
Felisyah.
Hari ini adalah 1 minggu setelah kesadaranku pulih. Dan aku sudah diperbolehkan untk pulang. Aku bahagia. Karna selama aku dirumah sakit. Mas fatih tidak pernah ninggaling aku. Paling tidak dia pulang hanya untuk mandi dan ganti baju. Kulihat wajahnya sudah agak berantakan dengan rambut yg mulai panjang dan kumis yg mulai tumbuh tipis. Aku tersenyum menatap suamiku. Dia slalu ada untkku.
" kamu masih betah disini terus???" Tanya mas fatih. Yg langsung kujawab dengan gelengan kepala. Memangnya siapa yg betah tidur terus apalagi di rumah sakit. Pikirku.
" Kalau begitu ayo kita segera pulang sayaaang. Apalagi yg kau lihat." Sontak pipiku terasa memanas mendengar kata ' sayang ' yg batu saja mas fatih ucapkan. Belum sempat kujawab. Tiba" mas fatih mencium pipiku yg memerah.
" jangan tersipu begitu saat ada disini lis. Tempat ini tidak aman." Ucap mas fatih ditelingaku. Bukannya mereda. Malah pipiku bertambah panas. Aku langsung menutup wajahku.
Ku dengar mas fatih tertawa meski sedikit di tahan. Menyebalkan. Pikirku. Namun tk ayal ttp saja itu membuat ku bahagia. Aku langsung ngeloyor pergi ninggalin mas fatih.
__ADS_1
" Dek. Tungguin mas. Kamu belum sehat betul." Ucap mas fatih yg telah menyusulku. Dan menggenggam tanganku.
Sampai rumah aku langsung disambut oleh abi. Umi dan juga 2 sahabat bawelku. Pertama umi langsung memelukku. Setelah itu aku diantar oleh Rani dan icha menuju kamarku. Sedangkan mas fatih dan abi umi membicarakan kesehatanku. Sampai dikamar. Mereka langsung memelukku sangat erak sampai rasanya aku sulit bernafas.
" Rrraaann.. cchhaaaa. Lepasin dong. Ssaakit tau." Ucapku terbata. Mereka langsung melepas pelukan mreka. Dan Icha yg terkenal bawel dan paling polos itu menangis.
" chaa. Kamu kenapa. Aku nggak ppa koq. Tidak terlalu sakit. Pelukanku kamu sangat nyaman. Sungguuh cha...." ucapku berusaha menenangkan icha yg sesenggukan.
Aku nggak nyangka. Bahwa icha yg paling polos. Bisa ngomong kayak gitu. Aku terharu. Meski belum ada satu tahun bersahabat tapi mereka begitu mengkhawatirkanku. Aku langsung memeluk meraka. Kami menangis bersama. ' Begitu kuat persahabatan ini tuhaaan. Terima kasih. Karna selain engkau memberi ku ayah bunda dan suami yg sangat menyayangiku. Engkau juga memberiku 2 sahabat terbaik yg pernah ada.' Batinku.
__ADS_1
" makasi karna sudah mengkhawatirkan aku, makasih juga karna mau jadi sahabat aku. Aku nggak akan pernah melupakan kalian. Sampai kalian nikah juga. Punya keluarga. Ttp jangan lupakan aku " ucapku sambil memeluk mereka berdua.
" iya iya. Gimanapun kamu udah aku anggap saudara lis. " jawab rani.
" aku gimana??. Aku juga kan??? Aku juga udah anggep kamu sama kamu saudara aku Ran, Lis. " ucap icha melas..
" kalok kamu sih aku pikir\-pikir dulu ya cha. Soalnya kamu agak mengkhawatirkan. " jawab rani.
Karna icha terlalu polos, dia ngira rani serius. Hingga icha nunduk dan nangis. Yang ngomong malah ketawa tertahan. Alhasil kucubit rani karna kasian sama icha yg digoda terus.
" aduuudududuuuuuuhhh. Sakit lis" ucap rani.
__ADS_1
"kasian tuh. Udah kayak kucing hilang" jawabku sambil tersenyum.
" iya iya dehhh. Icha udah kayak saudara aku juga. Tadi kan cuma bercanda. Walaupun kamu bawel. Polos. Berisik. Kamu tetep saudara aku juga. " jawab rani sambil memeluk icha. Otomatis aku juga meluk mereka berdua. Yang dipeluk malah nambah sesenggukan.