Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 15


__ADS_3

MALAM ini ketika Tanvi baru tiba di apartemen, kaget melihat ada tiga laki-laki.


“Udah pulang?” muncul Fal dari dapur.


“Iya, Kak. Barusan mampir ke supermarket dulu.” Tanvi menyimpan belanjaan di lemari dapur dan melepas jaketnya.


“Mereka siapa, Kak?”


Mereka bertiga kontan berdiri.


“Kenalin, mereka sahabat-sahabatku dari SMA.”


“Hay, gue Rendy.”


“Gue Wandi.”


“Dan gue Ares.”


Ares? Oh yang waktu itu nelepon Kak Fal?


“Aku Tanvi.”


“Wuihh pantesan lo jarang kumpul sama kita-kita lagi. Punya bini cantik gini ya betah di rumah lah. Maunya pulang mulu.” goda Wandi.


Fal melotot, sementara Tanvi cuma menunduk.


“Aku siapin makanan kalo gitu.”


“Aku udah beli makanannya. Ada di dapur.”


Tanvi mengangguk.


Setelah menyimpan tas, ia ke dapur mengambil makanan dan menyiapkan minuman.

__ADS_1


Ada rasa nyaman menyusup di hatinya.


Nampaknya Fal sudah menerimanya sebagai istri dengan memperkenalkan pada sahabat-sahabatnya. Bahkan membawa para sahabatnya itu berkunjung ke apartemen mereka.


Begitu ia membawa makanan, dan menatanya di meja, sohib Fal udah pada kasak-kusuk pengen ngajakin dia ngobrol.


Tapi Fal langsung menyela.


“Kamu pasti capek seharian kerja. Istirahat gih. Nanti aku nyusul,” kata Fal.


“Iya, Kak.” Ia membawa tasnya masuk kamar.


Diam-diam ia mencuri dengar obrolan mereka.


“Kayaknya bini lo baik-baik aja. Nggak rese’. Kenapa lo nggak suka sama dia?”


“Ya lo kan tau gue lagi suka sama siapa.”


“Gwen juga belum tentu suka sama lo.”


“Tapi lo jangan jutek lah sama bini lo. Gitu-gitu kan dia udah jadi tanggung jawab lo.”


“Suka-suka gue dong, gue yang nikahin.”


“Eh lo jangan gitu. Inget lo punya adik cewek, kalo adik lo dijutekin sama suaminya emang lo nggak marah?”


Ohhh jadi yang disebut sama Ares di telepon itu namanya Gwen?


Desainer cantik?


Apa dia pacarnya Fal?


Tanvi tidak semangat menguping lagi, dan mengambil handuk hendak mandi.

__ADS_1


***


“Iya, Gwen.. sama-sama. Kapan? Besok? Oh bisa-bisa. Gue jemput jam berapa? Iya gue pulang cepet dari kantor. Iya, apa sih yang enggak buat lo. Oke honey, bye..”


Fal keluar lift dan lanjut menghubungi Ares.


“Res, Gwen ngajakin ke party sepupunya besok. Lo semua mau pada ikut? Ya ntar gue kirim alamatnya. Ntar lo sebut nama Gwen kalo mau masuk tempatnya. Gue baru balik apartemen lagi. Males balik gue tadi. Iya, udah jam 11, paling dia udah tidur. Santai lah. Oke gue tutup teleponnya.”


Ia memasuki apartemen.


Sepi.


Kayaknya Tanvi udah tidur.


Ia hendak mengambil selimut di kamar.


Gerakannya terhenti melihat Tanvi menghadap meja rias sedang menyisir rambutnya.


Tanvi masih mengenakan jubah handuk sehabis mandi, belum menyadari ada Fal.


Fal sendiri malah mematung memandanginya.


Lalu Tanvi berdiri membuka handuknya, membuat Fal tercekat, dan melangkah mundur.


Niatnya mau ambil selimut jadi urung.


Pikirannya langsung terganggu.


Ia membuka kemeja dan merebahkan diri di sofa.


Ini kayak bukan gue aja. Liat cewek berbaju seksi aja gue udah biasa, tapi kenapa liat dia bikin gue nggak karuan gini? Walau dia istri gue, tapi gue kan nikahin dia terpaksa. Kenapa gue jadi aneh begini?


Ia mencoba tidur untuk menghilangkan pikiran anehnya.

__ADS_1


***


__ADS_2