Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Akad yang penuh tanda tanya


__ADS_3

Ini adalah malam ketiga Tania menginap dirumah sakit, dan malam kedua ibunya setelah di operasi, ibu sudah terlihat sedikit lebih baik, sudah bisa di ajak bicara walaupun masih dengan berbisik.


Malam ini ibu bicara banyak, dan disetiap perkataan nya, dia terus saja mengingatkan aku untuk melanjutkan kuliah dan menjadi orang sukses, apapun terjadi.


Aku tentu saja mengiyakan, dan berjanji pada ibu kalau aku akan melanjutkan kuliah ku dan sukses, dalam hati aku sedang berharap, mudah-mudahan kakek Danil tak mengingkari janjinya, untuk membiayai kuliah ku.


Aku terdiam memikirkan nasibku kedepan nya, Dan besok adalah hari dimana semua hidup ku akan berubah, aku akan menikah dengan seorang pria tua.


Terasa malam itu begitu cepat berlalu, padahal aku berharap waktu berhenti berputar agar aku tak bertemu dengan hari ini, hari yang seharusnya di impikan oleh banyak gadis, namun menjadi hari yang aku benci.


Menikah bukan lagi menjadi impian ku, aku benci kata-kata itu, aku tak pernah menyangka kalau akan memiliki suami yang seharusnya pantas menjadi ayah bahkan kakek untuk ku.


Tania sama sekali tak bersiap-siap dia masih dengan baju lusuh nya, dia merasa seluruh hidup nya akan hancur setelah hari ini, Namun tania tak ingin membuat ibunya khawatir,bahkan Tania pun bilang pada ibunya kalau hari ini dia akan pergi untuk mengurus keperluan kuliah nya, dan ibu hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Tania pun pergi ke parkiran rumah sakit, Dia memutuskan untuk menunggu disana saja, agar ibunya tak bertanya jika ada yang menjemputnya kerumah sakit. tania duduk dikursi panjang didekat parkiran, pikiran nya menerawang, mata nya sembab karena terlalu lama menangis.


Namun tak perlu lama menunggu, sopir keluarga sanjaya pun telah tiba dihadapannya, tak sepatah kata pun yang tania ucapkan, dia langsung masuk dan duduk dibelakang pak sopir, mobilpun terus melaju menuju ketempat acara yang akan dilaksanakan, sekitar satu jam lebih Tania berada didalam mobil, dan saat itu dia pun tak tau dimana dia sedang berada .


Akan tetapi Tania seakan tak perduli lagi dengan apapun , Tania sudah pasrah pada nasib hidup nya. Setelah turun dari mobil Tania pun mengikuti saja kemana arah langkah sopir pribadi keluarga sanjaya itu, Air mata sudah memenuhi kelopak mata nya saat itu, dia sudah coba untuk tidak menangis lagi namun semua itu tak dapat dia cegah.


Dan dikediaman nya Danil,Disana semua sedang bersiap-siap karena akan menghadiri pernikahan, pernikahan sang kakek yang diketahui Danil, Namun dia sama sekali tidak tau kalau mempelai wanitanya adalah sahabat nya sendiri.


Setelah semua bersiap-siap ,Danil dan keluarganya pun berangkat ke gedung yang telah dipersiapkan sang kakek sebagai tempat resepsi pernikahan.


Diperjalanan Danil hanya diam, pikirannya sedang menerawang tentang siapa wanita yang mau dinikahi oleh pria tua seperti kakek nya.


Namun Danil seakan buntu, dia tak menemukan wanita mana pun karena setau dirinya selama berada di Jakarta kakek nya tak pernah terlihat membawa perempuan mana pun.


Danil pun tersadar dari lamunannya, setelah dipanggil sang mama, yang mengajaknya untuk turun , Danil bahkan tak melihat jalan mana yang dilalui kendaraan yang dia tumpangi, karena larut dalam lamunannya.

__ADS_1


Semua kelurganya pun berjalan masuk kedalam gedung ,dan menuju tempat yang telah disediakan yang ada dilantai dua , Danil yang penasaran segera mempercepat langkah nya agar bisa mencari dimana kamar yang digunakan untuk menghias pengantin wanita.


Semua kamar dilantai dua telah dibooking oleh keluarga Danil jadi dia tak perlu takut kalau kesasar dan salah masuk kamar, akan tetapi belum juga Danil sampai pada tujuannya, sang kakek sudah menyusul nya dan mengajak nya untuk menuju tempat akad nikah.


Danil sedikit kesal, tapi dia tak ingin berdebat dengan sang kakek dan bisa merusak suasana disana. Dengan malas Danil pun ikut bersama kakek menuju tempat akad , Ternyata disana sudah banyak keluarga dan kolega dari papa dan kakek nya yang sudah menunggu ditempat akad nikah.


Danil juga melihat kakek nya ikut bergabung disana, Danil yang melihat itu pun langsung mendekat ke arah sang kakek, dan bicara dengan sedikit berbisik.


"Kakek!" Panggil Danil.


"Iya kenapa?"


"Kenapa kakek belum berganti pakaian apa kakek akan menggunakan jas ini untuk pernikahan?"


Namun bukan jawaban yang Danil dapat kan, melainkan hanya sebuah senyuman dari kakek nya, senyuman yang telah lama tak pernah Danil lihat, selama ini hanya wajah datar dan dingin yang selalu kakek nya perlihatkan.


Kakek pun mendekati penghulu dan memintanya untuk menuju meja akad yang telah dipersiapkan, namun kakek belum juga terlihat duduk dihadapan penghulu, apalagi mempelai wanita.


Sepertinya kakek memang sengaja merahasiakan siapa wanita yang akan dinikahinya, bahkan dari kami kelurga dekatnya, Danil masih menatap ke arah kakek nya.


Namun Danil berpikir saat itu kakek seperti sedang menunggu seseorang, karena terlihat sedikit gelisah dan sesekali melihat jam.


"Bagaimana tuan?" Tanya penghulu saat itu.


"Tunggu sebentar lagi!"


Semua tamu mungkin bertanya-tanya siapa yang sedang ditunggu, dan mereka juga pasti sangat penasaran sama dengan Danil, karena mereka di undang Tampa sebuah undangan khusus ,jadi tak seorang pun yang tau siapa yang akan dinikahi oleh pria tua tersebut.


Kakek pun terlihat berdiri dan mengambil handphone, menelpon seseorang, tapi Danil tidak tau siapa yang sedang kakek nya telpon, semua yang ada diruangan akad pun sudah dipersilahkan untuk duduk.

__ADS_1


Dari arah pintu masuk Danil melihat seseorang yang tak asing untuk dirinya, yaitu adik bungsu dari ayah nya, yaitu Prasetya Sanjaya, pria itu terlihat berjalan ke arah mereka.


Namun Danil sedikit merasa aneh , kenapa pamannya mengenakan jas berwarna putih,dan lebih terlihat seperti mempelai prianya dibanding kan sang kakek.


Namun Danil tak ingin memikirkan hal itu, dia lebih ingin lagi mengetahui dimana mempelai wanita nya.


Kakek berdiri dan menghampiri putra bungsu nya, dan memeluknya, namun yang dipeluk bersikap dingin, Bahkan seakan dia dan ayah nya tak saling kenal.


"Terimakasih Pras,kamu sudah datang dan memenuhi permintaan papa."


"Aku terpaksa."


Hanya itu jawaban yang diberikan oleh pria yang ber- umur 30 tahun itu. Tampa bicara apapun lagi dia pun berjalan ke arah dimana penghulu sudah menunggu.


Tampa bicara sepatah kata pun lagi, dia langsung duduk berhadapan dengan penghulu, semua yang berada diruangan itu saling tatap dan keheranan, dengan apa yang dilakukan oleh pamannya Danil yang baru datang.


Tak terlihat keramahan diwajah itu, tatapan datar, Dan dingin, seakan bisa menghancurkan semua yang ada diruangan tersebut. Apa bisa kita mulai tuan?"tanya penghulunya kembali.


"Iya silahkan." Jawab kakek.


Dan saat itu kakek dan paman Danil yang telah duduk berhadapan dengan penghulu pun tak lagi saling bicara, bapak penghulu mengulurkan tangannya, diatas meja yang dialasi oleh kain berwarna putih bersih itu.


Ada yang janggal menurut Danil, kakek terlihat tak menjabat tangan penghulu, padahal kakek saat itu akan menikah, Danil pun jadi berpikir apakah sang kakek berubah pikiran dan tak jadi menikah.


Namun setelah hampir dua puluh menit menunggu, penghulu pun bertanya tentang kesiapan mempelai pria saat itu.


"Bagaimana apa sudah siap? Atau masih ingin menunggu sejenak?"


Tak ada yang memberikan jawaban, Danil melihat paman nya menatap ke arah kakek, dan apakah saat itu pamannya menentang pernikahan sang kakek? Dan akan kah pernikahan ini dibatal kan?

__ADS_1


__ADS_2