
Sesaat suasana jadi hening, aku masih tak percaya kalau yang menikah dengan ku adalah Pras putra dari tuan Sanjaya.
Namun aku tak dapat menolak kenyataan, apalagi saat tuan Sanjaya menyerahkan buku nikah yang memang bertulis kan nama ku dan juga nama putta bungsu tuan Sanjaya.
Entah tipu daya apa yang telah mereka buat, sampai -Sampai aku tak tau apapun, padahal saat itu aku juga diminta menanda tangani surat-surat saat pernikahan.
Tapi mungkin itu karena keteledoran ku yang sama sekali tak membaca lagi dan tak melihat siapa nama suami ku yang tertera disana, Karena yang aku tahu kalau aku menikah dengan kakek nya Danil.
Pantas saja malam itu aku tak di izinkan bertemu siapapun ,bahkan tak diizinkan melihat akad pernikahan ku sendiri. Ternyata banyak rahasia yang mereka simpan.
Ada sedikit rasa lega dihati, karena aku tak jadi nenek untuk Danil sahabat ku, dan juga tak akan memiliki anak tiri seperti Pras itu.
Akan tetapi hidupku akan lebih sulit karena akan memiliki suami yang sepertinya tak menyukai diriku, aku bisa melihat aura kemarahan dimata pria berwajah datar itu.
"Pras malam ini Tania akan menginap disini, papa sudah siapkan barang-barang yang akan dibawanya besok, dan juga tiket pesawat ke Amerika."
"Tapi pa!"
"Jangan membantah, dengarkan semua yang papa katakan ,atau kalau tidak papa tidak segan-segan melakukan semua ancaman papa."
"Pa, tapi ini tidak adil untuk aku pa!"
"Papa harus pergi?"
"Pa!"
Namun yang dipanggil pun berlalu begitu saja dari kamar tersebut, tinggal lah aku yang masih berdiri mematung, andai saja bisa aku lebih baik ikut dengan tuan Sanjaya, dari pada tinggal dengan pri dihadapan ku.
"Sekarang kamu puas kan, telah menghancurkan hidup saya?"
Aku masih diam, aku begitu takut, apalagi Pras yang bicara sambil mengangkat telunjuk nya kewajah ku saat itu.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, urus lah kehidupan mu sendiri, apa yang kamu inginkan dari kelurga saya? Uang? Berapa yang kamu inginkan katakan saja, saya akan berikan tapi setelah itu pergilah dari hidup saya!"
Aku masih diam mematung, tatapan ku mulai nanar karena kelopak mata yang telah dipenuhi air mata. Andai saja lelaki dihadapan ku itu tau aku melakukan semua ini karena dipaksa keadaan ,apakah dia akan terus menghinaku seperti ini?
Aku memalingkan wajah ku ke arah lain,menghapus air mata yang telah lolos di pipiku, tak ada pembelaan diri yang ku lakukan saat itu.
"Kenapa kamu hanya diam, apa kamu bisu?"
"Maaf tuan, tapi saya akan tetap disini, karena tugas seorang istri berada disamping suaminya."
"Tapi aku tak pernah menganggap kamu itu istri."
"Itu bukan hal yang penting tuan, Karena di anggap atau tidak saya tetaplah istri yang sah secara agama dan negara untuk tuan."
Aku mencoba membela diri dengan alasan pernikahan, tapi rasa nya ingin aku pergi dari sana seperti permintaan lelaki dihadapan ku.
Namun jika aku lakukan itu, maka tuan Sanjaya akan melaporkan ku ke polisi dan aku akan kehilangan semu masa depan, itu artinya aku akan mengecewakan ibu.
__ADS_1
Mungkin biarlah aku bertahan hidup dengan pria dihadapan ku, yang penting aku masih bisa kuliah dan mengejar cita-cita ku, aku akan mengumpulkan uang yang banyak dan membayar semua uang yang diberikan untuk Ibuku ,dan pergi sejauh nya dari keluarga ini.
Entah dari mana kekuatan ku saat itu, tapi yang jelas itulah tujuan ku bertahan. Aku tak ingin harapan ibu tak bisa ku penuhi.
Setelah terjadi perdebatan dengan lelaki yang saat ini menjadi suami ku , Pras pun terlihat mengambil jaket kulit berwarna hitam dan pergi dari apartemen.
Hanya tinggal aku yang sendirian terpaku disana.
Setelah kepergian Pras, aku bisa bernafas dengan lega, aku pun terduduk disofa berwana hitam itu, memejamkan mata ku yang telah lelah menangis.
"Ibu, kenapa meninggalkan Tania sendirian bu,Tania takut menghadapi kehidupan ini Bu."
Tania terisak sendirian, dalam hati dia berjanji tak akan menjadi lemah dihadapan siapapun, dia harus kuat.
Malam semakin larut, namun belum ada tanda-tanda kalau Pras telah pulang, aku lelah menunggu, mata ku mengantuk, apakah lelaki itu telah meninggalkan ku sendirian? Mata ku yang sudah tak sanggup lagi melek itupun mulai terpejam, aku memilih tidur disofa, karena tak berani menggunakan tempat tidur mewah milik Pras.
Dan keesokan paginya aku baru terbangun, dan aku mendengar suara gemericik air dikamar mandi, aku pun berpikir pasti Pras sudah pulang. Dan benar saja, tak berapa lama aku melihat Pras sudah keluar dari kamar mandi dengan sudah menggunakan pakaian lengkap.
Dia menatap ke arah ku sesaat , dan berjalan menuju cermin untuk menyisir rambut nya. Namun aku masih diam ditempat ku, aku ingin mandi namun aku takut menggunakan kamar mandi milik Pras.
"Apa kamu akan melamun disitu sampai nanti siang, dan membuat kita ketinggalan pesawat?"
Aku pun refleks langsung berdiri, karena takut dengan tatapan pria dihadapan ku.
"Cepat mandi dan bersiap, jangan lama-lama aku akan tunggu dilobi hotel!"
Setelah selesai, Aku pun berniat membawa koper turun ke lobi ,namun seorang pria berpakaian putih pun melarang ku karena semua barang mereka yang akan membawa nya.
Aku segera membuka pintu lift untuk bisa sampai dilobi dengan cepat. Dan ternyata Aku tidak perlu susah-susah untuk mencari Pras, karena dia telah menunggu di lobi.
Setelah melihat ku, tanpa memberi aba-aba atau sepatah kata pun dia langsung saja berjalan, kaki nya yang panjang membuat ku kesusahan untuk mengejar nya.
Dan ternyata dia ke restauran untuk sarapan pagi. Aku pun ikut duduk dimeja yang sama dengan nya, Namun Aku hanya diam.
"Mau pesan apa?"
"Aku?"
"Iya, siapa lagi? Memangnya ada orang lain selain kita berdua?"
Aku hanya menggeleng dan langsung mengambil buku menu, dan memesan nasi goreng, dan segelas susu coklat.
Dan begitu juga dengan Pras dia juga memesan pesanan yang sama.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan pun datang, kami pun sarapan tanpa ada yang bicara saat itu. Setelah selesai aku kembali mengikuti Pras yang menuju ke sebuah mobil.
Di dalam mobil tersebut ada seorang sopir yang akan mengantarkan kami ke bandara. Aku duduk dibelakang sopir, karena memang Pras sudah duduk disamping pak sopir.
Perjalanan menuju bandara hening, tak ada yang bicara,aku terus menatap jalanan dari kaca samping, tak pernah terpikirkan oleh ku kalau akan meninggalkan tanah kelahiran ku, bahkan saat itu aku belum sempat bercerita apapun dengan Caca dan Tia.
__ADS_1
Bahkan mereka pun belum kembali dari liburan bersama kelurganya, aku menarik nafas, dada ku terasa sesak karena menahan kesedihan. Namun aku tak ingin lagi menangisi takdir hidup ku.
Setelah hampir satu jam, kami pun tiba di bandara , karena masih jam sepuluh kurang 15 menit, kami masih sempat duduk di bandara, semua barang-barang telah diturunkan sopir.
Aku sedikit deg degan karena ini kali pertama aku akan naik pesawat, biasanya aku lebih sering jalan kaki dari pada naik kendaraan, semua itu karena aku harus berhemat.
Setelah terdengar panggilan keberangkatan menuju Amerika aku pun berjalan mengikuti Pras, setelah melewati pemeriksaan, kami pun telah sampai di pintu pesawat.
Aku ragu untuk melangkah dan masih mematung disana, dan Pras yang melihat ku pun menarik tanganku untuk masuk kedalam pesawat.
Kami sudah duduk berdampingan, aku pun gelisah, takut, Pras yang melihat ekspresi wajah ku saat itu pun, mengernyitkan dahi nya.
"Kamu kenapa?"
"Aku takut tuan!"
"Haaah ha ha..!"
Bukannya prihatin dia malah tertawa ngakak, dasar pria tak punya hati. Aku menatap Pras dengan marah.
Sampai akhirnya tawanya berhenti terdengar. Bersamaan dengan itu terdengar suara pemberitahuan kalau pesawat akan lepas landas.
Aku menggenggam erat tangan Pras, aku takut kalau akan jatuh, namun pras malah menepis tangan ku, aku yang semakin takut pun terus berdo'a dalam hati.
Dan perlahan aku merasa lebih tenang, karena Aku tak merasakan apapun saat itu, aku memejamkan mataku.
Setelah menempuh perjalanan 22 jam, kami pun sampai ditempat tujuan, tempat yang belum pernah aku sangka bisa sampai disana walaupun hanya dalam mimpi saja, namun takdir membawa ku sampai dikota paman Sam tersebut.
Sesampai dibandara, ternyata sudah ada mobil yang menjemput kami,aku masih diam dengan kekaguman ku terhadap negeri tempat aku memijakkan kaki saat ini.
Mobil yang kami tumpangi pun berhenti disebuah rumah mewah, berlantai 3 itu, rumah yang layaknya seperti istana yang mungkin aku hanya melihatnya dari televisi saja.
Aku terus mengikuti kemana Pras pergi, karena memang aku sama sekali tidak tau tempat mana pun disini.
Setelah membunyikan bel,terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.
"Selamat datang tuan?" Ucap wanita tersebut.
" Bibik tolong bantu bawakan semua barang-barang ini!".
'iya tuan"
"Oya bik, masukkan koper wanita ini ke kamar tamu!"
"Baik tuan."
Dan Aku pun tau maksud dari Pras saat itu kalau kami akan tinggal dikamar terpisah, aku pun tak keberatan sama sekali. Aku berjalan ke arah koper milikku dan ingin membantu membawakannya, namun wanita yang dipanggil bibik itupun melarang ku melakukannya.
Aku pun masuk kerumah mewah tersebut, ini adalah kali pertama aku memijakkan kaki dirumah ini, rumah mewah Prasetya , akan kah rumah ini menjadi surga untuk hidup ku atau kah sebalik nya?
__ADS_1