
“FAL, sebenernya lo cinta nggak sih sama gue?”
Fal menatap wanita di depannya.
Saat ini dia tidak siap menghadapi Gwen, karena pikirannya terbagi antara pekerjaan dan Tanvi yang akhir-akhir ini lebih banyak diam.
“Fal..” desak Gwen tidak sabar.
“Gue emang suka sama lo. Tapi kalo untuk cinta…?”
“Lo cinta kan sama gue?” sambar Gwen.
Fal menggeleng. “Gue nggak yakin.”
Gwen melotot marah. “Apa?! Lo nggak yakin?!”
Fal lihat kanan-kiri, seisi kafe sudah memperhatikan mereka.
“Tenang, Gwen. Jangan marah dulu.”
“Gimana gue nggak marah sih? Kita jalan, kita seneng-seneng bareng, lo juga pernah cium gue, kita bahkan pernah tidur bareng. Dan sekarang lo bilang lo nggak yakin cinta sama gue?? Lo mau PHP-in gue??”
Gila ni cewek blak-blakan banget buka aibnya sendiri!
“Bukan itu maksud gue, Gwen.”
“Lalu apa?”
Sungguh Fal terdesak.
Tentunya Gwen tidak akan terima.
Ia jadi menyesal sudah berhubungan terlalu jauh dengan desainer cantik ini.
“Sebenernya.. ada yang perlu lo tau tentang gue, Gwen.”
Fal menatapnya serius. “Hal paling penting, sebelum kita bicara masalah cinta.”
“Apa itu?” Gwen makin tidak sabar.
Fal menelan ludah. “Kita bicara di tempat lain.”
Mereka meninggalkan kafe.
Baru mau masuk mobil, Gwen menariknya.
“Gue nggak bisa nunggu, sekarang juga lo bicara!” wanita cantik yang selalu tampil anggun kini berubah menjadi begitu ganas seperti singa kelaparan.
Fal sudah terpojok, dan mengangkat tangannya.
“Oke. Gue bakal jujur. Tapi gue minta lo jangan marah.”
“Tergantung apa yang bakal lo omongin.”
“Oke.” Fal menarik nafas sejenak.
“Gwen, gue emang suka sama lo. Tapi cuma sebatas itu. Gue nggak bisa janji apa-apa. Karena gue udah…” ia menggantung ucapannya.
“Udah apa?”
Fal menatapnya serius. “Gue udah menikah.”
Gwen terperangah, matanya melotot.
Kalau ini kartun, pasti dari mata Gwen keluar kilat-kilat dan sabetan pedang yang mematikan.
“Maksud lo apa, Fal???!” jeritnya histeris. “Lo cuma mainin gue??”
Fal panik Gwen hilang kendali begini.
“Gwen, tenang.”
“Kalo lo udah nikah, ngapain lo deketin gue?? Ngapain lo godain gue, sampe kita akhirnya ngelakuin itu??”
“Makanya gue minta maaf…”
Plaakkkkk!!
Pipi Fal terasa panas.
__ADS_1
“Lo br*ngsek, Fal! Gue nggak bisa terima! Gue udah cinta mati sama lo, dan sekarang lo mau ninggalin gue??”
“Bukan gitu, Gwen.”
“Ini penghinaan! Lo jadiin gue pelampiasan gitu? Lo bener-bener nggak punya hati, Fal! Gue benci sama lo!” teriak Gwen sambil mendorong Fal keras-keras.
Fal hilang keseimbangan.
Dari arah berlawanan ada sepeda motor melaju kencang ke arahnya, dan…
Tubuh Fal tertabrak motor dan terpental sampai terguling-guling di aspal.
Gwen kaget setengah mati.
“Faallllll!!”
***
Pranggggg!!
Gelas pecah membuat kaget dua rekan timnya.
“Tanvi, lo kenapa?” tanya Andri heran, karena ceroboh menjatuhkan gelas yang dipegangnya.
“Iya, lo kenapa, Vi?” tanya Oji juga. “Muka lo pucet gitu.”
Tanvi tidak mengerti genggamannya mendadak lemas sampai gelas terjatuh. Hatinya tidak nyaman.
“Untung Daniel lagi nggak di sini. Bebas kena marah lo, Vi.”
Andri dan Oji membantu membereskan pecahan gelas.
“Sorry. Perasaanku lagi nggak enak aja.”
Tanvi terduduk lemas di kursi sambil memijit-mijit kepalanya.
“Kalo lo sakit, izin pulang aja.”
“Iya. Mumpung si Daniel lagi keluar.”
Tanvi tidak menjawab, karena mendadak ia gelisah entah kenapa.
Mereka bertiga langsung berputar melihat, dan kaget.
“Pak Farhan?” ucap Andri dan Oji berbarengan.
Wajah Farhan pucat dan panik.
“Tanvi, kita ke rumah sakit sekarang!” katanya membuat Tanvi kaget.
“Rumah sakit? Memangnya kenapa?”
“Fal kecelakaan. Dia kritis.”
Tanvi menutup mulutnya, bertahan tidak histeris.
“Tanvi, tenang ya, please kamu jangan panik.”
Farhan memegang bahunya, berusaha menenangkannya yang sudah menangis.
“Ayo kita pergi!”
Tanpa buang waktu, Farhan membawa Tanvi keluar ruangan, membuat Andri dan Oji melongo.
***
Nggak sampai 1 jam, mereka sudah tiba di rumah sakit.
Tanvi tergesa-gesa menuju UGD, Farhan di sampingnya tidak kalah cemas.
Di depan ruang UGD, ada Mama dan Tante Rima.
Mama terisak-isak, Tante Rima berusaha menenangkannya.
“Mama!” Tanvi langsung menghambur memeluknya.
Mama mengusap-usap kepalanya. “Berdoa ya, Nak. Semoga Fal tidak apa-apa.”
“Kenapa bisa begini, Ma? Gimana ceritanya Fal ketabrak?” tanya Farhan tidak habis pikir.
__ADS_1
“Menurut orang yang bawa Fal ke sini, katanya dia ribut sama seorang wanita, lalu didorong sampai tertabrak sepeda motor,” jawab Tante Rima cemas.
Farhan berpandangan dengan Tanvi yang matanya sudah sembab karena menangis sejak tadi.
Tanvi mengajak Farhan menjauh dari Mama dan Tante Rima.
“Kak, bisa tolong cari tau siapa wanita itu?”
“Kira-kira kamu tau ada perempuan dekat dengan Fal?”
“Kayaknya ada. Kak Ares pernah bilang, Kak Fal deket sama desainer yang namanya Gwen. Tapi aku sendiri nggak tau yang mana orangnya. Kalo emang dia yang dimaksud, aku cuma ingin tau ada masalah apa sampai mereka ribut.”
“Ya kamu tenang aja. Aku bakal cari tau. Lebih baik, kamu temani Fal. Dalam kondisi begini, dia butuh kamu. Serahin masalah ini sama aku.”
“Terima kasih, Kak.” Tanvi bergegas kembali ke UGD.
Farhan mengeluarkan HP dan menghubungi Ares.
***
Kondisi Fal sudah membaik setelah melewati masa kritis.
Namun masih belum sadar.
Begitu Fal dipindahkan ke kamar rawat, semua pulang kecuali Tanvi.
Tanvi memandangi Fal, sedih.
Ia benar-benar takut kehilangan suaminya.
Begitu mendengar Fal kecelakaan saja jantungnya terasa berhenti berdetak.
Fal mengalami gegar otak ringan.
Tangan kiri Fal dibebat dan butuh beberapa hari untuk sembuh.
HP-nya berbunyi, ia kaget takut membangunkan Fal.
Dena.
“Halo, Den.”
“Tanvi, kita mau ngerayain ulang tahun Cita yang ke-12 di MCD. Kamu jangan lupa dateng ya nanti malem. Kalo bisa ajak suami kamu.”
“Maaf, Den, aku nggak bisa. Kak Fal kecelakaan ketabrak motor, aku masih di rumah sakit.”
“Innalillahi.. trus sekarang gimana kondisinya?”
“Udah lewat masa kritis, tapi belum sadar. Titip salam aja untuk Cita. Hadiah dari aku nyusul.”
“Iya iya.. semoga suami kamu cepet pulih.”
Telepon diputus.
HP-nya bergetar, ada pesan whatsapp masuk dari Ares.
*Gimana kondisi Fal, Vi?*
Tanvi membalas.
*Udah lewat masa kritis, Kak. Dan sudah pindah ke kamar rawat.*
Ares membalas lagi.
*Di rumah sakit mana? Biar gue sama Rendy dan Wandi ke sana.*
Tanvi mengetik lagi.
*Jangan sekarang, Kak. Biar Kak Fal istirahat. Nanti aku kabarin kalo Kak Fal udah bangun.*
Ares menjawab.
*Oke. Lo sabar ya, Vi. Kalo perlu apa-apa lo kabarin gue.*
Tanvi melihat sudah jam 9 malam.
Sepertinya ia harus izin tidak masuk kerja besok.
Ia menggenggam tangan kanan Fal dan tertidur di samping tempat tidur Fal.
__ADS_1
***