Terima Kasih System!

Terima Kasih System!
63.Siapa itu Alana?


__ADS_3

Giselle selesai mengambil baju dari lemari ayahnya untuk pakaian ganti sistem, dia terkejut melihat Marie mengaduh kesakitan juga dapurnya yang berantangan karena minyak yang berceceran di lantai.


Dengan segera Giselle menghampiri Marie"Marie, kamu kenapa?!"Giselle melihat luka di tangan Marie.


"Aku terkena minyak untuk menggoreng ikan"jawabku jujur.


"Memang nya kamu ngapain tadi Marie astaga.. "Giselle dengan cepat bergegas dan mengambil kotak obat P3K yang di simpan di dalam lemari bajunya.


Kebetulan sekali ada salep untuk luka bakar, sebelum luka Marie melepuh lebih baik di kasih salep secepatnya agar tidak bertambah parah.


"Sini tanganmu!"ucap Giselle lalu mengambil salep di dalam kotak P3K.


Aku memberikan tanganku yang terluka, sepertinya aku akan di obati oleh Giselle.


Aku hanya menghela nafas kasar, ini semua karena kesalahan ku sendiri yang seenaknya dan ceroboh.


Giselle dengan lembut mengoleskan salep di luka yang aku derita.


"Shhh.. " aku merasakan perih yang luar biasa di luka bakar tadi.


"Tahan Marie, kamu jangan apa²in kalau kamu mau sembuh!" Giselle mencoba memperingatkan Marie agar tidak mengelap salep yang sudah dia oleskan.


Aku mengangguk dan mencoba sekuat diriku untuk bertahan dari rasa perih yang luar biasa, tapi rasa perih itu perlahan menghilang setelah 20 menit.


Hanya sedikit perih dan tidak menggangguku lagi, tidak membuatku berdesis merasakan sakit. Rasanya lebih baik dari sebelumnya.


"Marie apa kamu sudah mendingan?" sistem yang sudah memakai baju akhirnya menghampiri Marie.


"Sudah kok" aku tersenyum pada sistem, lalu melihat Giselle sudah menaruh makanan di atas meja makan.


"Syukurlah kalau gitu, yasudah ayok kita makan dulu pasti kamu sudah lapar"


Akhirnya aku dan sistem makan malam dengan tenang, makanan buatan Giselle ternyata enak bahkan tidak kalah enak dengan masakan sistem.


"Giselle masakanmu enak" aku menaikkan 1 jempol.


Pujian ku membuat Giselle tersipu malu"Ma_makasih Marie"

__ADS_1


Aku hanya mengangguk dan menghabiskan makananku, aku dan sistem di suruh ke kamar masing-masing setelah makan karena urusan cuci piring biarlah menjadi tiga Giselle.


"Oh ya Giselle kamarku ada di sebelah kanan atau kiri?" tanyaku agar tidak tertukar oleh sistem.


"Kamu kanan dan tuan AL kiri" jawab Giselle.


Aku dan sistem akhirnya berjalan dan memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat. Lumayan lelah juga, besok setelah pulang kerja aku akan menjenguk Alana, karena tadi aku tidak sempat jadi aku memutuskan besok akan menjenguknya.


"Alana, aku merindukanmu" gumamku sambil memikirkan wajah Alana yang lucu.


Entah kenapa sepertinya batin ku dan Alana sudah terikat padahal Alana bukan anak dari rahim ku.


Aku menutup mataku hingga aku tertidur lelap.


*****


Keesokan hari aku bangun dan bersiap menggunakan baju yang sudah di sediakan Giselle. Kami bertiga berangkat bersama ke kantor.


"Hari ini kamu mau aku traktir makan sehabis pulang kerja?" tanya Giselle.


"Tidak bisa aku harus menjenguk Alana hari ini" jawabku jujur, jujur aku sangat khawatir pada Alana aku ingin melihat dia sudah sadarkan diri atau masih belum.


Aku bingung apakah harus memberi tahu odentitas Alana atau tidak, Giselle pasti tidak akan percaya jika aku mempunyai anak angkat.


"Itu.. anak angkatku" ucapku jujur, Giselle hampir tersedak ludah sendiri karena mendengarku mengaku Alana merupakan anak angkat yang aku miliki saat ini.


"Hah? apa kamu gila? bagaimana kamu bisa mengangkat seorang anak secara sembarangan?! "Giselle tidak habis pikir, mengapa Marie bisa tertarik mengadopsi anak secara sembarang tanpa ada konfirmasi.


"Dia hanya pemulung, aku kasihan melihatnya sudah 1 tahun seperti itu dan akhirnya aku merawatnya" aku sama sekali tidak masalah mengadopsi seorang anak, aku juga menyukai Alana dan aku merasakan kasihan sekali dengannya.


"Astaga Marie bagaimana bisa kamu mengadopsi anak kotor seperti itu.. "


"Memangnya kenapa?seperti nya rata-rata kamu maupun orang-orang di luar sangat tidak menyukai gadis pemulung?" rasanya aku ingin marah bagaimana bisa manusia zaman sekarng meremehkan perempuan dan menganggap aurat perempuan adalah untuk kesenangan.


Giselle tidak menjawab pertanyaan karena tiba-tiba mobil yang di kendarai sistem telah sampai pada perusahaan ku.


Aku dan Giselle turun dari mobil "Dadah sayang, makasih ya" aku mencium pipi sistem dan itu berhasil membuat sistem tersipu malu. Apalagi masih ada Giselle yang memperhatikan.

__ADS_1


Sistem memegangi pipinya dengan wajah yang sudah memerah, aku hanya tersenyum lalu menarik tangan Giselle untuk memasuki perusahaan. Sudah hampir waktunya masuk perusahaan.


"Eh bos udah pengen masuk ke perusahaan!" Giselle melihat bos besar perusahaan sudha berasa di depan perusahaan.


"Ayok makanya cepat lari yang kencang" ucapku sambil berlari begitu pula dengan Giselle.


Kami berdua terus berlari sehingga berhasil melewati bos tanpa di sadari olehnya. Untung saja bos besar sedang serius melihat HPnya.


Aku dan Giselle bisa menghela nafas lega saat sudah berada di dalam perusahaan, kami berdua ikut berbaris untuk memberi hormat pada bos perusahaan.


"Selamat pagi bos" serentak semua karyawan bersuara.


Bos besar hanya mengangguk dan langsung memasuki ruangan kantornya.


Sutradara mengatur semua karyawan yang akan berakting hari ini.


"Baiklah karena hari ini adalah di mana scene horor akan di laksanakan, Marie kamu sudah siap kan?" sutradara melihat Marie yang sepertinya sudah siap serta sudah mengganti pakaian pemeran Felicia.


"Sudah" jawabku agak bersemangat ingin memulai peranan yang dimainkan olehku.


"Baiklah kalau sudah siap, semuanya juga sudah kan?" tanya sutradara pada semua pemeran yang akan hadir di tayangan horor kali ini.


Mereka semua dengan serempak menjawab sudah. Mereka cukup bersemangat juga sama halnya dengan Marie yang sudah menantikannya.


Kamera dan barang-barang yang akan di jadikan adegan horor telah di persiapkan, juga microfon dan segala hal yang menyangkut dengan adegan kali ini.


-Memulai Adegan-


"Felicia, nak ayok makan dulu" ibu angkat Felicia mengetuk pintu kamar karena Felicia masih ada di dalamnya.


Di dalam kamar Felicia tidak menjawab apapun dia hanya diam tanpa ingin membuka pintu kamarnya juga, cukup membuat ibunya repot tetapi itu sudah biasa.


Bahkan ibu Felicia heran apakah dia sedang mengalami gangguan mental bahkan hampir setiap hari Felicia jarang sekali menyapa keluarga besarnya, tidak menyukai kebersamaan di keluarga tersebut.


Hingga beberapa menit tidak mendapat sahutan ibu Felicia akhirnya meninggalkan kamar Felicia. Dia kembali ingin memberitahukan suaminya serta kedua anak laki-lakinya.


Ibu angkat Felicia bernama Margaret, sudah berumur sekitar 45 tahun tetapi wajahnya masih terlihat muda hanya terdapat sedikit keriput di bawah matanya.

__ADS_1


Dia mengadopsi Felicia karena dari dulu sangat menginginkan anak perempuan, hanya Felicia sekarang satu-satunya anak perempuan di keluarga besarnya, walau hanya anak angkat.


Margaret berharap Felicia akan membuka hatinya untuk keluarganya yang baru, akan menyayangi kakak-kakak nya juga.


__ADS_2