Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 23


__ADS_3

PAGI ini terjadi kehebohan ketika tiba-tiba saja Tanvi mual-mual saat sarapan bersama keluarga.


“Tanvi, kamu kenapa, Nak?” tanya Nenek khawatir.


Tanvi mengerjapkan mata dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


“Mungkin masuk angin. Kemarin seharian dia di luar.”


“Aku nggak pa-pa, Nek.” Tanvi meneguk air putih, dan berdiri.


“Aku harus berangkat. Banyak pekerjaan di kantor.”


“Yakin kamu nggak pa-pa?” tanya Mama cemas.


“Iya, wajah kamu pucat. Istirahat di rumah saja,” tambah Tante Rima.


“Aku baik-baik aja, bentar lagi juga pusingnya hilang.”


Tanvi mencium tangan Mama, Tante Rima, dan Nenek.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Baru saja berjalan beberapa langkah, kepalanya terasa pusing bukan main.


Lalu…


Bruuuuukkk!!


Tanvi pingsan.


Fal berlarian menuruni tangga mendengar teriakan nama Tanvi.


“Lho, Ma! Tanvi kenapa?”


“Nggak tau, kita bawa ke rumah sakit.”


***


Cukup lama mereka menunggu, akhirnya dokter keluar ruangan.


“Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?” tanya Nenek lebih dulu.


Fal ikut cemas.

__ADS_1


Dokter tersenyum. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hal yang biasa untuk awal kehamilan.”


DEG!!


Fal merasa jantungnya berhenti berdetak.


“Jadi Tanvi hamil?” Mama betul-betul terkejut.


“Benar, Bu. Dia sedang hamil.”


“Alhamdulillah!” Mama berpelukan dengan Tante Rima, begitu gembira.


Nenek mengucap syukur tiada henti.


“Dan karena ini kehamilan yang pertama, saya sarankan agar Tanvi jangan terlalu lelah.”


Semua bergembira, kecuali Fal.


Dia masih tidak percaya.


Ketika Mama memeluknya pun dia masih terpaku.


Namun semua berpikir Fal terlalu bahagia sampai tidak bisa bicara.


***


“Akhirnya, rumah ini akan ramai dengan suara bayi.”


“Kita harus adakan pesta syukuran atas calon anggota baru keluarga kita.”


“Betul itu, Pa. Kita undang semua karyawan dan kolega kita.”


“Ngg Om, lebih baik jangan sekarang.” Fal menolak, berusaha menutupi kegundahannya.


“Tanvi butuh istirahat.”


“Betul itu, Pa. Lebih baik nanti saja acara tujuh bulanan.”


Pikiran Fal sungguh kacau. Dia tidak habis mengerti.


Malam itu juga Fal membawa Tanvi kembali ke apartemen.


Walau melewati perdebatan panjang karena Mama dan Tante Rima ingin Tanvi tinggal di sini agar mereka lebih mudah menjaga Tanvi.


Tapi Fal berhasil meyakinkan Tanvi akan lebih baik jika dia yang mengurusnya.

__ADS_1


Tanvi yang tidak tahu apa-apa, menurut saja begitu Fal mengajaknya kembali.


Begitu tiba di apartemen, Fal langsung membanting kopernya membuat Tanvi kaget.


“Kenapa, Kak?”


Fal menatapnya tajam dan menariknya duduk di sofa.


“Apa-apaan ini, Tanvi?!” bentaknya keras.


Tanvi terkejut sikap Fal berubah kasar.


“Maksud Kakak apa?”


“Kamu hamil anak siapa?”


Pertanyaan Fal menonjok telak hingga Tanvi menganga.


“Ini anak Kak Fal.”


“Kamu pikir aku bodoh? Selama ini kita nggak pernah tidur sama-sama. Oke lah, dulu kita nggak sengaja tidur bareng, tapi setelah itu kamu sempat menstruasi. Dan kita selalu tidur terpisah. Aku di sofa kamu di kamar, dan sebaliknya. Lalu gimana bisa kamu bilang hamil anakku?”


Tanvi memalingkan wajah menahan tangis.


Kenapa Fal tega menuduhnya berbohong?


“Jawab, Tanvi! Jangan bikin kesabaranku habis!” bentak Fal sadis.


“Selama ini aku bertahan hidup sama kamu, karena keluarga! Kalau kamu nggak tahan karena nggak dapat apa yang kamu mau, kenapa kamu mengambil jalan untuk selingkuh?”


Tubuh Tanvi bergetar hebat.


Tidak menyangka Fal berkata begitu.


Namun lidahnya kelu tidak bisa berkata-kata.


“Kenapa kamu diam?! Aku cuma butuh jawaban, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung!?”


Tangis Tanvi pecah, tidak bisa berkata apa-apa.


Tanpa bicara, ia masuk kamar dan menangis tersedu-sedu.


Fal menghempaskan tubuh di sofa dan *******-***** kepalanya.


“Kenapa begini? Gue udah mulai sayang sama lo, tapi lo malah ngekhianatin gue!”

__ADS_1


***


__ADS_2