
Hampir tengah malam.
Pintu apartemen terbuka.
Fal baru pulang habis berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.
Melihat Tanvi tidur di sofa, ia mendengus. “Bandel lagi kan. Giliran sakit ntar gue yang ditegor sama Mama gara-gara nggak dijagain.”
Fal masuk kamar dan keluar membawa selimut.
Hati-hati ia menyelimuti Tanvi.
Gadis itu menggeliat mengubah posisi tidurnya.
Ia terdiam memandangi wajah polos Tanvi ketika tidur.
Begitu bersih, dan manis dipandang.
Jantungnya malah deg-degan.
Ia tersentak dan geleng-geleng kepala.
“Apaan sih lo? Jangan aneh-aneh deh,” rutuknya pada diri sendiri.
Matanya tertuju ke laptop dan berkas-berkas yang menumpuk di meja.
Ia memeriksa satu per satu.
“Gila bener ni atasannya. Baru hari pertama kerja, udah dikasih segini banyaknya. Mana lah dia kuat.”
Fal memeriksa laptop dan melihatnya yang tertidur pulas kelelahan.
***
Alarm HP berbunyi keras membangunkan Tanvi sampai terguling dari sofa.
“Hah?! Udah jam berapa nih?!” ia langsung panik.
Namun begitu melihat baru jam 05.30, ia menghela nafas lega.
Sempat heran dia memakai selimut, padahal seingatnya semalam dia tertidur pas lagi….
“Lho! Kerjaanku kan belum kelar!” ia langsung grabag-grubug membereskan berkas.
“Duuuhh mana pagi ini ada meeting. Bisa-bisa dimarahin sama Mas Daniel,” keluhnya sambil menyalakan laptop.
Ia tertegun tidak percaya.
“Ini? Kok udah selesai? Bahan persentasi, sama input data udah semua beres. Perasaan kemarin baru aku kerjain setengah deh.” Ia makin bingung.
Nggak mungkin kan dia ngelindur ngerjain semua dengan rapi begini?
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Fal masih dengan wajah bangun tidurnya, menenteng handuk dan masuk kamar mandi.
Ia mengerutkan kening.
“Jangan-jangan Kak Fal yang kerjain ini semua? Dia kan udah paham banget. Ternyata dia baik juga.”
Tanpa buang waktu, ia bergegas masuk kamar penyimpanan dan memilih baju kerja untuk Fal.
Celana pantalon hitam, kemeja merah marun, dasi hitam bordir merah. Ia menyusunnya rapi di tempat tidur.
Habis itu ia menyemir sepatu Fal hingga mengkilap.
Tak lupa tas kerjanya dan kunci mobil, karena Fal suka lupa menyimpan kunci mobil di mana saja.
Sambil menunggu Fal selesai, ia ke dapur mau membuatkan sarapan.
Meski suaminya jarang mau makan masakannya. Tapi ia sudah berjanji akan menjadi istri yang baik dengan mengurus suaminya.
Hitung-hitung juga sebagai ucapan terima kasih sudah membantu pekerjaannya.
Tak lama kemudian, Fal keluar kamar. Sudah rapi.
Wangi parfumnya merebak beraroma maskulin.
Fal menuju meja makan dan meminum susu yang sudah disediakan.
Muncul Tanvi dari dapur. “Kak, sarapan dulu?”
“Ngg Kak…” sergah Tanvi membuatnya menoleh.
“Ada apa?”
Tangan Tanvi terulur memperbaiki posisi dasi Fal.
“Makasih udah bantuin kerjaan aku. Kalo belum selesai, bisa-bisa aku kena marah. Padahal ini baru hari kedua aku kerja.”
Fal tersenyum tipis. “Sama-sama. Oh ya, kamu masih ada uang?”
Tanvi menggeleng.
Tanpa basa-basi, Fal mengeluarkan uang dari dompet. “Satu juta cukup?”
Mata Tanvi menyipit. “Kebanyakan, Kak.”
“Simpen aja.” Fal berbalik namun Tanvi menahannya. “Ada apa lagi? Aku buru-buru nih.”
Tanvi meraih tangan Fal dan mencium tangannya.
Fal terpana sejenak, lalu tersadar dan bergegas pergi.
Tanvi cemberut dan berbalik ke dapur.
__ADS_1
Padahal dia sudah masak nasi goreng spesial untuk Fal.
Semula ia berharap bisa sarapan bersama. Tapi begitu suaminya pergi, dia jadi tidak nafsu makan.
“Oh iya, mending aku bawa ke kantor. Siapa tau Kak Fal mau makan.”
Tanvi bergegas menyiapkan kotak makanan.
Setelah beres, ia bersiap-siap ke kantor.
***
“Selamat pagi, Pak.”
Para karyawan menyambut sang manajer.
“Selamat pagi.” Fal menuju ruangannya.
Dia terlambat karena mengantar Gwen ke butik.
Maya, sekretarisnya, memasuki ruangan membawa beberapa dokumen yang harus ditandatangani.
“Bapak belum makan?” tanya Maya melihatnya pucat.
Fal membuka map dan membacanya sekilas.
“Iya, saya belum sempat sarapan.”
“Mau saya pesankan makanan?”
Tangan Fal gemetar, karena dia memang lapar.
Ia menutup map.
“Ya. Saya nggak fokus kerja kalo begini.”
Maya keluar dan menyuruh OB memesan makanan.
Tanvi yang sejak tadi mengintai Fal, sudah tahu kalau suaminya lapar.
Ia memanggil OB yang disuruh Maya, dan berbicara sesuatu.
“Pak, ini pesanannya.” OB masuk ruangan membawakan sepiring nasi goreng dan teh hangat.
“Cepat juga.” Fal segera duduk dan menyantap makanannya.
Begitu OB keluar, Tanvi mengajaknya bicara diam-diam. “Jangan kasih tau Pak Fally itu nasi goreng dari saya.”
“Baik, Bu.”
Tanvi tersenyum lega dan kembali ke ruangannya.
__ADS_1
***