Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Perdebatan


__ADS_3

"Om, kenapa om ada disini?" tanya Tania ditengah kekagetannya.


"Saya kesini untuk bertemu sama kamu."


"Memang nya ada apa Om?"


"Lebih baik om pergi saja dari sini!"


Tania mendekat ke arah Pras, dia bahkan saat itu lupa kalau sedang memakai jubah mandi. Tania menarik tangan Pras untuk pergi dari sana, dia tidak ingin jika ada tetangga melihat dan berpikir macam-macam, karena memang tak ada yang tau kalau dia telah menikah


Tania bukan tak ingin orang tau kalau dia telah menikah, tapi karena nasib pernikahannya yang seumur jagung itu, Tania tak ingin pernikahannya yang penuh keterpaksaan itu diketahui orang lain.


Dan Tania pun berusaha menarik tangan Pras agar keluar dari rumah nya, namun alih-alih menarik tangan Pras yang kekar, Tania malah terjatuh dan terjerembab diatas tubuh Pras yang saat itu jatuh di atas sofa.


Dan saat itu jantung Tania berdegup dengan key kencangnya, begitu juga dengan Pras, berada begitu dekat dengan Tania membuatnya kehilangan kewarasan nya


Namun Tania segera tersadar kalau dirinya sedang berada diatas tubuh Pras, dia langsung bangun dan membenarkan jubah mandinya saat itu.


"Om Pras, Apa yang sebenarnya Om inginkan sampai Om datang kerumah Tania?"


"Tania, saya ini masih suami Sah kamu, dan tidak ada salahnya kalau saya datang kesini kan?"


"Tania tau Om, tapi Om jangan lupa kalau s bentar lagi kita akan menjadi mantan suami istri."


"Tapi itu tidak akan pernah terjadi jika saya tidak menyetujui semuanya."


"Apa maksud Om, apa Om ingin mempermainkan hidup Tania, apa salah Tania sama Om?"


"Salah kamu, karena telah masuk dalam kehidupan saya."


"Tapi semua sudah Tania jelaskan, Dan Tania juga tidak pernah mengatakan apapun kepada mbak Tasya, jadi tidak ada suatu apapun yang Tania lakukan."


"Apalagi sesuatu yang merugikan Om kan?"


" Memang Tasya tidak tau apapun, Tapi saya Kana memberikan kamu hukuman dengan tidak akan menceraikan kamu."

__ADS_1


"Om Pras Jangan keterlaluan , Memang Tania akui kalau Tania salah telah menyetujui pernikahan kita dulu."


"Tapi Tania mohon , Tolong Om bebaskan Tania, Dan bukankah dengan begitu Om bisa bersama Mbak Tasya? apalagi papa sudah merestui hubungan kalian."


Pras terdiam sesaat, karena memang apa yang dikatakan oleh Tania benar, kalau dia bisa bersama Tasya tanpa harus takut kalau Tasya tau dia telah menikah dengan Tania.


Namun entah kenapa Pras malah merasa berat rasanya harus melepaskan Tania, walaupun dia sendiri tidak tau alasannya.


Selama ini dia benar-benar ingin bisa bercerita dengan Tania dan menjalani hidupnya dengan Tasya, namun entah kenapa dia malah merasa tak rela kalau harus berpisah dengan Tania.


Namun Pras tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Tania, cukup hanya dia saja yang tau, Dan dia harus mencari alasan untuk bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Tania.


"Jadi sekarang Om datang ke Jakarta untuk menghalangi proses perceraian kita?"


"Iya."


Tania terdiam, dia tak mampu untuk berkata apapun, mungkin ini sudah jalan takdir hidupnya, dinikahi karena untuk melunasi hutang, Dan saat ini tidak ingin diceraikan kerena suaminya merasa dirugikan.


Tania masuk ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya, Tania duduk disisi tempat tidurnya, Tania pun menangisi nasib nya saat itu, dia berpikir mungkin dengan Kemabli ke jakarta dan berpisah dengan Pras bisa membuat hidupnya kembali tenang.


Namun ternyata dia salah, Pras malah tak ingin menceriakan dirinya, haruskah dia terus hidup dalam kehidupan yang sepeti ini , dan sampai kapan.


dari luar kamar Pras bisa mendengar Isak tangis Tania, Namun Pras tak bisa berbuat apapun karena memang pada kenyataannya dia sangat mencintai tasya.dan hubungannya dengan Tasya sudah begitu lama.


Hari mulai sore, Pras masih duduk disofa rumah Tania , dan Tania belum juga keluar dari kamarnya, Karena merasa lapar Pras pun memutuskan untuk delivery makanan, dia yakin Tania pasti belum memasak.


Setelah pesanannya datang, Pras mendekat ke arah kamar Tania, dengan ragu Pras mengetuk pelan pintu kamar Tania.


"Tan, Tania buka pintunya!"


Tania ,yang sedang duduk bersandar diatas tempat tidurnya pun, mengarahkan pandangannya ke pintu yang sedang diketuk oleh Pras, namun Tania masih bungkam.


Dan terdengar suara Pras Kembali memanggil namanya, tidak pernah-pernah nya selama dua bulan dia bersama Pras, mendengar lelaki itu memanggil-manggil dirinya.


Tania bangun dan membiak pintu, dan benar saja Pras masih berdiri didepan pintu kamar nya, saat ini Tania sudah berganti pakaian.

__ADS_1


Pras bisa melihat dengan jelas kalau Tania terlalu lama menangis, matanya sembab, namun Pras tak ingin menanyakan apapun.


"Kita makan dulu, kamu belum makan dari tadi siang kan?" tanya Pras.


Tania masih diam, karena dia sama sekali belum memasak apa yang akan mereka makan saat itu, dan Pras seperti tau apa yang sedang dipikirkan oleh Tania saat itu.


"Kamu jangan khawatir, saya sudah delivery makanan untuk kita."


"Lebih baik sekarang kita makan!" ajak Pras.


Semua makanan sudah di letakkan di atas meja. dan Pras juga sudah menuangkan air mineral kedalam gelas untuk dirinya dan Tania, padahal selama dia berada di Amerika dia tak pernah melakukan apapun.


Apalagi hal-hal yang berhubungan dengan dapur, semua yang dia butuhkan telah tersedia di atas meja, Pras berjalan menuju meja makan, dan menarik kursi untuk Tania duduk, namun Tania masih berdiri didepan pintu.


"apa kamu akan berdiri disana Sampai nanti malam?" tanya Pras.


Namun tak ada jawaban dari Tania, biasanya Tania lah yang bnyak bicara dan terus mengajak Pras untuk bicara, namun hari ini Pras lah yang berusaha mengajak Tania bicara, namun Tania seakan bungkam.


"Saya sudah sangat lapar, apa kamu mau kalau saya mati kelaparan dirumah ini?" tanya Pras lagi.


Sebenarnya saat itu niatnya bercanda, namun candaan itu sama sekali tak mendapatkan respon.


Tania berjalan ke arah meja makan, Dan dia tidak memilih duduk disamping Pras, dan dikursi yang sudah di geser kan Pras untuk nya, Tetapi Tania memilih duduk dikursi yang berhadapan dengan Pras.


Tania masih diam, dia mengambil kotak makanan yang ada dia tas meja, membukanya dan saat itu hanya menatapnya saja, seakan selera makannya hilang saat itu.


Dan Pras juga ikut membuka kotak makan Yang ada dihadapannya, Pras mulai menyendok kan nasi goreng kedalam mulut nya, sesekali dia menatap ke arah Tania yang masih diam membisu ditempatnya.


"Apa kamu tidak suka nasi goreng nya?"tanya Pras.


"Suka, terimakasih!"


"Terimakasih? untuk apa?"


"Sudah dibelikan makan malam."

__ADS_1


"Saya lapar, kamu tidak masak."


Key tak menjawab lagi dia diam, dan tak menanggapi apa yang dikatakan Pras, sepertinya keputusan key untuk bercerai sudah bulat. tapi akan kah Pras membiarkan semua itu terjadi?


__ADS_2