong. Aku kan harus tau perkembangan anakku.”
Tanvi lega Fal sudah mengakui anaknya.
Setidaknya satu bebannya berkurang.
“Oh ya tadi Mama nelepon, minta kita tinggal di rumah.”
“Trus Kak Fal jawab apa?”
Fal mengerucutkan bibirnya lucu.
“Nggak mau. Kalo di rumah, ntar kita nggak bebas berduaan.”
“Tapi kita belum bulan madu.”
“Ehhh inget lho ada Fally kecil di perut aku.”
“Ya udah, kita bulan madu sekarang aja,” kata Fal nakal, tangannya membelai tangan Tanvi lembut.
Tanvi jadi grogi. “Apaan sih.”
Ia meminum jusnya.
“Mau nggak?” goda Fal.
“Ah tau ahh!”
Tanvi masuk kamar dengan wajah merah.
Fal geleng-geleng kepala, geli.
“Kodenya jelas.”
Ia beranjak mau masuk kamar.
Ketika tiba-tiba HP-nya berbunyi.
Ia berdecak malas.
“Duuuuh si Ares nggak tau timing banget sih!” gerutunya sambil menjawab. “Halo?!”
“Weitttss kenapa nie sewot amat gue telepon? Lagi kerja lo?”
“Menurut lo? Gue lagi mau kerjain istri gue. Jangan ganggu deh lo!”
“Cieeee… makin lengket aja.”
__ADS_1
“Berisik lo! Kalo nggak penting gue beri juga ya lo! Nggak pengertian amat.”
“Weittss santai… ntar gue telepon lagi deh. Yang ada lo makin sewot kalo kelamaan bikin istri lo nungguin.”
“Nah lo ngerti! Udah ya! Bye.”
Klik.
HP-nya bunyi lagi.
Dia makin sewot.
Baru mau dijawab, sudah terputus.
Lalu ada pesan masuk.
Ia tertegun.
“Alisha?” Ia mengerutkan kening.
“Dia ada di Jakarta?”
Alisha mengirim pesan baru check in di hotel dan memintanya menyusul.
Godaan baru menyusup di hatinya.
Membuat kepalanya makin pusing.
Aneh, biasanya dia tidak bisa menolak kemauan Alisha.
Tapi kali ini ada tembok besar yang menghalanginya.
Namun tidak bisa dipungkiri wanita itu masih ada di hatinya.
5 tahun mereka berhubungan, jelas tidak mudah melupakan begitu saja.
“Kak Fal?”
Fal kaget dan menoleh.
Tanvi berdiri di depan pintu kamar menatapnya aneh.
“Telepon dari siapa?”
“Dari kantor. Banyak pekerjaan yang harus aku selesein.”
Fal terpaksa berbohong.
“Jadi?”
“Aku pergi sebentar ya.”
Tanvi mengangguk dan masuk kamar penyimpanan menyiapkan baju Fal.
Fal memandanginya dengan hati gamang.
Dilema antara tetap bersama istrinya, atau menemui Alisha.
Ia memasuki kamar penyimpanan dan melihat wajah kecewa Tanvi.
“Aku nggak lama kok,” sahut Fal membuat Tanvi menoleh sekilas.
“Nggak pa-pa, aku bisa sendiri ke dokter.”
Fal jadi merasa bersalah. Tapi ia tidak bisa mengabaikan Alisha juga.
“Gini aja, aku bakal minta Ares nganter kamu. Biar kamu nggak perlu naik taksi.”
“Tapi…”
“Ayo dong, aku nggak akan tenang kerja kalo kamu sendirian.”
Tanvi tersenyum. “Iya gimana Kak Fal aja.”
__ADS_1
Fal menghela nafas lega, dan mengeluarkan HP menghubungi sahabatnya.
***