
Saat sedang bicara dengan bik Siti Al melihat pergerakan dari Tania, dan Al berjalan mendekat, saat itu Pras belum kembali dari sarapan.
"Tania!" Panggil Al yang sudah berada disamping Tania.
"Kak Al!"
"Iya ,apa yang kamu rasakan, Kakak akan panggil dokter "
"Tidak kak, Tania tidak apa-apa."
Suara Tania terdengar begitu lemah, Al langsung mengambil posisi disamping Tania, dan menyentuh jemari Tania, Tania ingin menolak namun dia tidak punya kekuatan saat itu, tubuhnya masih begitu lemas.
Bik Siti yang juga berada disana pun hanya diam saja, dia tidak mungkin melarang Al.
"Tania, apa kamu ingin minum?"
Tania mengedipkan kedua matanya, Al bangun dan mengambilkan air mineral untuk Tania ,karena Tania masih kesusahan untuk duduk akibat kepalanya yang sakit, Al membantu Tania perlahan dan menyandarkan Tania dibahu nya.
Bik Siti merasa kalau Al, seperti menaruh hati pada Tania, tapi itu bukan salah Tania ,karena memang Pras menyembunyikan pernikahannya dengan Tania, dan tak pernah mengakui pernikahan mereka berdua.
Namun saat Tania sedang dalam dekapan Al yang sedang membantunya untuk minum, Pras yang baru kembali dari sarapan pagi pun membuka pintu, Pras menatap ke arah Al saat itu dan begitu juga dengan Al, hanya Tania yang tidak melihat ke arah Pras, karena memang dia sedang benar-benar bertumpu pada bahu Al.
Bik Siti masih diam ditempat nya, dia ingin melihat reaksi dari tuannya saat itu, dan Pras langsung mendekat ke arah Tania, dari sebelah yang berlawanan dengan Al, Pras menarik tubuh Tania kedalam dekapannya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Menatap ke arah Al dengan tatapan dingin, Al yang saat itu pun menatap heran dengan apa yang Pras lakukan, dia terlihat seperti sedang posesif, Tania meringis kesakitan akibat tubuhnya yang tiba-tiba ditarik dan membuat kepalanya terguncang kuat.
"Tania, kamu kenapa?" Al mencoba menyentuh lengan Tania melihat Tania yang kesakitan, namun tangannya ditepis oleh Pras.
"Jangan sentuh dia, Berani sekali kamu memeluk Tania!"
"Maaf om, saya hanya ingin menolong Tania yang ingin minum, tidak ada niat apapun, apalagi ada bik Siti disini tidak mungkin kan saya berbuat jahat."
"Kamu jangan sok perduli dengan Tania, dan saya bisa mengurus dia dengan baik."
"Apa ini yang disebut mengurus dengan baik om, coba om lihat Tania sedang kesakitan."
Keduanya terus berdebat, Tania masih terus memegangi kepalanya dia tidak sanggup untuk mengatakan apapun, mencoba melepaskan diri dari Pras pun sulit baginya.
Bik Siti yang tadi hanya diam ,mendekat ke arah Pras dan Al, dia tidak tega melihat Tania yang kesakitan.
"Tuan, dan mas Al jangan seperti ini, biar saya saja yang mengurus non Tania, kalian ini bukan membuatnya lebih baik tapi kesakitan."
Keduanya pun diam, Pras langsung menatap Tania yang saat itu berada dalam dekapan nya, memang benar Tania sedang memegangi kepalanya yang sakit.
"Bik Siti cepat panggil kan dokter!"
"Iya tuan."
Al saat itu mengalah, tak ingin berdebat lagi, karena memang dia juga tak ingin membuat Tania semakin sakit, Pras menidurkan tubuh Tania kembali dengan benar, saat itu dia terlihat khawatir, tapi apa itu hanya sebagai rasa bersalah, atau adakah rasa lain dihati Pras saat itu?
Setelah dokter datang dan melihat keadaan Tania, saat itu dokter sempat menekankan kembali kepada Pras supaya tidak membuat Tania berpikir atau tertekan untuk saat ini, supaya keadaan nya bisa cepat stabil.
Pras terdiam, padahal tadi pagi dokter sudah ingat kan dirinya, namun malah dia membuat keributan disamping Tania.
"Tania, kakak pulang dulu ya, karena harus ke kampus, nanti kakak kesini lagi!"
"Iya kak, hati-hati ya!"
Pras saat itu ingin marah dengan Al ,apalagi sepertinya Tania juga terlihat akrab dengan Al, tapi dia teringat apa yang barusan dokter katakan.
__ADS_1
Al ,pergi meninggalkan ruangan Tania karena ingin ke kampus, dan ternyata Pras juga ikut keluar dan menghampiri Al.
"Kamu tidak perlu menjenguk Tania, saya bisa mengurus dan menjaganya dengan baik."
"Saya tau, tapi saya datang sebagai teman untuk Tania."
"Tidak ada laki-laki dan perempuan itu berteman, kamu faham?"
"Saya paham, tapi saya bingung dengan Om, kenapa Om sepetinya melarang Tania dekat dengan saya?"
"Karena saya ingin menjaga Tania!"
"Saya bukan orang jahat, jadi tidak perlu Om menjaga Tania seperti itu."
"Itu bukan urusan kamu, dan berhenti panggil saya Om."
"Oke, tapi perlu Om tau saya tidak akan menjauh dari Tania!"
"Apa maksud kamu?"
Al, hanya tersenyum ke arah Pras tanpa memberikan jawaban, dan pergi dari sana, Pras terlihat sangat kesal, dan berpikir apa maksud Al tidak ingin menjauh dari Tania.
Pras masuk kembali ke dalam ruangan rawat Tania, dia diam seribu bahasa, bik Siti yang melihatnya pun merasa aneh dengan tuannya.
"Tuan, ada apa? Apa ada yang bisa bibik bantu?"
"Bik, lain kali jangan biarkan Al datang kesini."
"Tapi kenapa tuan, kan mas Al itu teman kuliah non Tania."
"Saya tidak suka, sepertinya Al itu punya maksud lain dengan Tania."
Bik Siti sengaja memancing Pras, dia mau tau apa tuannya marah karena melindungi Tania, atau karena dia mulai punya hati pada istrinya itu.
" Kenapa bibik bicara begitu?"
"Ya kan kata tuan maksud lain, namanya lelaki dekat dengan perempuan ya kan bisa jadi tuan, apalagi tadi bibik lihat mas Al begitu khawatir dengan non."
Pras menatap ke arah bik Siti, dia sedang berpikir mungkin saja apa yang bik Siti katakan benar, dan Pras tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Kalau begitu bibik jangan biarkan dia masuk kesini lagi."
"Ya bagaimana tuan, kalau non Tania tau nanti dia malah kepikiran."
"Tapi bik saya tidak ingin Tania dekat-dekat dengan si Al."
"Tuan ,maaf kalau bibik lancang, tapi menurut bibik kenapa tuan tidak biarkan saja, mana tau non Tania juga bisa jatuh hati dengan mas Al."
"Bik ,kenpa bibik malah mendukung Al, papa pasti akan sangat marah jika tau."
"Papa tidak akan marah!"
Pintu kamar terbuka dan ternyata itu Suara tuan Sanjaya, yang datang untuk menemui Pras, tapi dia malah mendapat kabar buruk kalau menantu nya dalam bahaya.
"Papa, kapan papa datang?" Tanya Pras namun dia kali ini terlihat gugup.
"Papa baru sampai, tapi papa malah mendengar kabar kalau Tania mengalami kecelakaan, padahal papa titipkan Tania kepada kamu ,supaya kamu jaga dengan baik."
"Tapi ada hal apa papa tiba-tiba datang kesini?"
"Papa datang karena ingin membicarakan tentang waktu sebulan yang papa berikan, dan papa juga ingin membicarakan keputusan Tania."
__ADS_1
Pras menelan ludah nya dengan susah payah, bagaimana kalau papa nya tau kalau dia tidak bisa mengajak Tasya menikah, karena Tasya tidak ingin Terikat pernikahan, dan apa keputusan yang akan Tania berikan setelah kejadian hari ini.
Tuan Sanjaya mendekat ke tempat tidur yang sedang ditempati Tania, melihat gadis dihadapannya begitu pucat dengan kepala dibalut perban.
"Tania, maaf kan papa, karena papa kamu sekarang seperti ini."
Tuan Sanjaya menyentuh kepala Tania, ada rasa bersalah merasuki relung hatinya saat itu, seandainya dia tau penyebab kecelakaan Tania, mungkin tuan Sanjaya akan murka.
Tania terbangun dan membuka matanya, dia samar melihat tuan Sanjaya yang sedang berada disisi nya.
"Kamu sudah bangun nak?"
Tania tidak menjawab, dia tersenyum ke arah tuan Sanjaya, hatinya menghangat mendengar kata nak, Tania merasakan kehadiran seorang ayah untuk nya.
"Papa!" Suara Tania begitu lemas.
"Iya nak ini papa, apa yang kamu rasakan!"
"Tidak pa, Tania baik-baik saja."
"Maaf kan papa, papa janji setelah kamu sehat ,kamu bisa memilih apa keinginan kamu."
"Pa..! Tania ingin kembali ke Jakarta pa, Tania rindu ingin ziarah ke makam ibu."
"Iya, papa janji akan membawa Tania kejakarta."
Tania tersenyum, entah kenapa kehadiran tuan Sanjaya hari ini menenangkan hati nya.
Pras masih diam ditempat nya, apalagi dua hari lagi adalah sebulan yang telah dijanjikan oleh tuan sanjaya untuknya.
Sore itu Al Kembali kerumah sakit, untuk menjenguk Tania, dan kebetulan sekali tuan Sanjaya masih berada disana.
"Selamat siang!" Sapa Al yang baru masuk keruangan Tania.Selamat siang, kamu siapa?" Tanya tuan sanjaya.
"Maaf tuan, saya Al temannya Tania."
Al mendekat dan mencium tangan tuan sanjaya, Al memang seorang lelaki yang sopan. Tuan Sanjaya tersenyum ke arah Al, dan dia yakin laki-laki inilah yang tadi sedang diperdebatkan oleh bik Siti dan Pras.
Al ,mendekat ke arah Tania, melihat Tania tersenyum ke arah nya, kebetulan saat itu Pras sedang keluar.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Tania baik kak."
"Apa ada yang masih sakit? Kakak minta maaf baru bisa datang, hari ini kakak kuliah full "
"Tidak apa-apa kak, terimakasih kakak sudah mau datang menjenguk Tania."
"Iya Tan, kamu harus cepat sehat."
"Iya kak, tapi Tania ingin pulang kejakarta."
Wajah Al terlihat murung, dia memang ingin Tania cepat sehat, tapi Al tidak berharap Tania akan pulang kejakarta.
Tidak jauh disofa yang ada diruangan itu ,tuan Pras sedang memperhatikan mereka berdua , tuan sanjaya bisa melihat kalau Al memiliki perasaan lain terhadap Tania.
Namun tuan Sanjaya membiarkan nya saja, mungkin sudah saat nya dia mengalah dan membiarkan Tania menjalani hidupnya sendiri terlepas dari jerat pernikahan dirinya dan Pras.
Apalagi tuan Sanjaya melihat senyum Tania yang terus terkembang, bahkan senyum itu tak pernah dia lihat saat dia hidup bersama Pras.
Mungkin saat nya Tania dan Pras menjalani hidupnya masing-masing dan mencari kebahagiaan masing-masing, walupun sebenarnya, tuan Sanjaya tidak ingin kehilangan menantu sebaik Tania.
__ADS_1