Terima Kasih System!

Terima Kasih System!
89.Penyakit Ayah Deni.


__ADS_3

Waktu istirahat sudah habis bel sekolah sudah di bunyikan sebanyak 3 kali, aku tetap melanjutkan pekerjaanku.


"Kak, aku balik ke kelas dulu ya" pamit Akbar untuk memasuki kelas.


"Iyah silahkan, makasih ya minuman tadi" aku membalas senyuman Akbar.


"Sama-sama kakak cantik" jawab Akbar dengan hati yang berbunga-bunga.


Dia berjalan menjauh dari Merie untuk memasuki kelas, jika dia terus bolos di saat jam pelajaran maka akan mendapat masalah dan itu akan mencemarkan citranya di hadapan Marie.


Aku melihat Akbar yang sudah benar-benar menghilang, aku bisa bernafas lega jujur saja aku agak risih jika di tatap secara terus menerus olehnya.


Anak zaman sekarang apakah seperti itu ketika menatap cewek cantik, aku hanya bisa menghela nafasku dengan berat.


"Aku harus cepat-ceoat menyelesaikan quest ini tapi Deni sama sekali belum memperlihatkan sosoknya sedari tadi" aku sedikit cemas karena quest kali ini akan gagal karena seorang anak seperti Deni.


Di sekitar sekolah sudah sepi dan hanya terdapat tukang jajanan saja, mungkin aku akan menunggu kesempatan saat pulang sekolah nanti.


Tapi besok adalah hari terakhir quest jika aku belom bisa menyelesaikan quest menaklukan hati Deni benar-benar gawat.


Aku memegang kepalaku yang agak pusing, pekerjaan juga belum selesai aku harus cepat menyelesaikannya.


*****


Aku sudah menyelesaikan pekerjaan saat waktu sudah hampir saatnya pulang sekolah, dengan setia aku menunggu Deni dan Akbar keluar dari dalam sekolah.


Aku duduk di bawah pohon rindang, angin berhembus kencang membuatku dingin karena aku lumayan mengeluarkan banyak keringat.


Tiba-tiba sebuah tangan menggapai ku dan memberikan sweater hangat. Aku mendongak untuk melihat siapa yang berani memberikan sweater padaku.


"Deni?" aku tidak menyangka orang yang memberikanku sweater adalah Deni.


"Kamu sudah tau keringatmu banyak malah angin-anginan di bawah pohon, bagaimana kalau kamu masuk angin!" ucap Deni khawatir pada Merie.

__ADS_1


Aku tersenyum senang akhirnya hati Deni menghangat juga"Kamu khawatir padaku?"tanyaku sambil tersenyum pada Deni.


Wajah Deni berubah menjadi merah dan dia salah tingkah"Ti__tidak mengkhawatirkanmu aku merasa kasihan jika kamu sakit soalnya kamu kan baru bekerja di sini"Deni membuang mukanya agar tidak bertatapan dengan Merie, dadanya berdegup kencang perasaannya semakin menjadi-jadi.


"Hey Deni kenapa kamu sudah berada di sana duluan?!" Akbar berlari menghampiri Deni dan Merie.


"Oh ternyata kamu sudah bisa mencari kesempatan ya" sindir Akbar merasa tidak senang jika Deni mulai akrab dengan Merie.


Akbar melirik kearah Merie dan terdapat sweater di pundaknya, dia sangat mengenal sweater milik sahabatnya.


Dengan perasaan emosi Akbar mengambil sweater Deni lalu menggantinya dengan sweater miliknya.


"Apa kamu sudah lupa dengan janjimu kawan?" Akbar mengembalikan sweater milik sahabatnya.


"Apa aku salah jika hanya berteman dengan Merie?" tanya Deni dengan perasaan emosi juga, apa salahnya jika dia hanya dekat dengan Merie sebagai teman. Bahkan sahabatnya sendiri berani mempermasalahkan hal sepele seperti sweater.


Sebelum Akbar melanjutkan pembicaraan tiba-tiba ponsel Deni berdering menandakan adanya panggilan masuk.


Deni mengangkat telfon dari sang Ibu. "Halo bu kenapa tiba-tiba telfon?" tanya Deni pada ibunya.


"Ayahmu nak, ayahmu muntah darah lalu pingsan ibu ingin membawanya kerumah sakit tetapi ibu tidak bisa sendiri" jawab ibu Deni dengan lirih di sebrang telefon.


"Memang abang tidak ada bu?!"Deni bertanya lagi untuk memastikan.


"Tidak nak, ibu tidak tau abangmu kemana sepertinya dia sedang bermain dengan temanmu" jawab ibu Deni masih terisak, mengkhawatirkan ayah Deni.


"Baik aku akan segera kesana"Raut wajah Deni ikut khawatir, dengan cepat Deni merogoh kantongnya untuk mencari kunci mobil.


Akun yang melihat Deni dengan raut wajah panik akh langsung menghentikan pergerakannya" Deni kenapa raut wajahmu khawatir setelah menelfon ibumu?"tanyaku penasaran.


"Ayah tiba-tiba pingsan, ibu tidak bisa membawa ayah kerumah sakit sendiri" jawab Deni dengan lirih.


Sontak saja sahabatnya Akbar terkejut"Apa? ayahmu pingsan, Den aku akan ikut melihat kondisi paman"Akbar memegang bahu Akbar, ini bukanlah saatnya untuk melanjutkan perdebatan.

__ADS_1


"Aku juga akan ikut melihat keadaan ayahmu Deni"ucapku penasaran, karena di papan proyektor sistem juga tertulis jika ayah Deni terkena penyakit jantung kecil selain mempunyai kesempatan menaklukan hatinya aku juga bisa mempercepat pengerjaan misi lainnya.


Deni hanya mengangguk dan mempersilahkan teman-temannya mengikuti langkah dia ke arah mobil.


Saat semuanya sudah menaiki mobilnya, Deni melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan membelah jalanan yang macet bahkan sesekali Deni memberanikan diri untuk menyelip kendaraan lain agar mempercepat waktu.


*****


Deni dengan cepat menurunu mobil begitupula dengan Akbar dan diriku, lalu kami bertiga melangkah memasuki rumah untuk melihat keadaan ayah Deni.


"Deni akhirnya kamu pulang nak" ibu Deni dengan cepat menghampiri anak kesayangannya. Kini ibu Deni sudah berhenti menangis.


"Iyah ibu tenang ya, sepertinya keadaan ayah memperihatinkan jika kita membawa kerumah sakit sekarang maka akan memakan waktu yang cukup lama aku takut ayah menderita penyakit yang cukup serius karena usia ayah juga sudah lumayan tua" jelas Deni.


Aku memberanikan diri untuk membuka penawaran menyembuhkan ayah Deni walau aku bukanlah ahli medis dan ini adalah pertama kalinya aku terjun ke dunia Menis tetapi cara dari sistem cukup membantu aku pasti bisa melakukannya sendiri.


"Aku bisa menyembuhkan ayahmu ya walau tidak akan sembuh sepenuhnya tetapi dapat meringankan rasa sakit ayahmu" ucapku pada Deni.


Ibu Deni juga mendengar Merie bisa menyembuhkan suaminya tidak percaya bagaimana anak semuda Merie bisa menyembuhkan suaminya jika dilihat juga Merie bukanlah dokter.


Memang banyak anak muda sudah sukses menjadi dokter tetapi Merie sama sekali bukan dokter bahkan dia tidak punya kartu pengenal dokter rumah sakit daerah.


Karena aku juga sudah membeli bahan herbal di sistem shop biasanya bahan herbal lebih efektif ketimbang obat-obatan dari dokter modern.


Aku sudah menyiapkan Teh hijau, Jahe, Kayu manis, ginseng, ketumbar obat-obatan tersebut hanya bisa meredakan nyeri tetapi aku sudah membeli serbuk penambah efek penyembuhan di sistem shop untungnya koin sistem ku masih ada sisa sedikit juga bahan-bahan yang di beli masih cukup memakai sedikit koin sistem


"Ka__kamu yakin? menyembuhkan orang sakit tidak semudah itu lo" Deni juga merasa tidak percaya, tidak mungkin Merie bisa menyembuhkan penyakit ayahnya. Jika dia memang bisa menyembuhkan penyakit bukanlah seharusnya berprofesi sebagai dokter tapi Merie jelas-jelas bekerja menjadi petugas kebersihan di sekolahnya.


"Nak kamu tidak perlu berbicara seperti itu, kamu akan membahayakan nyawa seseorang jika menyembuhkan seseorang tanpa tahu sedikitpun ilmunya" Ibu Deni menasihati Merie agar tidak berbicara sembarangan lagi.


Aku hanya menghela nafas lalu menggeleng cepat"Tidak aku benar-benar bisa kenapa aku tidak boleh mencobanya dulu?"tanyaku.


Bersambung..

__ADS_1


Lanjut?? gaskenn..


__ADS_2