
Tania yang masih berada dikamar pun, tak ingin keluar dan bertemu Pras, dia tidak ingin hatinya semakin terluka melihat Tasya yang juga berada dirumah nya.
Saat Tania Tania tidak tau kalau Pras dan tasya sudah pergi dari sana, Tania pun berpikir akan lebih baik jika dia dan Pras cepat-cepat bercerai, karena dia tak ingin terus tersakiti hatinya.
Mata Tania mulia basah oleh air mata, dia enggak pernah menyangka kalau takdir hidup nya akan seperti ini , rumah tangga nya hanya sebuah angan saja.
Hari sudah mulai gelap, Tania masih tak ingin keluar, dia tidak ingin melihat Tasya disana, setelah membersihkan diri Tania memutuskan untuk duduk didalam kamar. Padahal saat itu cacing-cacing diperutnya sudah mulai bernyanyi minta diberikan makanan.
"Aku sangat lapar, tapi aku enggak ingin bertemu Om Pras, apalagi Mbak Tasya." ucap Tania berbicara pada dirinya sendiri.
"Tapi tumben Om Pras tidak memanggilku untuk makan, apa karena ada di Mak lampir ya."
Tania terlihat kesal sendiri, berjalan mondar mandir didalam kamar nya, dan karena sudah sangat lapar dan tidak sanggup lagi menahan suara riuh di perutnya dan ia pun membuka pintu dan melihat keluar kamar nya.
Suasana diluar sangat sepi, Tania tidak mendengar suara siapapun, Tania pun memutuskan untuk keluar, dan tidak ada siapa-siapa disana.
Tania berjalan menyusuri rumah nya, namun dia tidak menemukan Pras ataupun Tasya di sana, Tania pun menjadi heran gimana mereka pergi dan kenapa Pras tidak memberitahunya sebelum pergi.
"Kemana Om Pras? Apa mereka pergi ke hotel bersama?"
"Tapi kalau memang itu benar, kenapa Om Pras harus menolak perceraian kami, apa Om Pras berpikir hubungan kami ini hanya sebuah permainan?"
Tania berjalan perlahan, dan duduk disalah satu sofa di ruang tamu, Dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini, apakah dia juga harus setuju melanjutkan pernikahan nya.
Tapi apa dia sanggup kalau akan terus-menerus melihat suaminya bersama wanita lain? Enggak itu tidak mungkin bisa.
Rasa lapar nya saat ini telah di kalah kan oleh rasa gundah dihatinya. Jam saat itu sudah menunjukkan pukul 07.20 menit , namun belum ada pertanda kalau Pras telah kembali kerumah itu.
"Mungkin lebih baik Aku memasak aja, mungkin aku tidak terlalu kepikiran dengan Om Pras." Tania bicara pada dirinya sendiri.
Tania bangun dari duduk nya dan berjalan menuju dapur, membuka kulkas yang isinya sudah penuh dengan bahan makanan, yang telah disusun rapi oleh Pras.
Tania Kembali berpikir, andai saja Pras itu adalah suami yang mencintai diri nan ya, mungkin dia akan sangat bahagia, namun sayang nya Pras hanya menikahinya karen terpaksa.
Tania begitu menyesali perasaan nya yang tidak dapat dikendalikan , dan akhirnya membuat dirinya sendiri yang terluka oleh perasaan cinta.
Tania mengambil beberapa bahan makanan dan berniat membuat nasi goreng, Tania mulai membuat nasi goreng untuk dirinya malam itu.
Dan saat Tania sedang memasak ternyata Pras pun sudah pulang ,dan Tania sama sekali tidak menyadari itu, dia Bahkan tidak tau kalau nasi goreng yang dimakannya mulai hangus, Tania ternyata sedang larut dalam lamunannya.
Pras yang baru datang mencium bau-bau gosong langsung menuju dapur dan mendekat ke arah Tania.
"Tania apa yang kamu lakukan." berbicara sambil mematikan kompor.
__ADS_1
Tania yang sedang mengaduk nasi pun begitu kaget dengan kehadiran Pras.
"Apa kamu ingin membakar rumah ini?" tanya Pras dengan suara sedikit keras.
Tania menatap ke arah Pras, dia baru sadar kalau nasi goreng yang dibuatnya mulai gosong, karena dia memasak sambil melamun.
Bukannya menjawab pertanyaan Pras Tania malah pergi dari sana.
"Tania, aku masih berbicara sama kamu, kenapa kamu pergi begitu saja."
Namun Tania seakan tuli dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Pras, Dan Pras yang terlihat kesal menyusul Tania ke ruang tamu.
"Ada apa dengan kamu Tania?Apa tidak bisa kamu bersikap sedikit sopan?"
"Sopan, Maksud Om dengan membawa pacar Om kerumah ini?" jawab Tania juga penuh amarah.
"Itu tidak ada hubungannya dengan kamu yang ingin membakar rumah ini." jawab Pras dengan nada masih tinggi.
"Ya Aku memang ingin membakar rumah ini, supaya tidak ada hutang Budi keluarga .yang tersisa dalam hidup Tania."
"Apa Om paham itu?"
"Kamu sudah gila."
"Dan sekarang lebih baik pergi dari sini, Tania sudah tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengan Om, atau pun keluarga Om."
"Kamu kenapa sebnarnya, Kalau kamu tidak suka aku disini, Oke aku pergi."
"Silahkan Om pergi dan jangan pernah Om mencari Tania lagi, karena tania akan mengurus perceraian kita.
"Perceraian" deg perasaan Pras mulai terusik, dia yang tadi juga dengan tersulut emosi mulia tenang.
"Tania, aku minta maaf ,Aku tidak bermaksud marah Sama kamu, tapi itu berbahaya jika kamu memasak sambil melamun."
"Apa itu merugikan Om?"
"Apa maksud kamu bicara begitu Tania?"
"Lalu Tania harus bicara seperti apa?"
Pras diam sesaat, dia melihat Tania yang tidak seperti biasanya, Pras memutuskan untuk duduk di sofa, namun Tania masih berdiri ditempat nya.
"Lebih baik kamu duduk, kita bicara baik-baik!" nada bicara Pras mulai stabil.
__ADS_1
Namun Tania enggan untuk duduk dia masih berdiri ditempat nya.
"Om Pras, tolong ceraikan tania sekarang juga!"
Pras yang tadi sudah duduk dengan tenang, mengangkat wajahnya menatap Tania yang saat itu bicara Tanpa menatap wajah nya.
"Om ,tidak ada gunanya kita mempertahankan rumah tangga yang tidak bisa disebut rumah tangga ini."
"Tolong lepaskan Tania."
"Tidak." jawab Pras tegas.
"Kenapa? Apa karena Om Pras ingin membalaskan dendam kepada Tania?"
"Tapi Om harus tau, Tania tidak pernah berniat untuk masuk dalam kehidupan Om, apalagi dengan penuh keterpaksaan ini."
"Tapi saya tidak akan menceraikan kamu Tania."
"Baik, kalau itu pilihan Om. Tania akan meminta papa untuk mengurus semuanya."
"Tapi itu tidak akan terjadi, karena aku tidak akan pernah menyetujui nya."
"Apa maksud Om, apa yang sebenarnya Om.pras ingin kan dari Tania?"
"Aku hanya ingin kamu tetap menjadi istri ku."
"Oke, kalau begitu Om harus beritahu Mbak Tasya kalau Tania adalah istri Om, Dan tolong sudahi hubungan Om dengan mbak Tasya."
Pras terdiam, dia tak menyangka kalau Tania akan memberikan pilihan seperti itu.
"Tapi Tania, untuk saat ini aku belum bisa."
"Kalau Itu jawaban Om, berati Om sudah memberikan pilihan, Dan Tania yang akan pergi."
"Kamu jangan seperti ini Tania, kasih Aku waktu."
"Berpa lama?"
Pras Kembali diam, walau bagaimana pun dia dan Tasya telah lama bersama, akan sulit baginya untuk lepas dari Tasya.
"Aku belum bisa pastikan."
"Tania kasih Om dua hari, silahkan Om pikirkan apa yang Om ingin kan."
__ADS_1
Tania meninggalkan Pras sendirian diruang tamu, dengan kebimbangan hatinya saat itu, apa Pras akan mampu untuk menjauhkan Tasya dari hidup nya, orang yang telah lama menemaninya?