
“Tanvi, kamu sudah siap?”
Tanvi tersentak dari lamunannya, dan bergegas membereskan berkas.
“Sudah, Mas.”
Mata Daniel menyipit memperhatikan penampilannya.
“Melly, Sekar, bisa dandanin Tanvi. Kami mau ketemu klien, dan penampilannya agak pucat.”
Meski kurang suka, Sekar dan Melly menurut.
Padahal menurut mereka, dandanan Tanvi tidak ada yang salah.
Natural dan tidak berlebihan.
Tanvi diam saja ketika Sekar menyisiri rambutnya dan diberi jepit rambut dekat pelipisnya.
“Tuh kan udah gue bilang. Lo hati-hati,” bisiknya.
Melly memoles bedak tipis di wajah Tanvi dan memberi sedikit lipstick warna terang.
“Udah, Mas.”
Daniel mengamatinya dan belum puas.
“Ngg rok kamu bisa dinaikkin sedikit nggak?” tanyanya membuat mereka kaget.
“Apa?”
“Biar nggak keliatan kaku aja. Klien kita suka perempuan yang agak seksi.”
Perkataan Daniel membuat Tanvi geram.
__ADS_1
“Saya mau kerja, bukan mau macem-macem.”
“Lho ini cuma untuk menyenangkan klien kita aja. Kalau deal, kita bisa memenuhi target penjualan lho.”
“Tapi kan nggak perlu dengan cara begitu.”
“Eh kamu tuh jangan sok ngajarin saya. Kamu itu anak baru. Saya ini senior kamu, dan saya kepala tim di sini. Kamu harus menuruti saya. Ayo, cepat. 5 menit lagi kita berangkat.” Daniel ngeloyor keluar ruangan.
Tanvi mendengus pelan.
“Udah, turutin aja, Vi.” Oji menyahut dari balik laptop. “Daripada lo kena masalah baru.”
“Iya, kepala tim kita emang rada-rada. Tapi mau gimana? Namanya juga kita bawahan,” sahut Andri yang juga sibuk dengan berkas-berkas.
“Ya tapi aku nggak suka caranya.” Tanvi kesal.
“Ya udah lo jangan bete gitu. Jalan gih, dari pada dia makin marah,” hibur Sekar.
“Iya, Vi. Pokoknya kalo dia macem-macem, jangan takut ngelawan,” tambah Melly.
Sejujurnya dia risih bukan main.
Tapi mau bagaimana lagi.
Ribut sama atasan jelas nggak recommended di hari pertama nya kerja.
Sambil membawa berkas-berkas, ia ke luar ruangan.
“Eh, Mel, tapi ada yang aneh deh,” kata Sekar bingung.
“Aneh apaan?”
“Dia kan baru di sini. Tapi kok dia tau yang nolong dia tadi tu Pak Farhan? Padahal kita belum bilang apa-apa.”
__ADS_1
Melly baru ngeh. “Iya ya, Pak Farhan juga kayak care gitu sama dia.”
“Jangankan Pak Farhan, gue aja care sama cewek secantik Tanvi,” celetuk Andri bikin mereka sebel.
“Enggak usah ikutan obrolan cewek deh!”
“Iya nih, sana pada lanjutin kerja!” Sekar belum puas menduga-duga.
“Pak Fal juga, selama di sini sama kita aja cuek. Sama Tanvi yang baru hari pertama udah ditanya.”
“Saudaranya kali.”
“Mungkin.”
***
Sebagai junior, entah ini perpeloncoan atau apalah. Daniel memberinya banyak tugas tanpa mengarahkannya.
Mungkin karena ketika bertemu klien barusan, Tanvi menghindar dari klien yang berusaha mendekatinya.
Daniel meminta Tanvi lebih agresif dan tampil agak seksi agar dapat klien lebih banyak.
Sejujurnya dia kurang suka gaya kerja Daniel.
Tapi sebagai karyawan baru sebaiknya dia tidak banyak mengeluh.
Jadilah begitu pulang ia hanya sempat mandi, langsung duduk di ruang TV sambil mengerjakan materi persentasi dan input data penjualan yang belum terlalu dipahaminya.
Sudah hampir jam 10, tapi pekerjaannya belum selesai.
Dia sudah mengantuk.
Tubuhnya lelah bekerja seharian.
__ADS_1
Akhirnya ia tertidur di sofa.
***