
Setelah berjalan menyusuri koridor rumah sakit, om dan Tante akhirnya bisa melihat kedua sahabat Tania yang sedang duduk didepan ruang ICU.
Mereka pun segera mendekat ke arah keduanya, dan menanyakan keberadaan Tania.
"Dimana Tania"? Tanya Tante dengan gayanya yang angkuh itu.
"Tania sedang didalam." Jawab Caca.
"Tolong panggilkan Tania , bilang kami ingin bicara."
Caca pun meraih handphone nya menelpon Tania untuk keluar dari ruang ICU untuk menemui om dan Tante nya.
Tania pun segera keluar, tentu dengan harapan om dan tantenya berubah pikiran dan ingin membantu biaya operasi ibunya.
Sesampai diluar, seperti biasa Tania mencium tangan kedua nya, seperti apa pun perlakuan mereka ke Tania dan ibunya, Tania tetap hormat pada mereka.
"Om , Tante."
"Om dan Tante ingin bicara serius dengan kamu Tania"
"Iya om."
"Lebih baik kalian pulang saja, Karena kami sudah datang kesini." Ucap Tante pada Caca dan Tia.
Mereka berdua pun menatap ke arah Tania, dan terlihat Tania mengangguk kan kepalanya tanda setuju.
Caca dan Tia pun meninggalkan Tania bersama om dan Tante nya. walaupun sebenarnya mereka punya perasaan tidak enak.
Namun kedua sahabat Tania itu tidak ingin membuat keributan dengan om dan Tante Tania yang killer itu.
Setelah kedua sahabat Tania pergi om dan tantenya pun langsung duduk dan juga meminta Tania untuk duduk ditengah-tengah mereka.
"Tania om mau bicara penting, ini juga menyangkut ibu kamu."
"Tentang ibu?"
"Iya, kamu mau kan ibu kamu sehat dan dioperasi?" Tanya Tante.
"Iya Tante, tentu saja Tania ingin ibu bisa sehat kembali."
"Tania, kamu akan bisa mengobati ibu kamu dan mungkin juga bisa dibawa keluar negeri."
"Apa Tante dan om mau membiayai pengobatan ibu?"
"Tentu saja bukan kami yang akan membiayai nya, tapi ada seseorang yang akan membiayai pengobatan ibu kamu."
"Seseorang? Siapa Tante?"
"Nanti kamu akan tau sendiri, tapi ada syarat yang harus kamu penuhi?"
"Syarat?"
__ADS_1
"Iya syarat?"
"Tapi tante syarat apa itu?"
"Tania, dia itu ingin melamar kamu menjadi istrinya."
"Melamar? Menjadi istri?"
"Iya tentu saja, bukan kah semua perempuan ingin menikah dan menjadi istri?"
"Iya Tante, Tania tau, tapi!"
"Tapi apa lagi Tania, apa kamu mau berpikir sampai ibu kamu sudah tak bernyawa, seharusnya kamu bersyukur ada orang kaya yang suka sama kamu."
"Tante, jangan bicara seperti itu, Tania akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibu."
"Kalau begitu buktikan, lakukan sesuatu yang bisa membuat ibu kamu bisa di operasi."
"Tapi Tante, Tania belum ingin menikah, Tania masih ingin kuliah, dan membahagiakan ibu."
"Lalu, kalau ibu kamu sudah tiada, siapa yang kamu bahagiakan?"
Tania terdiam, menatap tantenya dengan linangan air mata, sungguh tega tantenya biacara begitu tentang ibunya.
Bukannya mendo'akan kesembuhan ibunya tapi malah bicara yang tidak-tidak.
"Tania, kamu jangan terlalu lama berpikir, yang akan menikahi kamu itu adalah orang yang sangat kaya , nanti kamu akan bisa melanjutkan kuliah mu, Bahkan ke universitas ternama sekalipun, dan kamu juga akan bisa menyelamatkan ibu kamu."
"Ishhh, itu tidak perlu. Yang jelas dia mengenal kamu ,dan dia dingin menikahi kamu, itu yang penting." ucap Tante.
"Pikirkan lah baik -baik Tania, om kasih kamu waktu satu jam, kalau kamu sudah punya jawaban telpon om, om dan Tante mau pulang dulu."
Dan saat itu belum lagi sempat Tania memberikan jawaban, om dan tantenya pun pergi dari rumah sakit.
Tanai terduduk dikursi tunggu pasien, dia ingin rasanya menjerit sekuat tenaga, apalagi om dan tantenya yang jelas bisa menolong dirinya, namun malah tak ingin menolong nya, bahkan menyuruhnya menikah dengan orang kaya.
Tania dalam kebimbangan, tapi Tania bingung untuk memberikan jawaban dalam waktu satu jam, dan jika Tania gegabah Tania bisa saja kehilangan orang tuanya, dan jika menyetujui apakah Tania akan bisa meneruskan kuliah nya.
Tania pun seperti sedang terjebak dalam dua hal yang sangat-sangat sulit untuk nya. Tania perlahan bangun dan mendekati ruang ICU, menatap ibunya dari luar.
Bahkan Tania pun berpikir hal yang sama dengan om dan tantenya, jika dia setuju maka ibunya akan di operasi, Tania pun menarik nafas panjang, memejamkan matanya.
Waktu yang diberikan oleh om dan tantenya semakin berkurang, apa yang harus aku lakukan saat ini, Tania terus bicara pada hatinya.
Dan pada saat Tania sedang menatap ibunya yang terbaring lemah, tiba-tiba Tania melihat, ibunya kejang -kejang, Tania pun langsung panik dan memanggil dokter jaga malam itu.
Untuk beberapa saat dokter pun mulai melihat kondisi ibunya, dan setelah melihat kondisi ibunya, dokter langsung bicara pada Tania.
"Tania, ibu kamu harus segera masuk ruang operasi, kalau tidak kami takut hal buruk terjadi pada ibu kamu."
"Tapi dokter saya belum punya uang."
__ADS_1
"Kamu langsung bayar dulu uang yang ada besok pagi kamu harus lunasi semua biayanya."
"Tapi dok?"
"Tania semua keputusan ada sama kamu."
Tania benar- benar dalam kegalauan dia bingung apa yang harus dia lakukan, Tania mondar mandir didepan ruangan ibunya yang masih diperiksa dokter.
Dan pikiran Tania pun seakan buntu, dia tak bisa berpikir apapun saat itu, Tania mengambil handphone nya dan menelpon tantenya
"Hallo Tante!"
"Iya Tania, ada apa?"
"Tante Tania setuju untuk menikah dengan orang yang ingin menikahi Tania."
"Nah gitu dong Tan, itu tandanya kamu anak yang berbakti, kamu sudah memilih pilihan yang tepat."
"Tapi Tante, Tania mau besok pagi dia membayar biaya operasi ibu, karena malam ini ibu akan langsung di operasi, kondisi ibu memburuk."
"Oke, itu urusan gampang, Tante telpon orang nya dulu ya!"
"Tapi Tante, apa boleh Tania bertemu dengan orang itu?"
"Tidak perlu kamu pikirkan itu yang penting dia akan menikahi kamu secara sah.".
Dan tanpa menunggu jawaban dari Tania, Tante pun mematikan handphone nya, aku yang saat itu sedang duduk dikursi tunggu pasien, menyandarkan tubuhku.
Aku tidak tau apakah pilihan ini akan menghancurkan hidup ku atau kah ini jalan terbaik untuk aku dan juga ibu.
Malam itu aku langsung bergegas menuju administrasi dan membayarkan biaya operasi ibu dengan uang tabungan ku dan juga uang Caca dan Tia.
Aku benar-benar berharap bahwa besok pagi akan ada yang membayarkan biaya operasi ibu seperti apa yang dikatakan Tante, dan ibu bisa segera masuk ruang operasi.
Tak berapa lama dokter yang tadi menemui Tania pun keluar dan mendekat ke arah nya.
"Tania, besok pagi ibu kamu akan dioperasi, dan besok pagi kamu juga harus melunasi biaya operasi ibu kamu."
"Iya dok, saya sudah membayar uang muka untuk biayanya, besok pagi semuanya akan dilunasi dok."
"Baik kalau begitu, kami akan persiapkan ruang operasi untuk ibu kamu, dan saya khawatir kalau semakin ditunda nyawa ibu kamu bisa-bisa tidak tertolong."
Dan dikediaman Tante dan om nya Tania, mereka sedang berdiskusi melalui telepon dengan kakek nya Danil, tentang persetujuan Tania untuk menjadi istrinya.
Namun ternyata semua tak mudah, karena kakek Danil menginginkan Tania menandatangani surat perjanjian pra nikah.
Malam itu Tania begitu gundah, dia sama sekali tak bisa memejamkan matanya, namun Tania terus berpikir positif, mudah-mudahan pilihannya kali ini adalah hal yang tepat untuk menyelamatkan ibunya.
Tania yang gelisah pun hanya mondar mandir dari ruang ICU ke koridor rumah sakit, mata Tania tak lagi bisa terpejam,
Besok saat ibunya di operasi dia pun harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
__ADS_1
Tapi akan kah tania mampu menghadapi semuanya? Berpikir hidup dengan orang yang tak dia kenal pun seakan begitu sulit.