
SETAHUN kemudian..
Di kursi pelaminan tampak sepasang pengantin dengan wajah sumringah, menyalami tamu-tamu yang datang.
Ya.
Hari ini hari pernikahan Rendy.
“Weits… brother gue nih udah jadi pengantin.” Fal memeluk sahabatnya. “Congratulations.”
Rendy membalas pelukannya.
“Thanks ya, ikut repot untuk acara gue.”
“Ngomong apa sih lo? Malah gue yang sering repotin kalian.”
Fal menarik tangan Tanvi ke sampingnya.
“Eh Tanvi, apa kabar?” Rendy basa-basi.
Tanvi tersenyum. “Aku sehat. Selamat ya, Kak. Semoga langgeng, dan cepet punya momongan.”
Rendy dan istrinya yang bernama Riri, mengaminkan doa Tanvi.
“Ares sama Wandi mana?”
“Biasalah tu dua jomblo kalo lagi acara begini ya tebar pesona. Palingan lagi godain pager ayu.”
Tanvi dan Fal tersenyum.
Memang tinggal Ares dan Wandi yang perlu dicarikan jodoh.
“Oya sorry gue nggak bisa hadir di acara ulang tahun Fades kemarin. Tapi gue udah siapin hadiah. Cuma belum sempet gue kasih.”
Tanvi terharu sahabat Fal ini perhatian pada anaknya.
“Nggak pa-pa, Kak. Yang penting selalu doain Fades sehat.”
“Iya, Bro.. lo yang tenang aja bulan madu. Kapan aja lo bisa liat anak gue. Bisa kirim aja hadiahnya ke rumah.”
Fal menambahkan.
“Farhan titip salam. Dia nggak bisa dateng karena ngurus Reva.”
“Oh ya, denger-denger istri Farhan hamil? Bener tu, Fal?”
“Yup. Akhirnya, Fades bakal punya sepupu kan.”
Tanvi ikut bahagia begitu Farhan memberitahu Reva mengandung.
Setelah lahirnya Fades, Reva jadi suka anak kecil.
Persepsi Reva tentang kehamilan berhasil diubah oleh keyakinan Farhan yang ingin mempunyai anak.
Pernikahan Farhan yang semula di ambang perceraian, kini berbalik menjadi harmonis.
Setelah bersalaman dengan orangtua pengantin, Tanvi dan Fal menuruni panggung.
Tanvi agak repot karena mengenakan dress panjang.
Karena ini pernikahan sahabat Fal, dia ingin tampil cantik.
Setidaknya Fal tidak akan malu jika bertemu teman-temannya.
Sambil menikmati hidangan, mata Tanvi tak lepas menatap panggung pelaminan.
Fal paham betul yang dipikirkan istrinya.
__ADS_1
Tanvi amat merindukan orangtuanya.
Ia teringat ketika menikah, di pelaminan hanya ada Papa dan Mama.
Sedangkan Tanvi tanpa pendamping orangtua.
Dalam perjalanan pulang, Tanvi masih diam saja.
“Minggu depan aku ambil cuti,” kata Fal membuat Tanvi menoleh.
“Cuti? Emang Kakak mau ke mana?”
Fal menoleh sekilas. “Quality time sama anak istriku.”
“Maksudnya?”
Sebagai jawaban, Fal mengeluarkan amplop dari saku jas dan memberikan pada Tanvi.
Penasaran Tanvi membuka dan membaca. Matanya membulat.
“Kita, ke Thailand? Serius, Kak?”
Tanvi gembira bukan main melihat paspornya dan tiket pesawat.
“Masa’ aku bercanda? Kamu pasti udah kangen sama Papa Malik kan? Ya kita jenguk aja ke sana. Sekalian bawa Fades liburan.”
Tanvi memeluk suaminya. “Makasih ya, Kak.”
“Ehhh aku lagi nyetir ini!” seru Fal panik.
Tanvi nyengir dan mencubit pipi Fal. “I love you.”
“I love you too.” Fal tersenyum menatapnya.
Sudah 3 bulan ini Papa Malik berada di Thailand mengurus bisnisnya.
Tanvi belum mendengar kabar tentang Alisha.
Dia juga berharap Alisha sudah membuka hati dan menerimanya sebagai adik.
Bu Namila mengabdikan diri dengan mengurus panti, menggantikan tugas Bu Ratna.
Ibunya ingin menebus kesalahan sudah meninggalkannya di panti dengan mengurus anak-anak terlantar yang bernasib kurang beruntung.
Kabar baiknya lagi, Nindy sudah menyelesaikan kuliahnya dan akan kembali ke Indonesia.
Segalanya membaik seiring berjalannya waktu.
***
Fal menghentikan mobilnya di kawasan bukit.
Ia mengajak Tanvi turun menikmati sepoi-sepoi angin dan melihat pemandangan kota dari ketinggian.
Mereka berdiri menyandar pada mobil sambil melihat ke depan.
“Akhirnya, semua masalah kita teratasi.”
Tanvi menerawang dan menyandarkan kepala di bahu Fal.
Tangan Fal melingkari bahu Tanvi dan mencium kepalanya penuh sayang.
“Aku harap, nggak ada lagi air mata dalam setiap langkah kita.”
Tanvi bersyukur suaminya sudah berubah.
Kini ia tidak akan meragukan Fal lagi.
__ADS_1
Karena Fal sangat berarti untuknya.
“Aku juga punya kejutan untuk Kak Fal.”
Fal menoleh. “Apa itu?”
Bola mata Tanvi berputar lucu, membuat
Fal gemas.
“Cepetan dong bilang, kalo kelamaan aku cium juga nih, mau?” ancam Fal bercanda, membuat Tanvi tersenyum menghindar.
“Tunggu sebentar.”
Ia kembali ke mobil mengambil sesuatu dari tasnya.
“Nih. Surprise untuk suamiku.”
Fal menyipit menerima kotak kecil itu.
Begitu dibuka, ia terperangah.
Benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna putih.
Ada dua garis merah di tengah.
“Kamu… hamil lagi?” Fal surprise melihat test pack.
Tanvi mengangguk yakin.
Saking bahagianya, Fal sampai tidak bisa berkata-kata.
Ia memeluk Tanvi dan mencium keningnya penuh sayang.
“Kamu nggak takut melahirkan lagi?” tanya Fal.
Tanvi menggeleng.
“Melahirkan adalah hal terindah bagi seorang wanita. Meski bertaruh dengan nyawa, tapi kebahagiaan adanya seorang anak itu tidak ternilai.”
Fal tersenyum.
“Kalau gitu, udah beres nifas nanti, kita lanjut anak ketiga?”
“Duuuhhh kasih waktu aku untuk nafas dong! Emangnya aku kucing bisa ngelahirin sering-sering?”
Mereka tertawa dan bersama-sama menatap langit sore yang mendung.
Fal melepas pelukannya dan berdiri menghadap Tanvi.
“Terima kasih cinta. Kamu sudah memberi segala kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.”
Tanvi membalas tatapannya.
“Semua bisa kita lalui, karena cinta. Aku bisa kuat, karena aku yakin Kak Fal bisa mencintaiku dengan tulus. Seperti aku yang mencintai kamu, Kak.”
Tangan mereka bertautan.
“Aku janji, akan selalu menjaga kalian. Nggak ada yang akan menghalangi kita untuk bahagia. Karena kamu, selalu ada, melengkapi hidupku.”
Senyum Tanvi merekah, dan merebahkan kepalanya di dada Fal.
Tidak ada yang perlu dikatakan lagi.
Segala kesedihan dan penderitaan telah terbayar dengan cinta.
Tanvi tidak pernah menyesali cintanya, karena ketulusan cinta Fal menguatkannya.
__ADS_1
Akhirnya, cinta selalu menemukan jalannya untuk bahagia.
Hppy End