
Sejak itu Fal menghindari Tanvi.
Tidak bicara sepatah kata pun.
Seperti awal-awal, Fal pergi pagi dan pulang malam.
Itu pun tidak ada komunikasi.
Tanvi terpukul dengan tuduhan Fal kalau dirinya selingkuh.
Meski ia tidak diperlakukan sebagai istri dengan baik, tapi dia tidak akan mengkhianati suaminya.
Bagaimana ia bisa membuat Fal mengerti?
Saat ini yang dibutuhkannya cuma Fal.
Tapi suaminya tidak mau bicara bahkan melihat wajahnya barang sekejap.
Ia melangkah gontai memasuki kantor.
“Tanvi, untung kamu dateng, sekarang kamu ke gudang ambil barang yang mau kita jual. Ini daftarnya. Saya ada meeting di luar. Jangan sampai ada yang lupa.”
Daniel langsung meninggalkan ruangan.
Kini tinggal ia sendiri.
Semua rekannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ia tidak ada semangat bekerja.
Ia mengira kehamilannya dapat mempererat hubungan mereka.
Tapi malah memperkeruh keadaan.
Padahal ia mulai mencintai suaminya.
Bagaimana bisa ia selingkuh?
Air matanya menitik membasahi kertas yang dipegangnya.
Dengan hati yang ditegarkan, ia beranjak hendak ke gudang.
Ia harus tetap profesional dalam bekerja.
Di depan lift, ia berpapasan dengan Farhan.
“Tanvi, kamu di sini? Mau ke mana?”
“Ke gudang.” Tanvi menjawab pelan.
Farhan sempat heran, namun tersenyum.
“Oh ya, selamat atas kehamilan kamu.”
Tanvi tersenyum kecut. “Makasih.”
“Tapi kok kamu masuk kerja? Bukannya kamu harus banyak istirahat?”
Tanvi tidak menjawab, kepalanya menunduk.
Kening Farhan berkerut dan memegang bahu Tanvi.
“Ada apa? Kamu ribut lagi sama Fal?”
Tanvi menggigit bibir sambil memegang erat kertas.
__ADS_1
Tanpa menjawab, ia masuk lift yang kosong.
Farhan menduga ada yang tidak beres, langsung menerobos lift dan mengikuti Tanvi.
“Sekarang kamu cerita sama aku, ada masalah apa?”
Bahu Tanvi terguncang, bikin Farhan panik.
“Tanvi, kamu nggak boleh stress. Bahaya untuk bayi kamu.”
“Kak Fal nggak mau ngakuin bayi ini, Kak,” isak Tanvi bikin Farhan kaget.
“Apa? Kenapa bisa sampai begitu?”
Tanvi menggeleng sedih.
“Tapi hubungan kalian baik-baik aja kan?”
“Semua baik. Tapi begitu aku hamil, Kak Fal marah dan nuduh aku selingkuh.”
Farhan jadi geram.
“Keterlaluan emang Fal!” ia tahu betul Tanvi tidak mungkin selingkuh.
“Aku nggak tau kenapa Kak Fal nggak mau ngakuin bayi ini, tapi aku nggak bisa dituduh begini, Kak. Aku nggak mau Kak Fal benci sama aku dan bayi ini.”
“Tapi tuduhan dia nggak beralasan. Harusnya dia bahagia. Kecuali ada masalah yang dia nggak bisa atasi.”
Tanvi menangis perih.
Farhan ragu-ragu memegang bahunya.
“Tanvi, jangan sampai bayi kamu ikutan sedih.”
Kepala Tanvi mendadak pusing, tubuhnya limbung.
“Tuh kan apa aku bilang, kamu jangan stress.”
Tringgg…
Pintu lift terbuka.
Farhan mendongak dan kaget melihat Fal menatapnya tak kalah terkejut.
***
Sungguh hari ini Fal malas sekali berada di kantor.
Apalagi Gwen merecokinya terus-menerus memintanya bertindak segera menikahinya.
Tidak terbayang jika video perselingkuhannya sampai ke tangan Papa.
Bisa-bisa dia ditendang dari keluarga.
Keluarganya sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri.
Nama baik keluarga yang paling utama.
Perceraian adalah sesuatu yang sangat dilarang.
Perselingkuhan apalagi.
Terutama sang Kakek yang tegas dan tidak pandang bulu.
Jika dirinya melakukan kesalahan, bukan tidak mungkin Kakek menendang dirinya menjadi tukang sapu di jalanan.
__ADS_1
Waktu dia berpacaran dengan Alisha saja keluarga menentang.
Apalagi jika dia berselingkuh, bisa-bisa dipecat jadi anak.
Apalagi sekarang istrinya hamil.
Dia tidak habis pikir Tanvi mengkhianatinya.
Tapi kalau begitu, siapa Ayah dari bayinya?
Lagi pusing begitu, ia menekan tombol lift.
Lebih baik ia ke coffeeshop.
Pintu lift terbuka, ia terperangah melihat Tanvi bersama Farhan.
Dan posisi mereka membuatnya berasumsi ada sesuatu terjadi.
Farhan memegang kedua bahu Tanvi dan menopang tubuhnya.
“Fal!”
Tanvi ikut kaget dan mengerjapkan mata menatapnya.
Fal menatap mereka tajam.
“Ternyata ini yang suka kalian lakuin di belakang gue?”
Farhan kaget dan melepaskan tangannya.
“Fal, lo jangan salah paham.”
Ia tidak mau mendengar, langsung berbalik pergi ke arah tangga.
Tanpa ia tahu, Tanvi sudah sempoyongan lemas.
“Shit! Dia pasti salah paham!”
Farhan jadi bingung antara mengejarnya atau menjaga Tanvi.
Beruntung muncul Sekar dan Melly yang baru selesai tugas.
“Eh kalian, bisa tolong anter Tanvi pulang? Dia lagi kurang sehat.”
“Enggak usah, aku masih bisa kerja kok.” Tanvi menahan sakit kepalanya.
“Wajah kamu udah pucat begitu. Kalo atasan kalian tanya, bilang saya yang suruh kalian antar Tanvi. Paham?”
Meski heran, mereka tidak membantah perintah atasan.
Farhan bergegas pergi.
“Vi, ada apa sih? Kok lo kayak deket banget sama Pak Farhan?” Melly sempet-sempetnya kepo
.
Tanvi tidak menjawab, tubuhnya limbung, Sekar langsung menahannya.
“Kayaknya bener kata Pak Farhan, Tanvi lagi kurang sehat.”
“Jadi gimana? Ntar Mas Daniel nyariin kita?”
“Lo nggak denger tadi Pak Farhan bilang apaan? Dia yang nyuruh kita lho. Jabatan dia di atasnya Mas Daniel. Pemilik perusahaan ini juga. Udahlah lo enggak usah takut. Eh Vi, rumah lo di mana? Biar gue pesen mobil online buat anter kita.”
Tanvi mengerjapkan mata.
__ADS_1
“Tolong anter aku ke panti.”
***