Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Kebimbangan hati pras


__ADS_3

Mobil Pras, berhenti di airport, dia segera masuk dengan setengah berlari untuk mencari keberadaan papa nya, berjalan menuju kursi tunggu ,dan benar saja dia masih bisa bertemu papa nya.


Pras berjalan ke arah sang papa yang saat itu berdampingan dengan Tania.


"Pa, apa yang papa lakukan kenapa papa pergi tanpa memberitahu Aku terlebih dahulu?"


"Bukankah tadi pagi papa sudah bilang kalau akan kejakarta!"


"Tapi kenapa secepat ini pa?"


"Lebih cepat lebih baik bukan?"


"Tapi pa, kenapa papa juga membawa Tania?" Suara Pras terdengar pelan.


"Karena Tania juga akan kembali ke Jakarta bersama papa."


"Kapan kalian akan Kembali?"


"Mungkin dua hari papa akan kembali ke Yordania, dan Tania tidak akan kembali lagi."


"Apa maksud papa?"


Tania membuang pandangan ke arah lain, dia tak ingin menatap wajah Pras, dia takut kalau dia akan terluka lagi , disaat bunga cinta itu mulai tumbuh dihatinya, tapi dia harus menghapusnya begitu saja, karena orang yang telah coba dia cintai tak perduli pada perasaan nya.


"Pras kamu sudah memilih, dan papa sudah bicara dengan Tania, dan Tania sudah memutuskan untuk kembali."


"Tapi pa, papa belum bicarakan masalah ini dengan pras."


Suara panggilan untuk keberangkatan ke Indonesia pun terdengar, tuan Sanjaya dan Tania berdiri untuk memasuki Jalur keberangkatan, Tania memeluk Bik Siti dengan erat, air mata nya tak bisa terbendung lagi.


Namun Tania harus melupakan semuanya, menjalani hidupnya kembali seperti dulu lagi. Tuan Sanjaya berjalan masuk diikuti Tania, namun tiba-tiba Pras menahan tangan Tania.


"Tania, apa yang kamu lakukan, kamu lupa kewajiban kamu, saya belum memberikan kamu izin untuk pergi."


Tania hanya diam, dia masih tak menatap wajah Pras yang berada dihadapannya.


"Jangan pergi Tania, bagaimana dengan kuliah kamu, dan apa kamu lupa apa yang ibu kamu inginkan."


Tania masih diam, saat itu dia berharap kalau Pras akan menahannya, namun dengan alasan lain bukan alasan yang tadi dia sebutkan, namun Tania tak mendengar itu, dan dia meyakinkan dirinya kalau tidak ada gunanya dia bertahan.


Tania melepaskan genggaman tangan Pras di bahunya, dan berjalan masuk kedalam menuju pesawat yang akan membawanya kembali ketanah kelahirannya.


Pras yang merasa tidak puas karena tidak bisa menahan Tania pun berlari untuk mengejar Tania, namun security menahan nya Karena itu jalur untuk keberangkatan.


"Tania, jangan pergi. Kamu harus dengarkan saya ,saya itu suami kamu!."


Pras berteriak di sana ,dia bahkan lupa bahwa dirinya adalah seorang CEO yang terhormat, dan saat itu Tania pun mungkin sudah tak lagi mendengarkan perkataan nya.


"Ahhhg! " Pras berteriak dan memukul kursi tunggu penumpang, bahkan tangannya sampai berdarah, dia nampak begitu kacau, bahkan bik Siti pun tak Berani mendekat ke arah nya.


Bik Siti dan yang lainnya,pergi meninggalkan airport untuk kembali kerumah, meninggalkan Pras seorang diri.


Hari semakin larut, bik Siti masih menunggu tuannya yang belum kembali, bik Siti sedikit khawatir namun dia tak Berani menelpon Pras, karena kondisi Pras yang sedang kacau.


Dan sekitar jam sepuluh malam ,bel berbunyi, bik Siti menuju pintu depan berharap tuannya yang pulang, namun ternyata bukan malah Tasya yang datang.


Tasya langsung nyelonong masuk tanpa permisi, untuk mencari Pras.


"Maaf non Tasya, tapi tuan belum pulang."


"Bohong kamu!"

__ADS_1


Tasya berjalan menuju lift dan naik ke lantai atas namun nihil dia tidak temukan Pras disana, Tasya begitu kesal dan mengacak-acak kamar Pras, setelah itu Kembali turun untuk mencari Tania.


"Dimana Tania?"


"Non tania sudah kembali ke jakarta."


"Ke jakarta?"


"Iya, dan mungkin tidak akan kembali kesini lagi."


Tasya pun pergi dengan kesal, kenapa tidak , sudah seminggu sejak kejadian Tania memergoki dirinya dan Pras dia belum bisa bertemu dengan Pras, Pras terus saja menghindari dirinya.


Bik Siti hanya bisa


geleng kepala melihat kelakuan Tasya saat itu, memang jauh berbeda dengan Tania yang sopan.


Malam itu Pras kembali hampir subuh namun dalam keadaan mabuk, bahkan yang mengantarkannya adalah teman-teman nya karena Pras hilang kendali dan tidak bisa mengendarai mobil.


Dibantu oleh security bik Siti membawa Pras kekamar tamu yang ada dibawah, keadaan Pras sungguh memprihatinkan , rambutnya urakan dan tubuhnya dipenuhi bau alkohol.


Bik Siti meminta bantuan tukang kebun mereka untuk mengganti baju Pras, dan bik Siti pergi kedapur membuatkan oranye jus untuk meredakan mabuk dari Pras saat itu.


Bik Siti bingung dengan sikap Pras, sudah lama Pras tak pernah mabuk- mabukan lagi, entah apa yang membuatnya sampai seperti ini, apa kepergian tania? Tapi tidak mungkin. Bik Siti ber- alibi sendiri.


Bik Siti pergi meninggalkan kamar Pras, bik Siti tak menyalahkan Tania yang pergi, seandainya benar ini semua karena kepergian Tania, karena memang dari pertama Pras lah yang tak pernah menerima pernikahannya dengan Tania.


Bik Siti Kembali ke kamar nya untuk beristirahat, sebenarnya sangat disayangkan oleh nya karena perpisahan kedua majikannya, jujur bik Siti berharap Pras dan Tania bisa menyadari kalau keduanya mulai membuka hati masing-masing.


Keesokan pagi, bik Siti pergi ke kamar tamu untuk melihat kondisi Pras, dia juga membawa kan teh hangat untuk Pras.


"Tuan sudah bangun?"


Pras menatap ke arah suara, namun tak memberikan jawaban.


"Tuan, malam tadi non Tasya datang kesini mencari tuan, dan dia juga"


bik Siti menggantung kata-kata nya dia takut salah bicara pagi-pagi begini.


"Dia kenapa bik?" Suara Pras datar.


"Dia mengacak-acak kamar tuan, sepertinya dia sedang marah tuan, dia juga mencari non Tania."


"Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Tidak tuan."


"Bik Siti, apa Tania bercerita sesuatu pada bibik sebelum pergi?"


Bik Siti diam, dia bingung kenapa malah Pras bertanya tentang Tania bukannya Tasya.


"Apa Tania mengatakan sesuatu?" Pras mengulangi pertanyaannya.


"Tuan , dia Hanya mengatakan satu hal, dia tidak ingin bertahan untuk sesorang yang tidak mengharapkan dirinya."


Pras menatap ke arah bik Siti, mencari jawaban untuk semua perkataan bik Siti barusan, kenapa Tania berkata begitu ,apakah Tania telah memiliki rasa kepada dirinya, tapi tidak, Karena Pras malah melihat tania begitu bahagia dengan Al.


"Tuan, maaf jika saya lancang, tapi untuk apa tuan menyiksa diri seperti ini, jika memang tuan tidak ingin melepaskan non Tania, kenapa tidak tuan kejar dia."


"Tidak bik, Tania tidak pernah bahagia dengan saya, dan sepertinya saya pun tidak pernah membuat tania bahagia ,bahkan di detik-detik terakhir kami bersama, Tania malah mengalami kecelakaan."


"Tuan, jangan membohongi diri sendiri, coba tuan tanya pada hati tuan sebelum terlambat, apa tuan sudah yakin untuk mengajukan perceraian dengan non Tania?"

__ADS_1


"Maksud bibik?"


"Tuan, ketika non dan tuan besar memijakkan kaki nya di jakarta, mungkin itu akan menjadi akhir untuk pernikahan tuan dan non Tania, karena tuan besar kejakarta untuk mengurus perpisahan tuan dan non Tania, dan Jika itu terjadi sudah tidak ada kesempatan lagi tuan."


"Tapi bik, mungkin ini yang terbaik, karena saya juga tidak mungkin terus menggantung hidup Tania, karena bagaimana pun saya Hanya mencintai Tasya bik."


"Kalau menurut tuan itu keputusan yang terbaik, bibik tidak bisa berkata apa pun tuan."


"Iya bik , terimakasih!"


Bik Siti, meninggalkan kamar Pras untuk melakukan pekerjaan nya yang lain. Seharian Pras hanya dirumah dia tidak ke kantor, karena kepalanya memang masih pusing.


Saat sedang berada diruang tamu terdengar suara bel rumah berbunyi, bik Siti yang sedang memasak langsung berlari untuk membuka pintu depan.


"Siapa yang datang bik?" Tanya Pras sambil sedikit berteriak.


"Ini tuan , mas Al." Jawab bik Siti ragu-ragu.


Pras yang mendengar nama Al, langsung saja bangun dari duduk nya dan berjalan menuju pintu depan.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Pras tanpa basa basi dan dengan tatapan dingin.


"Maaf, saya hanya ingin menanyakan alamat Tania di jakarta, karena kemarin Tania memberi kabar kalau akan berhenti kuliah dan kembali kejakarta."


"Itu bukan urusan kamu!"


"Saya tau, tapi saya hanya ingin tau alamat Tania saja, saya ingin menyusul Tania kejakarta."


"Untuk apa kamu harus menyusul Tania?"


"Saya ingin Tania tetap kuliah disini, saya tidak bisa kehilangan Tania Om."


"Apa maksud kamu?"


"Om Pras, saya suka dengan Tania , tapi saya belum sempat mengatakannya, Tania malah pergi kembali ke Jakarta."


"Saya tidak akan memberitahu kamu dimana Tania tinggal, Karena itu bukan urusan kamu, dan lebih baik kamu menjauhi Tania, dan jangan berharap kamu bisa memiliki Tania."


"Sepertinya Om begitu tidak suka saya dekat dengan Tania!"


"Kamu benar saya memang tidak suka kamu dekat dengan Tania."


"Anda ini kan cuma Om nya, Tania lah yang berhak menentukan dia ingin memberikan saya kesempatan atau tidak."


"Tapi saat ini saya lah yang bertanggung jawab atas Tania."


"Lalu kenapa Tania pergi kejakarta, dan Om masih disini!"


"Lebih baik kamu pergi dari sini, saya tidak sedang ingin menerima tamu."


"Jujur saya bingung dengan Om, saya merasa om ini terlalu posesif dengan tania, bahkan om lebih mirip dengan seorang pacar untuk Tania."


"Tutup mulut kamu, dan pergi dari sini."


Pras begitu emosi tatapan nya seakan ingin menerkam lawan bicaranya saat itu, bik Siti yang masih berdiri tak jauh dari keduanya pun langsung mendekat dan meminta Al untuk pulang, dan bik Siti juga bilang kalau dia tidak tau alamat Tania di jakarta.


Al pun mengalah ,dan pergi dari rumah Pras, namun sebelum pergi Al membalikkan tubuhnya dan menatap Pras penuh tantangan.


"Saya akan mencari Tania sendiri, dan membawanya kembali, tapi sebagai seorang istri, karena saya tidak ingin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memiliki nya."


Pras begitu tersulut emosi, dia seakan begitu tidak rela nya, kalau Tania harus bersama Al, namun apa yang bisa dia lakukan, dia sendiri lah yang telah membiarkan Tania pergi dari hidup nya.

__ADS_1


Pras terlihat begitu bimbang, dengan apa yang seharusnya dia lakukan, haruskah dia coba bertahan, ataukah melepaskan begitu saja?


__ADS_2