
Keesokan harinya aku bangun tanpa beban pikiran, serta tenaga ku sudah pulih kembali.
"Tumben sekali sistem tidak membangunkanku"aku tidak melihat sistem di kamarku biasanya pagi-pagi dia sudah berada di kamarku karena memang sengaja aku tidak mengunci pintu agar sistem bisa masuk ke kamarku dengan leluasa.
Tetapi bukan berarti leluasa untuk seenaknya memasuki kamarku, aku percaya sistem tidak akan melakukan tindakan senonoh jika aku tidak menginginkannya.
Aku berjalan keluar kamar dan melihat jam asih menunjukkan pukul 06.30 pagi, aku pergi kedapur berharap sistem ada di sana mempersiapkan makanan.
Aku bisa bernafas dengan lega, ternyata sistem memang sedang memasak untuk sarapan ku.
"Hari ini aku memasakkan mu cumi disambelin dan juga nasi goreng" sistem meletakkan nasi goreng yang sudah matang sedari tadi di atas meja, kali ini sistem hanya membuat dua piring nasi goreng itupun pasti Marie bisa kenyang karena khusus untuknya sistem memasakkan agak banyak.
Beberapa menit cumi disambelin itu pun matang, rasanya tidak pedas karena menggunakan cabai merah. Tapi tenang saja hasilnya tidak akan mengecewakan untuk Marie.
"Silahkan di makan" sistem memakan duluan nasi goreng dan juga cumi yang sudah di sendok kan ke piringnya.
Aku menatap sistem dengan perasaan mengganjal, entah apa maksud dari perasaan ini. Tanpa lama-lama aku menatap sistem aku akhirnya memakan masakan sistem yang sangat lezat, setiap hari masakannya tidak pernah gagal dan pastinya membuat ku ketagihan dengan rasanya.
"Seperti biasa masakanmu enak banget! "puji ku sambil memberikan dia jempol padanya.
Sistem hanya tersenyum, ia turut senang karena Marie menyukai masakannya.
Seperti biasa sistem mengantarkan Marie ke kantor tanpa membuka pembicaraan sehingga keadaan di dalam mobil menjadi hening.
"Sistem, kenapa setelah kemarin kamu menjadi sedikit aneh?" tanyaku memecahkan keheningan.
"Aneh gimana?" bukannya menjawab sistem malah bertanya pada Marie.
"Ya kamu jadi banyak diam, biasanya tidak se canggung ini" aku menyadari sistem memang sedikit aneh hari ini.
Sistem terkekeh"Mana ada, mungkin itu perasaan kamu saja aku biasa ajah kok gak canggung"sistem tersenyum, wajahnya sama sekali tidak menoleh sedikitpun karena dia terlalu fokus menyetir.
__ADS_1
Ada benarnya juga, mungkin ini hanya perasaan ku saja. Aku menghela nafas dan akhirnya tidak berbicara apapun lagi hingga mobil sistem berhenti di depan perusahaan ku .
"Marie semangat ya, aku akan menunggu mh pulang disini" sistem melambaikan tangan saat Marie sudah menuruni mobilnya.
Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya"Makasih sistem"ucapku tersenyum dan langsung menyebrangi jalan untuk masuk ke dalam perusahaan ku.
Karena ini hari terakhir aku akan mentraktir teman-temanku, lalu setelah itu aku akan mengucapkan salam perpisahan pada mereka.
Quest selesai hari ini pada pukul 5 sore, aku pulang kerja jam 3 sore dan masih ada waktu untuk dihabiskan bersama mereka selama 2 jam.
Sebenarnya aku sjdha nyaman bekerja di perusahaan ini, mempunyai tenan yang baik dan mendukungku serta banyak orang yang menyayangiku. Jujur aku sangat menyayangkan nya tetapi mau bagaimana ini hanyalah sebuah quest bukan kemauan ku sendiri.
Giselle melihat Marie yang datang lebih awal, tumben sekali dia datang lebih awal 20 menit.
"Hai Marie" Giselle menghampiri Marie lalu menyapanya.
"Oh halo Giselle" sapaku lalu tersenyum padanya.
"Iyah karena ini adalah hari terakhir aku berada di perusahaan ini" ucapku jujur sehingga membuat Giselle terkejut.
"Maksudnya apa Marie? jangan bilang kamu mau keluar dari perusahaan ini? " tanya Giselle berharap jika Marie hanya bercanda.
Giselle sudah sangat menyayangi Marie sahabatnya sendiri, bahkan sampai kapanpun tidak ingin berpisah dengan Marie. Dia ingin selalu bersama Marie menghabiskan waktu selama mungkin dengannya.
Giselle meneteskan air matanya karena sangking sedihnya, bahkan tidak ingin berpisah dengan sahabatnya. "Ini semua tidak benar kan Marie, jawab aku! "ucap Giselle sambil mencengkram bahu Marie.
Tetapi bagiku tenaga Giselle bukanlah apa-apa jadi aku tidak merasa sakit sedikitpun. Aku tahu yang dirasakan oleh Giselle, pasti berat rasanya menerima kenyataan jika sahabat baiknya selama ini akan meninggalkannya.
Aku hanya mengangguk tanpa menjelaskan alasanku ingin berhenti dari perusahaan ini, aku membiarkan Giselle menangis tanpa bisa berbuat apapun. Bahkan ada rasa bersalah yang aku rasakan saat ini, jujur aku juga tidak ingin meninggalkannya sendirian.
"Tapi kenapa?apa ada yang membuatmu tidak nyaman di perusahaan ini sehingga kamu ingin meninggalkan perusahaan ini" Giselle masih menangis, dia memeluk Marie.
__ADS_1
Sakit? tentu saja hati Giselle bagaikan di iris-iris menggunakan pisau, dia tidak rela jika Marie akan pergi.
Jika ini mimpi Giselle berharap ingin bangun dengan cepat dan merasakan kesenangan saat mengetahui ini hanyalah mimpi, tetapi apa lah daya semuanya adalah kenyataan.
"Tidak ada yang membuatku tidak nyaman, ini hanya keinginanku. Dan aku tidak bisa mengatakan ini adalah candaan karena aku benar-benar ingin keluar dari perusahaan" ucapku dengan tekad yang sudah bulat, aku menjalankan semua ini hanya karena perintah sistem. Aku hanya bisa menghela nafas kasar lalu mengelus kepala Giselle yang masih menangis di pundakku.
Tidak peduli orang-orang berlalu lalang Giselle tetap menangis tanpa henti. "Sudahlah malu loh banyak yang melihat kita" ucapku.
"Kamu tau? aku sedih banget tau__aku harus berpisah sama sahabat baikku memang menurutmu ini bukan hal yang wajar jika aku menangis di tempat umum?" tanya Giselle sedikit kesal, dia mengelsp air matanya menggunakan tissue yang dibawanya kemanapun.
"Tidak bukan seperti itu, aku tau perasaan mu aku juga sedih harus berpisah denganmu. Tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa membatalkannya" jawabku sambil tersenyum, tetapi rasanya juga aku ingin menangis hanya saja menangis bukanlah sebuah solusi untuk masalah ini.
"Pokoknya aku gak rela jika harus berpisah denganmu, titik! " tegas Giselle tidak ingin Marie pergi dari kehidupannya.
"Tenang saja aku hanya keluar perusahaan, kamu masih bisa berkunjung kerumahku jika kamu mau" ucapku tersenyum.
Tangisan Giselle mulai mereda karena ucapan Marie barusan"Benarkah? memang rumahmu di mana coba sherlock saat sampai rumah nanti ya"pinta Giselle.
"Sherlock? aku tidak mengerti caranya coba ajarkan aku" ucap Marie.
Giselle hanya mengangguk lalu dengan sabar dia menjelaskan dari awal hingga akhir hingga Marie mengerti dengan penjelasannya.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit aku sudah bisa menangkap semua informasi yang diberikan Giselle.
Aku tersenyum"Baiklah jika sampai rumah aku akan memberikanmu sherlock-an rumahku"ucapku.
Obrolan kami berdua berakhir ketika perusahaan sudah memasuki jam kerja.
😌☺☺☺
Lanjut? gasken..
__ADS_1