Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 47


__ADS_3

15 (5)


AKIBAT benturan yang cukup keras, Tanvi ditangani di ICU.


Farhan bersama Papa dan Om Tito berdatangan ke rumah sakit.


Mereka datang setelah security apartemen menghubungi bahwa Tanvi pingsan.


Ternyata sebelum Tanvi pingsan, yang dihubungi adalah resepsionis apartemen.


Tim keamanan langsung mendatangi apartemen Tanvi dan membawanya ke rumah sakit.


“Ke mana Fal?” tanya Papa cemas karena HP Fal off.


“Biar Farhan telepon kantor, Om.”


Farhan mengeluarkan HP, selesai bicara ia menggeleng.


“Maya bilang barusan Fal keluar meeting dan belum kembali.”


“Tapi kenapa HP-nya mati? Harusnya dia tau dalam kondisi begini kapan aja dia harus siap bersama Tanvi.” Om Tito menyayangkan sikap Fal.


“Makanya itu security apartemen nelepon Farhan, Pa. Mereka nggak bisa hubungi Fal. Mereka nemu nomor Farhan di memo telepon. Untung mereka nggak nelepon ke rumah. Mama, Tante Jihan, sama Nenek pasti panik kalau tau.”


“Aku rasa, kita jangan beritahu mereka dulu.” Papa berpikir. “Kita pastikan kondisi Tanvi stabil.”


“Farhan, kamu bisa terus coba hubungi Fal?”


“Baik, Pa.”


Muncul suster dari ruangan.


“Keluarga dari pasien Tanvi.”


“Kami, Sus.”


“Suaminya apa sudah datang?”


Mereka saling pandang bingung.


“Suaminya lagi di jalan. Ada apa?”


Suster membawa mereka ke ruangan dokter.


Dokter sudah menunggu.


“Begini, karena kondisi pasien memburuk, kami harus melakukan operasi pada bayinya.”


Efek kata-kata dokter membuat mereka kaget.


“Apa, Dok? Menantu saya mau melahirkan sekarang?” Papa tidak percaya.

__ADS_1


“Kandungannya belum 9 bulan kan?”


“Benar, Pak. Normalnya wanita akan melahirkan kisaran 39-41 minggu. Dan kandungan pasien Tanvi saat ini baru memasuki minggu ke-31. Tapi akibat benturan yang cukup keras, menyebabkan kontraksi, dan satu-satunya tindakan yang harus kami ambil adalah operasi.”


“Apa bayinya baik-baik saja jika prematur?” Om Tito meyakinkan.


“Itu semua tergantung dari Pak Fally.”


Semua tercekat.


“Ada apa dengan Fally, Dok?” tanya Farhan.


“Kami harus mendapat persetujuan dari Pak Fally sebagai suaminya untuk melakukan operasi ini. Karena operasi ini beresiko tinggi. Kemungkinan hanya satu yang bisa kami selamatkan, ibu atau anaknya. Tapi jika Pak Fally cepat memberi keputusan, operasi bisa dilaksanakan segera dan mungkin keduanya bisa selamat.”


Semua jadi hopeless, karena tidak tahu Fal di mana.


“Dok, apa tidak bisa dilakukan saja jika darurat?” tanya Papa. “Fal tidak bisa dihubungi. Saya orangtuanya, akan bertanggungjawab atas keputusan operasi ini.”


“Kalau begitu, Bapak bisa putuskan siapa yang harus kami selamatkan. Ibu atau bayinya?”


DEG!


Semua menegang.


Farhan tidak bisa merasakan detak jantungnya sendiri.


Om Tito terpaku tidak tahu harus berkata apa.


“Dok, bagaimana saya bisa memilih antara menantu dan cucu saya?” Papa makin terpukul. “Dua-duanya amat berharga dalam keluarga kami.”


“Saya mengerti, Pak. Ini pilihan yang sulit. Tapi siapapun yang kami selamatkan, kami harap keluarga Bapak bisa menerimanya."


Farhan mengepalkan tangan, emosi.


Kenapa jadi begini?


“Boleh saya bertemu Tanvi dulu?” tanya Papa.


“Silahkan, Pak. Walau kondisinya melemah, tapi dia masih sadar.”


Papa memasuki ruangan ICU.


Om Tito menunggu di luar, memikirkan apa yang harus disampaikan pada istri, adik, dan ibunya tentang kondisi Tanvi.


Sementara Farhan menghubungi Ares untuk meminta bantuan mencari Fal karena kondisi Tanvi memburuk.


“Pa, mana Kak Fal?” tanya Tanvi terbata-bata.


Papa mengelus kepalanya. “Fal lagi di jalan. Sebentar lagi dia sampai.”


“Papa jangan bohong. Kak Fal menghilang lagi kan?” Tanvi menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Papa mencoba tersenyum. “Kamu yang sabar ya, Nak.”


Suster masuk tergesa-gesa.


“Pak, tidak ada waktu lagi. Operasi harus dilakukan segera. Silahkan Bapak tandatangani surat ini, dan putuskan mana yang mau diselamatkan.”


Tanvi terperangah menatap suster dan Papa.


“Ada apa, Pa? Ada apa dengan bayiku?”


Tanvi panik nyaris histeris.


“Kamu tenang, Tanvi. Semua akan baik-baik saja.” Papa menerima pulpen dari suster dengan tangan bergetar.


Tiba-tiba Tanvi menahan tangan Papa, sambil tersenyum menatapnya.


“Selamatkan bayiku, Pa. Dia adalah sumber kebahagiaan keluarga kita.”


Tangis Papa pecah, lalu mengusap kepala Tanvi.


“Kamu pun kebahagiaan buat keluarga kami.”


“Kalau Papa ingin aku bahagia, pilih bayiku. Dia punya masa depan. Kalau aku nggak selamat, jaga dia untukku ya, Pa.”


Tanvi memohon, dengan mata memerah.


Dengan berat hati, Papa menandatangani surat persetujuan bahwa operasi dilakukan dan bayinya yang akan diselamatkan.


***


“Aku boleh bicara sebentar sama Kak Farhan?” tanya Tanvi sebelum masuk ruang operasi.


Farhan mendekat, dan memegang tangan Tanvi.


“Kamu bakal baik-baik aja. Aku yakin.”


“Kak, aku mau minta tolong. Alisha sudah tau Bu Namila pembantunya adalah ibu kandungku. Dan sekarang Ibu ditahan di kantor polisi. Aku nggak tau apa tuduhannya. Tapi aku mohon, Kak Farhan bantu ibuku dapat keadilan.”


Farhan tercekat. “Jadi, Alisha biang keladinya?”


Tanvi menahan sakit. “Ya, Kak. Dan aku nggak berdaya ngelawan dia. Tolong selamatkan ibuku. Dia pasti difitnah.”


Farhan mengelus rambut Tanvi. “Pasti. Aku akan berusaha bebasin Bu Namila.”


“Pak, kami harus segera operasi. Tidak ada waktu lagi.”


“Kamu pasti selamat, Tanvi.”


Farhan melepas tangan Tanvi dengan hati terluka.


Tanvi menatap Farhan memohon, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya ketika masuk ruang operasi.

__ADS_1


***


__ADS_2