Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Kehidupan suami ku


__ADS_3

Pras kembali turun ke tempat Tasya, Tasya sudah selesai makan dan sudah tidak berada di meja makan lagi, Akhirnya Pras makan sendirian.


"Bik Siti dimana Tasya?"


"Non Tasya menunggu diruang tamu tuan."


"Terimakasih bik, nanti kalau Tania sudah bangun panaskan makanan untuk nya!"


"Baik tuan."


Setelah selesai makan malam, Pras pun keruang tamu mencari Tasya.


"Kamu kenapa lama sekali dikamar Tania?"


"Tania sudah tidur, dan Aku juga sudah selesai makan."


Tasya menatap Pras, tidak biasanya lelaki dihadapannya itu tidak nyambung saat ditanya, namun pras pura-pura tidak tau kalau Tasya sedang menatap dirinya.


"Pras, malam ini aku akan menginap disini oke!"


"Biasanya pun kamu tidak pernah izin untuk menginap."


Tasya Hanya tersenyum manis, Dan menyandarkan kepalanya dibahu pras dengan manja, untuk Pras itu hal biasa, karena begitu lah kehidupannya dan juga Tasya selama ini.


Bik Siti yang saat itu ingin melewati ruang tamu pun mengurungkan niat nya, bik Siti kadang sering tidak habis pikir dengan Tuan nya, yang selalu membawa Tasya menginap dirumah itu, akan tetapi bik Siti hanya pelayan, dia tak bisa berbuat apapun.


Bik Siti kembali kedapur ,dan menuju kamar nya untuk istirahat malam itu, suasana rumah mulai hening, karena semua sudah larut dalam mimpi masing-masing, Tania yang baru terbangun setelah tertidur sejak jam 07.00 malam tadi pun turun menuju dapur, Tania ingin minum.


Tania berjalan perlahan ,Karena memang jiwa nya belum sepenuhnya kembali setelah terbangun dari tidur, dan kembali saat melewati kamar Pras, Tania mendengar suara perempuan, namun bukan suara orang berbicara, Tania memperlambat jalan nya untuk memastikan pendengarannya.


Suara itu semakin jelas terdengar, Tania memejamkan matanya, " apakah wanita itu masih disini? Dia tidak punya rumah?"


Tania berbicara pada dirinya sendiri sambil berjalan perlahan meninggalkan kamar Pras, turun kelantai satu dan menuju dapur, mengistirahatkan tubuhnya sebentar dikursi yang ada diruang makan.


" Non Tania!" Sapa bik Siti yang mengagetkan Tania.


"Bik!"


"Non mau makan?"


"Tidak bik Tania hanya ingin minum, Apa bibik ingin minum juga?"


"Tidak non ,bibik dengar suara didapur ,jadi bibik teringat non Yang belum makan malam, makanya bibik bangun."


"Maaf ya bik, Tania mengganggu tidur bibik."


"Tidak apa-apa non, bibik memang begitu gampang terbangun kalau ada suara-suara."


"Non Tania apa sedang tidak enak badan?"


"Tidak bik, Tania baik-baik saja."


Memperlihatkan senyum nya ke arah bik Siti, dan akhirnya bik Siti juga ikut duduk disana, padahal tidak ada yang mereka lakukan, keduanya larut dalam pembicaraan tentang rumah itu.


"Bik!" Panggil Tania.


"Iya non."


"Apa pacarnya om Pras itu tidak punya rumah?"

__ADS_1


"Maksud nona?"


"Itu bik, si tante Tasya apa tidak punya rumah sampai menginap disini?"


"Hahahaha , non bisa aja."


Bik Siti pun terkekeh dengan pertanyaan dari gadis dihadapan nya, tapi benar juga kata non Tania, dia lebih sering menginap disini dari pada dirumah nya.


"Bik, kok diam?"


"Enggak non, non Tasya itu memang sering menginap disini, Bahkan kadang-kadang tuan Pras membawa teman-teman nya yang lain menginap disini."


"Hmmm, berarti teman-teman om Pras itu Suka kesini ya bik?"


"Iya, non Tania nanti jangan kaget kalau sering ada pesta-pesta disini."


"Sungguh aneh ya bik kehidupan om Pras itu, apa Papa nya tau tentang hal ini?"


"Tau non, makanya kemarin tuan besar meminta tuan Pras ke Jakarta, dan ternyata balik nya bawa non Tania kan?"


"Iya bik, apa semua kehidupan di negeri ini begini bik?"


"Ya begitulah non."


"Apa om Pras dan papa nya tidak berhubungan baik?"


"Keinginan dan jalan hidup yang dipilih masing-masing membuat mereka ya beda pendapat non."


Aku hanya mengangguk kan kepala tanda mengerti.


"Seandainya saja non, Tuan Pras itu menikah mungkin dia tidak akan seperti sekarang ini."


"Ya Ampun non, pelan-pelan minum nya sampai tersedak begitu."


"Enggak apa-apa bik, Tania hanya terlalu haus jadinya pengen buru-buru minum."


Aku pun nyengir kuda , untuk menyembunyikan apa yang aku pikirkan saat itu.


"Bik, Lalu kenapa om Pras tidak menikah saja dengan Tasya?"


"Iya karena non Tasya itu katanya belum siap menikah, dia ingin bebas berkarir, dan menurut non Tasya menikah atau tidak yang penting tuan Pras tetap mencintainya, begitu yang bibik dengar non."


"Hmm, pelik juga ya bik hubungan mereka, jadi apa Tasya itu tidak takut kalau om Pras akan menikahi orang lain?"


"Mungkin tidak non, karena bibik lihat tuan Pras memang begitu mencintai non Tasya, sampai-sampai setiap hari menghambur-hamburkan uang untuk membelikan dia barang-barang branded."


"Gitu ya bik?"


Dan bik Siti terlihat manggut-manggut, Aku pun berpikir makanya om Pras kemarin bilang padanya kalau dia tidak akan pernah menerima pernikahan kami, karena dia sangat mencintai Tasya.


"Bibik sudah lama bekerja disini?"


"Sudah non, sekitar 5 tahun yang lalu non."


"Ya sudah lah bik, besok-besok kita cerita-cerita lagi, bibik istirahat besok harus bangun pagi kan untuk menyediakan sarapan?"


"Iya non, non juga istirahat, kalau ada apa-apa cerita sama bibik."


"Terimakasih bik!"

__ADS_1


Aku pun tersenyum ke arah bik Siti dan berjalan ke lantai atas menuju kamar, dan Akau berjalan dengan cepat saat melewati kamar om Pras, aku tidak ingin mendengar hal apapun dari kamar itu.


Aku langsung beristirahat agar besok bisa bangun cepat, walaupun sebenarnya tidak ada yang aku lakukan dirumah ini.


Setelah mencoba memejamkan mata Aku pun. Terlelap dan masuk ke alam mimpi, sekitar pukul 06.00 pagi aku terbangun.


Meraih handuk dan menuju kamar mandi,


Karena aku belum masuk kuliah, aku pun berencana untuk mengajak bibik berkeliling-keliling rumah mewah ini.


Aku kembali melewati kamar om Pras, dan langsung turun kelantai satu, ternyata pelayan dirumah ini sudah mengerjakan tugas masing-masing, aku pun berjalan menuju dapur,mencari bik Siti yang sedang menyiap kan sarapan.


"Selamat pagi bik!"


"Pagi non, sudah bangun sepagi ini?"


"Sudah dong bik, bibik saja sudah selesai memasak."


"Bik!" Panggil ku.


"Iya non!"


"Bibik hari ini sibuk enggak?"


"Kenapa non, apa ad yang bisa bibik bantu?"


"Bik, nanti temani Tania ya bik, melihat-lihat rumah ini, supaya Tania hafal bik dengan tempat-tempat dirumah ini."


"Iya non, tapi memang nya non mau kabur dari sini Sampai harus tau seluk beluk rumah ini?"


"He he he, bibik bisa aja!"


"Ya sudah mendingan non sarapan dulu kalau lapar, kan malam tadi belum makan."


"Tapi bik Om Pras nya belum bangun."


"Tidak apa-apa non, tuan itu lama bangunnya jika non Tasya sudah menginap disini."


"Memangnya mereka tidak kerja."


"Tuan kan bos nya, ya tidak apa-apa non, terserah mau datang kapan saja."


"Ya sudah bik, Tania sarapan duluan saja."


"Sini biar bibik ambil kan."


"Tidak udah bik, Tania sendiri bisa, bibik lanjutkan aja pekerjaan nya, atau bibik temani Tania sarapan."


"Enggak non, tidak usah, bibik nanti sarapan dibelakang saja dengan yang lain."


Aku menyendokkan nasi goreng seafood yang dibuat bik Siti pagi itu, setelah selesai dimeja makan, belum juga terlihat mereka berdua turun dari lantai atas.


Kalau benar apa yang bik Siti ceritakan malam tadi, mungkin aku harus terbiasa dengan hal itu, aku bukan lah siapa-siapa yang dapat merubah semuanya, apalagi kehadiranku tak di anggap.


Tapi jika aku terus membiarkan semua ini aku juga bersalah, karena saat ini aku adalah istri dari om Pras, Namun Om pras sudah pernah memperingatkan aku untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadinya."


Aku terus bicara dengan hatiku, ya tuhan apa yang harus aku lakukan, aku bingung menghadapi semua ini,Ingin rasanya aku pergi dari tempat ini, tapi bagaimana dengan tuan Sanjaya, dia pasti tidak akan membiarkan aku pergi begitu saja.


Pagi itu, seharusnya di awali dengan senyuman, namun pagi yang cerah menjadi suram untuk ku. Kutatap langit yang mulai diterangi cahaya mentari, ini baru awal untuk ku, apa aku akan mampu untuk melewati ini semua?

__ADS_1


__ADS_2