Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 18


__ADS_3

Malam sabtu.


Seperti malam-malam sebelumnya.


Tanvi sendirian di apartemen.


Ia sedikit terhibur video call dengan Nindy yang sudah kembali ke Malaysia.


“Gimana nih kabar kakak iparku?” tanya Nindy.


“Alhamdulillah baik. Kamu gimana di sana, Nin?”


“Biasa aja. Nindy kangen di Indonesia. Pengen cepet-cepet beres kuliah. Eh Kakak sendirian? Kak Fal ke mana?”


Tanvi angkat bahu. “Belum pulang. Paling juga lagi kumpul sama temen-temennya.”


“Iiihh nggak sopan ninggalin Kak Tanvi sendirian.”


“Nggak pa-pa, Nin. Aku udah biasa kok.”


“Apa?! Udah biasa?! Kak Fal sering ninggalin Kak Tanvi?”


“Eh bukan, maksudnya, aku udah biasa jadi nggak takut kalo ditinggal sendirian. Bentar lagi juga Kak Fal pulang.”


“Oh gitu, kirain. Kalo Kak Fal macem-macem, aduin aja ke Kakek. Kak Fal kan nggak berani ngelawan Kakek.”


Tanvi tertawa geli. “Aku bukan tukang ngadu kok, Nin. Lagipula ini pelajaran juga buat kamu, kalau ada masalah rumah tangga jangan diumbar meski sama keluarga, selesaikan baik-baik biar nggak makin larut masalahnya.”


“Duuuhh Kak Tanvi nih, Nindy belum kepikiran nikah. Kata Papa, harus jadi sarjana, dan lanjut S2 dulu.”


“Kalo ada pacar jangan lupa kenalin ke Kakak lho.”


“Ahhh males pacaran, Kak. Pacaran trus putus, udah bosen. Eh Kakak lagi ngapain sendirian di apartemen?”


“Nonton drama Korea aja. Tadinya mau main ke panti. Tapi dari tadi coba nelepon Kak Fal nggak aktif.”


“Kenapa nggak pergi aja, Kak?”


“Nggak bisa, Nin. Kakak harus ijin dulu sama Kak Fal.”


“Lho kok gitu?”


“Iya lah, kan dia suami Kakak. Nggak baik bepergian nggak izin dulu. Makanya Kakak nggak kemana-mana.”


“Gitu ya, ribet ah kalo udah nikah. Apa-apa harus izin.”


“Ya memang begitu, Nindy. Kamu juga kalo pergi kan izin sama Papa Mama. Kalo udah nikah, ya izin sama suami.”


“Syukur deh Nindy masih kuliah. Eh Kak, udahan dulu ya. Nindy mo nonton konser sama temen-temen. Salam ya untuk Kak Fal. Dahhh Kakak…”


“Dahhh..”


Sambungan terputus.


Tanvi menarik nafas panjang dan beranjak ke dapur membuat susu cokelat, dan kembali menghadap TV.


Ia menyetel film korea.


Yang bercerita tentang seorang artis, yang terkena masalah begitu tahu mempunyai anak dari mantan pacarnya. Lalu mantan pacarnya mengirim anak itu padanya karena tidak sanggup merawat. Ada seorang wanita yang terlibat dan tinggal bersama artis itu untuk merawat anaknya. Karena tinggal bersama, mereka jadi saling suka.


Tanvi terharu menontonnya.


Khayalannya mulai berangan-angan kalau saja Fal bisa mulai menyukainya.


Apalagi sudah hampir 2 bulan mereka bersama.


Apapun yang terjadi sebelumnya, kini Fal adalah suaminya.


Dan ia hanya boleh mencintai suaminya.


Ia tidak mau berdosa jika mencintai pria lain.


Ia membuka HP dan melihat foto yang membuat heboh seisi kantor.


Di foto memang terlihat romantis, seakan Fal memperlakukannya bak putri.


Foto itu diambil dari sudut yang terlihat pas.


Fal berlutut di depannya dan menatapnya lekat.

__ADS_1


Sungguh seperti mereka saling jatuh cinta.


Meski Fal selalu bersikap dingin, tapi ia tahu suaminya mempedulikannya.


Secercah harapan ia percaya bisa memperbaiki keadaan rumah tangganya.


Apa yang bisa ia lakukan untuk mempererat hubungannya dengan Fal?


Ia baru sadar sudah jam 1 malam.


Tidak terasa film korea yang ditontonnya sudah setengah serinya.


“Kak Fal ke mana ya? Nggak bilang apa-apa tadi. Kalo ada kerjaan ke luar kota kan biasanya ngomong.”


Tiba-tiba HP-nya berbunyi.


Keningnya berkerut.


Nomor siapa ini?


“Halo?”


“Halo, Tanvi!”


“Iya. Ini siapa?”


“Ares nih. Masih inget kan?”


“Oh iya, Kak Ares. Ada apa?”


“Lo bisa turun ke bawah?”


“Maksudnya?”


“Ini gue anter Fal pulang. Dia mabuk. Tapi gue nggak bisa naik. Lo turun aja jemput dia.”


Tanvi kaget. “Oh gitu, iya iya aku turun sekarang.”


Ia memakai jaket untuk menutupi piyamanya.


“Ada-ada aja sih Kak Fal, pake mabuk lagi.”


***


“Kak Ares, makasih udah nganter Kak Fal.”


Tanvi memapah Fal susah payah karena tubuhnya lebih tinggi.


“Iya. Sorry nih gue nggak anter ke atas soalnya gue harus anter yang lain.”


“Iya nggak pa-pa.”


Begitu Ares pergi, Tanvi membawa suaminya yang sempoyongan nyaris tak sadarkan diri, memasuki lift.


Dari mulutnya tercium bau alkohol.


Baru masuk apartemen, tiba-tiba…


“Wuueekkkk….”


“Eh aduh… Kak Fal pake muntah, lagi..” Tanvi berdecak pelan, karena baju Fal kotor terkena muntahan.


“Mana minumannya???” seru Fal setengah sadar.


Tanvi bergegas membawa Fal ke kamar.


Begitu Fal berbaring di tempat tidur, Tanvi mendesah lega, sampai berkeringat saking susahnya.


Ia membuka jaket.


Lalu membuka pakaian dan sepatu Fal.


Ia mengambil sebaskom kecil air hangat.


Dengan telaten ia membersihkan wajah dan badan Fal.


Fal teler mengerjapkan mata memandangnya.


Begitu selesai, ia menyelimuti Fal.

__ADS_1


Tanpa diduga, Fal menarik tangannya hingga tubuhnya terhempas di kasur.


“Kak?” Tanvi kaget karena Fal berada di atasnya.


“Lo cantik juga,” kata Fal sambil menelusuri wajahnya dengan tangan.


Mendadak ia jadi takut.


Namun tidak berdaya ketika Fal mendekatinya.


***


Saat Ares berkunjung ke apartemen Fal, sahabatnya itu dalam kondisi kurang sehat.


“Gimana keadaannya?” tanya Ares pada Tanvi.


“Tensinya tinggi, Kak. Kata dokter, kemungkinan gara-gara terlalu banyak minum."


Tanvi memandang Fal yang tertidur lelap setelah minum obat.


Ares menatap Tanvi menyipit. “Lo lagi sakit, Vi? Kok pucet gitu?”


Tanvi agak gugup. “Aku baik-baik aja. Mungkin kurang tidur. Oh ya aku bikinin minum dulu.”


Ia menuju dapur.


Ares keluar kamar dan membiarkan Fal istirahat.


Tanvi membawakan secangkir kopi dan duduk bersama Ares menghadap TV.


“Gue minta maaf ya, Tanvi. Harusnya kemaren gue cegah Fal minum banyak.”


“Memang kemarin kalian habis dari mana?” tanyanya.


Ares gelagapan. “Eh oh itu… dari… acara ulang tahun temen kami. Yah maklum deh, kadang suka lupa diri. Fal susah diberentiin kalo udah minum.”


Ares terpaksa bohong karena khawatir Tanvi sedih kalau tahu kemarin mereka party bersama Gwen.


Tanvi terdiam dan *******-***** tangannya gelisah.


“Bukan Fal aja sih,” tambah Ares. “Wandi sama Rendy juga pada mabuk. Makanya kemarin gue anter satu-satu.”


“Untung Kak Ares nggak mabuk ya?”


“Ya mau gimana lagi? Gue pernah kecelakaan, nabrak pohon, gara-gara mabuk dan nyetir mobil. Sejak itu gue janji sama ibu, supaya nggak mabuk-mabukkan lagi.”


“Kak Ares harus bersyukur masih punya ibu yang cemas sama Kakak. Nggak kayak aku.” Tanvi menunduk sedih.


“Emang ibu lo ke mana?”


Tanvi tersenyum pahit. “Dari sejak bayi aku ditinggal di panti asuhan. Aku nggak pernah tau orangtuaku siapa.”


Ares merasa tidak enak. “Duuuhh sorry, gue nggak tau. Fal nggak cerita apa-apa tentang lo. Padahal dari dulu kami nggak ada rahasia.”


Tanvi menggeleng. “Aku juga nggak pernah cerita ini sama Kak Fal. Aku nggak mau nambah beban pikiran dia.”


Kayaknya Tanvi tulus sayang sama Fal, batin Ares.


“Boleh aku tau siapa desainer yang Kakak ungkit di telepon waktu itu?” tanya Tanvi membuat Ares gelagapan.


“Eh itu…?”


“Aku cuma ingin tau. Apapun yang bakal aku hadapi, aku harus siap.”


Melihat wajah sedih Tanvi membuat Ares nggak tega.


“Namanya Gwen. Gue yang ngenalin mereka. Tapi mereka cuma temen. Beneran kok.”


Tanvi melihat wajah pucatnya, ia sudah tahu Ares berbohong.


Ia berdiri.


“Aku tinggal dulu, Kak.”


“Eh Tanvi, sebenernya gue ke sini mau balikin dompet Fal. Semalam ketinggalan di mobil gue.”


Tanvi mengambil dompet Fal tanpa bicara, dan berlalu ke dapur.


Ares memegang kepalanya.

__ADS_1


“Kenapa sih lo mesti bohong sama dia? Kasian kan dia udah sedih begitu.” Rutuknya pada diri sendiri.


***


__ADS_2