
Rumah megah di depannya tampak sepi.
“Ini bener rumahnya?”
Tanvi ragu dan mencocokkan alamat.
“Tapi kok kayak nggak ada orang? Satpam aja nggak ada.”
HP-nya berbunyi.
“Halo, Pak? Saya Tanvi yang ada appointment bertemu Bapak hari ini. Saya sudah di depan rumah Bapak. Oh begitu? Baik saya akan masuk, Pak.”
Klik.
Ia mendorong gerbang yang tidak dikunci.
Perasaannya mendadak tidak nyaman.
“Selamat siang, Pak.” Sapanya begitu Pak Hendra yang berbadan tinggi besar menyambutnya.
“Silahkan masuk.”
Langkahnya terhenti.
“Apa istri Bapak ada di rumah?” tanyanya menyadari rumah sepi sekali.
“Istri saya sedang ke luar negeri. Biasalah, kalau saya menang tender istri saya mana tahan kalau tidak belanja. Ayo kita ke ruang kerja saya.”
“Ngg…” Tanvi menolak. “Sebaiknya di ruang tamu saja, Pak.”
“Kenapa malu-malu? Tenang saja, cuma kita berdua di sini.”
“Justru itu, tidak baik, Pak. Di sini saja. Saya sudah bawa berkas yang Bapak minta.”
“Saya tidak butuh ini..”
Pak Hendra menepis map-map yang dibawa Tanvi sampai berserakan membuatnya kaget.
“Saya cuma mau kamu.”
“Pak Hendra!” sentak Tanvi menghindar karena Pak Hendra berusaha menyentuhnya.
“Tolong jangan keterlaluan!”
“Keterlaluan apa? Saya sudah membayar mahal. Bukannya kamu sendiri yang mau datang?”
“Maksud Bapak apa?”
Tanvi melangkah mundur, ketakutan.
Kliennya berubah menjadi singa kelaparan dan dia adalah makanannya.
Pak Hendra menyeringai sambil mendekatinya.
“Sejak pertama saya lihat kamu waktu meeting, saya sudah tertarik dan ingin kamu menemani saya.”
Praanggg!!
Guci pecah tersenggol dirinya.
Ia berteriak menghindar dan menabrak vas dan guci hingga berantakan di lantai.
“Mau pergi ke mana, cantik?”
Tidak peduli rasa sakit, ia berusaha menuju pintu keluar, namun tersandung kursi cukup keras.
Kakinya terkilir.
Pak Hendra tertawa.
“Ayolah, manis… capek kalo lari-larian. Mending nikmati waktu kita berdua.”
Tanvi menggeleng takut, sambil memegang kakinya.
Pak Hendra menarik baju Tanvi yang sudah menangis.
Tanvi sendiri kesulitan bergerak karena kakinya sakit.
Ia mendorong Pak Hendra keras.
__ADS_1
“Jangan dekati saya, Pak!”
“Tidak usah sok suci kamu!”
Tanvi memejamkan mata perih. *Kak Fal, aku ini istri Kakak. Dan aku nggak akan biarin ada orang nyentuh aku, karena aku cuma milik Kak Fal. Lebih baik aku mati, daripada harus merusak kehormatanku sebagai istri Kakak.*
Kemudian, ia membenturkan kepalanya ke tembok, dan pingsan seketika.
Pak Hendra tertawa keras.
“Bagus deh kalau pingsan.”
Ia merobek pakaian Tanvi.
Tiba-tiba…
BUAKKKKKK!!!
Pak Hendra terpental jauh, darah langsung menetes.
***
“Beraninya lo sentuh dia!!” Fal emosi.
Rasanya ingin membunuh pria kurang ajar ini.
“A-ampun…” rintih Pak Hendra kesakitan ketika kaki Fal menginjak tangannya kuat-kuat.
“Lo mau mati? Beraninya lo nyentuh istri gue!”
“A-ampun… saya cuma menerima perjanjian dari atasannya gadis ini.”
“Maksud lo?! Ngomong yang jelas!” bentak Fal keras dan menambah tekanan kakinya membuat Pak Hendra menjerit sakit.
“Sa-saya mau setuju kerja sama, asal gadis ini mau menemani saya. Saya juga sudah bayar pada atasannya.”
“Siapa?”
“Na-namanya Daniel.”
Fal menarik kakinya, terpaku.
*Gue nggak nyangka, ada yang pake cara kotor untuk perusahaan gue!"
Dengan segenap emosi, Fal melayangkan tinjunya dengan keras.
BUAKKKK!!
Pak Hendra jatuh pingsan.
“Itu balasan karena lo udah kurang ajar sama istri gue!” desisnya.
Tiba-tiba polisi berdatangan dan meringkus Pak Hendra.
Fal mendekati Tanvi yang pingsan.
Dahinya berdarah.
Mendadak ia khawatir kandungan Tanvi bermasalah.
Ia menggendong Tanvi dan segera keluar dari rumah yang ternyata sudah disegel oleh bank.
***
2 hari Tanvi tidak sadarkan diri.
Daniel ditangkap polisi atas kasus penipuan.
Berdasarkan laporan, beberapa karyawan yang masuk timnya sebelumnya juga disuruh menggoda klien dan menuruti apapun keinginan klien termasuk melayani.
Selain itu, Daniel juga melakukan korupsi dengan menyabotase data penjualan, dan menjual barang dalam jumlah besar secara ilegal sehingga perusahaan mengalami kerugian lebih dari 300 juta.
Pak Hendra pun dijebloskan ke penjara. Dia mengakui adanya transaksi dengan Daniel.
Fal membawa Tanvi pulang ke apartemen.
Setelah kejadian itu, Tanvi mengalami shock dan tidak sadarkan diri.
Untung saja kandungannya tidak bermasalah.
__ADS_1
Fal membiarkan Tanvi istirahat di kamar.
Dia duduk termangu menghadap TV.
Berusaha keras mengingat yang ia lupakan.
Bel apartemen berbunyi.
Malas-malasan ia melihat layar kamera dan tercekat.
GWEN!!
Ngapain dia ke sini??
Sungguh ia kuatir Tanvi terganggu, maka ia langsung menghubungi security apartemen untuk mengusir Gwen.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Tanvi muncul dengan wajah pucat dan mata sayu.
“Gimana kondisi kamu sekarang?” tanya Fal.
Tanvi tidak menjawab, hanya menunduk.
“Kamu lapar kan? Aku udah siapin makanan.”
Fal ke dapur membuatkan susu hangat.
“Tadi itu siapa?” tanya Tanvi.
Fal terdiam.
Berarti Tanvi terbangun mendengar bel.
“Cuma orang salah alamat.”
“Kenapa Kak Fal bawa aku pulang? Kenapa Kakak selametin aku?” Tanvi menahan tangis.
“Lalu kenapa kamu pergi gitu aja?” Fal balas bertanya. “Ini sikap kamu sebagai istri?”
Air mata Tanvi bergulir turun, dan terduduk lemas di sofa.
“Aku nggak tahan dibenci suamiku sendiri. Untuk apa aku di sini kalo cuma bikin Kak Fal marah.”
Fal tidak tega, dan mendekatinya.
“Jadi karena itu kamu nggak mau pulang?”
“Kak Fal boleh benci aku, tapi jangan nuduh aku zina dengan laki-laki lain! Aku nggak pernah ngelakuin itu. Tapi Kak Fal malah nuduh aku selingkuh dengan Kak Farhan. Demi Allah aku nggak pernah khianatin Kak Fal. Jadi tolong jangan pernah nuduh anak ini anak haram. Ini anak Kak Fal! Mungkin Kak Fal nggak ingat, tapi ini fakta. Ini anak kamu, Kak!”
DEG!!
Apa benar yang dia bilang?
Fal merasakan hatinya tertusuk benda tajam
.
Tapi kapan ia melakukan itu pada istrinya?
Dia benar-benar tidak ingat.
“Dan ini, apa maksudnya?” Tanvi membanting map.
“Kenapa Gwen nyuruh kita cerai? Apa yang terjadi sebenarnya, Kak? Aku nggak ngerti. Tolong jangan bikin aku bingung. Aku akan terima kalau kamu jujur.”
Fal jadi gelagapan.
Kenapa Tanvi bisa temukan surat yang ia simpan di laci?
“Kak Fal jahat! Salah aku apa, Kak?? Kita terjebak dalam pernikahan ini tapi aku berusaha ikhlas dan jadi istri yang baik. Aku selalu menjaga kehormatan pernikahan kita. Tapi ini balasannya? Kakak ingin kita cerai disaat aku hamil anak Kakak!? Kenapa Kakak tega ngelakuin ini sama aku?? Jawab, Kak!” Tanvi mulai histeris.
Sungguh Fal terpojok sampai tidak bisa berkata-kata.
Tanvi yang sebelumnya selalu tenang, kini meledak-ledak penuh amarah, bahkan sampai histeris.
Pikiran Fal kacau, kalau sudah begini, ia harus menyelesaikan sumber masalahnya.
Ia mengambil jaket dan kunci mobil, lalu bergegas keluar apartemen, meninggalkan Tanvi yang menangis sendirian sambil mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
***