
Malam itu juga Fal dan Farhan menuju panti.
Barusan Dena mengabarkan ada hal penting tentang Tanvi.
“Dena, apa bener yang lo bilang? Ibu kandung Tanvi datang ke sini?”
Fal memastikan informasi yang didengarnya.
Dena mengangguk. “Iya, Kak. Barusan ada ibu-ibu datang nanya tentang bayi yang dia tinggalin 24 tahun yang lalu. Kami menduga itu Tanvi. Karena cuma dia yang ditinggal di panti pada tahun-tahun itu.”
“Kami nggak berani bilang sama Tanvi. Karena dia pasti terpukul kalau tau ibu yang udah ninggalin dia tiba-tiba datang lagi.” Indah menambahkan.
“Kalian yakin yang dicari itu Tanvi?” tanya Fal memastikan.
“Yakin, Kak. Tanggal dan waktunya persis yang kami tau waktu Tanvi ditinggal di sini. Tapi kami nggak tanya lebih jauh. Soalnya kami kaget, dia tiba-tiba datang tanya anaknya.”
“Kalian tau alamat rumah orang itu?” tanya Farhan.
“Barusan dia ninggalin nomor telepon. Dia minta dikabari jika anaknya sudah ditemukan. Karena kami bilang tidak tahu anak yang dia maksud. Ini nomornya, Kak.”
Fal dan Farhan melihat sederet nomor, dan saling pandang.
“Dena, Indah, gue minta kalian rahasiain ini dari Tanvi. Jangan sampe dia tau. Gue sama Farhan bakal selidiki orang ini. Kalo dia datang ke sini lagi, kalian langsung hubungin gue. Paham?”
Dena dan Indah mengangguk bersamaan.
***
Perihal ibu kandung Tanvi yang mencarinya diselidiki oleh Fal.
Fal tahu betul Tanvi amat sakit hati pada orangtua yang membuangnya.
__ADS_1
Sebisa mungkin Fal menutupi kegundahannya.
Minggu pagi, Fal berniat menemui orang itu.
Tanvi yang baru bangun menatap suaminya yang sudah rapi.
“Kak Fal, mau ke mana pagi-pagi begini?”
“Ngg aku ada urusan.” Fal merapikan kemejanya dan menyemprot parfum.
Tanvi terdiam sedih.
Sejak kemarin dia mendengar suara perempuan di telepon, Fal belum menjelaskan apa-apa.
Fal menyadari air muka istrinya berubah, lalu mendekatinya.
“Tanvi, mungkin aku bukan suami yang baik. Karena aku belum tau cara membahagiakan kamu. Tapi aku harap, kamu sabar menunggu. Sebelum kita ketemu, ada banyak masalah. Terutama Alisha. Kamu udah denger kan tentang dia. Jadi, aku harap kamu ngerti. Aku akan selesaikan masalahku dengan Alisha. Dan aku ingin, kamu dan bayi kita sehat selalu.”
“Apa Kak Fal masih cinta sama Alisha?” tanya Tanvi menunduk.
“Sejujurnya aku belum bisa lupain dia.”
Air mata Tanvi bergulir turun membuat Fal kaget.
“Tanvi, please, aku nggak mau bikin kamu sedih.” Fal memegang kepala Tanvi. “Aku udah tau perihal kehamilan kamu. Jadi tolong, kamu jangan banyak stress. Tapi aku minta waktu, untuk memberi pengertian pada Alisha supaya ninggalin aku seterusnya.”
Fal khawatir kandungan Tanvi terganggu, informasi dari Ares bahwa kandungan Tanvi melemah, menyebabkan sulit melahirkan normal.
“Kakak yakin ingin berpisah dari Alisha?” pertanyaan Tanvi membuat Fal terasa tercekik.
“Kakak nggak bisa jawab kan?”
__ADS_1
“Tanvi…” Fal memeluk Tanvi dengan perasaan bersalah.
Tanvi membalas pelukan Fal sambil terisak.
Fal mencium kening Tanvi.
“Kamu jangan banyak pikiran. Pokoknya rileks aja. Oh ya kemarin kamu udah daftar senam hamil kan? Perlu aku temenin.”
“Enggak usah, Kak. Aku ditemenin sama Melly dan Sekar.” Tanvi berusaha rileks.
“Buang jauh-jauh pikiran buruk. Aku butuh dukungan kamu, untuk selesaikan masalahku.”
Tanvi menghapus air matanya.
“Aku selalu dukung suamiku. Udah kewajiban istri untuk patuh pada suami.”
Fal tersenyum lega dan merengkuh bahu Tanvi.
“Aku pergi dulu ya. Nanti kamu mau dibawain apa?”
“Apa aja. Yang seger-seger.”
“Oke. Untuk istri dan anakku, aku bawain yang istimewa pokoknya.”
Fal mengelus perut Tanvi dan mencium perutnya penuh sayang.
“Papa pergi dulu ya, Nak. Jangan nendang-nendang terus kasian kan Mama.”
Tanvi tersenyum haru dan mengelus pipi Fal.
Fal keluar kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
“Gue harus tau siapa ibu kandung Tanvi dan alasan dia tinggalin Tanvi.”
***