
Semalaman Fal memikirkan segala yang dikatakan Tanvi.
Istrinya begitu tertekan karenanya.
Memikirkan itu membuatnya gelisah.
Selama masalah Gwen belum ada solusinya, bagaimana ia bisa tenang?
Ia keluar kamar dan tertegun melihat apartemen sepi.
Ke mana Tanvi?
Ada sepiring nasi goreng dan teh hangat di meja.
Dari aromanya sama persis yang dengan yang dimakannya di kantor.
Sungguh ia merindukan masakan istrinya.
Ia mengedarkan pandangan dan mendapati Tanvi sedang duduk di kursi beranda menikmati angin sepoi-sepoi.
Perlahan Fal mendekati dan memperhatikan Tanvi.
Tanvi memandangi foto hasil USG-nya.
Janinnya dinyatakan sehat dan mulai membentuk tangan dan kaki.
Air matanya menetes sambil mengelus perutnya.
“Maafin Ibu ya, Sayang. Ibu tidak bisa meyakinkan Ayah kamu. Sejujurnya, Ibu nggak mau kamu mengalami nasib yang sama dengan Ibu. Ibu tidak tahu siapa orangtua Ibu. Dan apa alasan mereka tidak mau merawat Ibu. Tapi Ibu tidak akan melakukan itu, Nak. Ibu akan jaga kamu. Ibu akan menyayangi kamu sepenuh hati. Dan Ibu minta maaf jika begitu kamu lahir, Ayah sudah meninggalkan kita. Ibu sangat mencintai Ayah kamu. Makanya Ibu mau Ayah bahagia. Kalau Ayah tidak bahagia dengan kehadiran kita, Ibu ikhlas jika Ayah pergi. Kebahagiaan Ayah kamu adalah kebahagiaan Ibu juga, walau harus mengorbankan perasaan Ibu sendiri.”
Hati Fal sakit mendengarnya.
Jantungnya terasa terhimpit batu besar, dan sulit berdetak lagi.
*Enggak! Gue nggak bisa kehilangan Tanvi! Gue cinta sama dia! Dia harus tau itu!*
Baru saja hendak mendekat, bel berbunyi membuatnya tersentak.
Tanvi juga menoleh dan kaget Fal ada di belakangnya.
Fal bergegas ke pintu.
Security apartemen yang datang.
“Pak Fally, wanita yang membuat keributan di sini, sekarang ada di lantai bawah. Kami sudah berusaha mengusirnya, namun dia mengancam akan lapor polisi. Dia ingin bertemu Bapak. Kami harus bagaimana?”
“Mau apa lagi si Gwen?” keluh Fal.
“Suruh dia naik saja, Pak.”
Tiba-tiba Tanvi mendekat, membuat Fal kaget.
Begitu security pergi, Fal menatapnya tajam.
__ADS_1
“Maksud kamu apa suruh dia ke sini?”
Tanvi tersenyum asam.
“Biar semua selesai. Kalau memang Kakak ingin kita pisah, aku akan lakuin. Aku nggak mau Kak Fal terus-terusan terancam oleh Gwen. Udah kewajiban aku jaga Kak Fal supaya selalu aman.”
Fal menggeleng dan memegang kepala Tanvi.
“Tolong jangan bilang begitu. Aku nggak mau kita pisah.”
“Kak, aku nggak mau Kak Fal menderita karena memaksakan hidup sama aku. Gwen pasti datang untuk memastikan aku sudah tandatangan surat kesepakatan ini. Setelah ini selesai, aku akan pergi dari sini.”
Sumpah!
Bukan ini yang Fal inginkan!
Dulu memang ia tidak menyukai istrinya, dan tergila-gila pada Gwen.
Tapi kini, Tanvi adalah cinta matinya.
Dia tidak ingin kehilangan istrinya, apapun yang terjadi.
Namun Tanvi terlanjur sakit hati hingga menyetujui untuk berpisah, bahkan sebelum bayinya lahir.
Begitu muncul Gwen, wanita itu terlihat sedikit teler.
“Kalo lo abis mabuk, ngapain dateng ke sini?” tanya Fal ketus.
“Cukup! Lo nggak bisa ngancem gue terus!”
“Ngancem? Lo salah. Gue mau bilang, cuma gue yang bisa bahagiain lo. Gue selalu siap ngelayanin lo. Itu kan yang nggak lo dapat dari istri lo ini. Sekarang mending suruh dia tanda tangan suratnya, dan pergi dari sini.”
Tanpa bicara, Tanvi masuk kamar dan mengambil surat yang dimaksud.
HP Fal bergetar.
Ada whatsapp dari Farhan.
#Lo udah aman, rekaman video itu udah dihapus. Lo nggak perlu takut dia ngancem lo lagi.#
“Buruan dong! Lelet amat sih, gue enek liat lo deket Fal terus!” bentak Gwen.
Kesal melihat Tanvi memandangi isi surat dan memegang pulpen dengan tangan bergetar.
Air matanya menetes membasahi kertas.
“Ahhh lama banget sih! Tinggal tanda tangan doank!”
Tanvi menggoreskan pena dengan hati terluka.
Tiba-tiba Fal merebut kertas itu.
“Fal! Lo apa-apaan sih?” Gwen kaget.
__ADS_1
Tanvi menatapnya tidak percaya.
Di depan mereka berdua, Fal merobek-robek kertas dan melemparnya ke lantai.
“Gue nggak akan cerai sama Tanvi! Lakuin apapun yang lo mau, tapi gue nggak akan tinggalin dia.”
“Lo nggak nyadar kata-kata lo?”
“Gue sadar sesadar-sadarnya,” tegas Fal.
“Oke. Kalo gitu gue bakal kirim video kita ke keluarga lo.”
Gwen mengeluarkan HP-nya.
Fal memeluk bahu Tanvi.
“Semua bakal baik-baik aja.”
Tanvi takut Gwen nekat.
“Lho? Kok HP gue jadi gini?” Gwen kaget HP-nya tidak ada data.
“Videonya udah kehapus karena HP lo udah di-reset ulang. Lo nggak bisa ngancem gue lagi.”
Bahu Gwen berguncang, wajahnya memerah menahan marah.
“Lo br*ngsekkkkkk!!!”
Gwen mengambil vas bunga dan melemparnya ke arah Tanvi.
Spontan Fal menarik Tanvi menghindar.
Beberapa security menerobos masuk dan membawa Gwen keluar apartemen.
“Lepasin gue! Faalllll… lo harus tanggung jawab!!”
Begitu Gwen pergi, tangis Tanvi pecah.
“Aku nggak mau Kak Fal cuma kasihan. Mana bisa aku maksain kemauanku kalau itu bikin Kakak menderita.”
“Aku nggak mau kehilangan kamu!”
Fal memeluk Tanvi dengan hati hancur.
“Maafin aku, Tanvi. Maaf. Maaf atas semuanya. Aku sayang kamu.”
Dalam pelukan Fal, Tanvi meluapkan tangisnya karena tidak menyangka Fal berkata begitu.
“Aku juga sayang sama Kak Fal.”
Fal mempererat pelukannya, tidak ingin melepasnya lagi.
***
__ADS_1