
Aku melirik jam tangan dipergelangan tangan ku, menujukkan pukul setengah delapan pagi, namun belum ada tanda-tanda kalau om Pras akan berangkat kerja.
Akhirnya hari demi hari ku lewati, tak terasa sudah dua Minggu lebih Aku berada di negeri Paman Sam ini, dan besok aku akan mulai kuliah, dua Minggu ini hanya ku gunakan untuk belajar menyetir, aku bahkan tak pernah berada dirumah ini, setiap pukul 08.00 pagi aku sudah pergi untuk belajar menyetir, pertama ini adalah hal yang sulit untuk ku bahkan lebih sulit dari pelajaran matematika disekolah Ku dulu.
Namun seiring hari berlalu aku pun mulai mengenal mobil, dan mulai bisa menguasainya, dan hari ini aku akan menyetir sampai kekampus, agar besok aku sudah bisa berangkat ke kampus sendiri, dan menghafal jalan kota ini.
Sudah dua Minggu aku tak pernah bertemu dengan om Pras di pagi hari, dan tidak juga dimalam hari, karena akhir-akhir ini dia selalu pergi pagi dan pulang keesokan pagi nya lagi, entah kesibukan apa yang sedang dia lakukan, namun aku tak ingin ambil pusing.
Hari ini sama saja, aku kembali kerumah, om Pras tidak ada dirumah, kalau dia memang sibuk bekerja kapan dia beristirahat, aku berjalan menuju dapur mencari bik Siti.
"Bik Siti!"
"Iya non!"
"Bik, apa om Pras belum pulang hari ini?"
"Sudah non, tadi pulang sekitar jam 10 dan pergi lagi non."
"Apa dia sering begini?"
"Kadang-kadang non, tapi non jangan khawatir, biasa nya tuan akan menginap dirumah non Tasya makanya tidak pulang."
"Ya sudah bik, Tania kekamar dulu ,mau mandi."
"Iya non, jangan lupa nanti turun untuk makan malam."
"Iya bik, terimakasih."
Aku berjalan menaiki tangga, menuju kamar, sudah dua Minggu ini hidup seakan hanya sendiri, tapi aku harus terbiasa, seandainya saja ada jalan yang bisa membuat ku bebas dan pergi dari sini, aku akan lebih bahagia, hidup sendiri namun tidak memiliki beban sama sekali.
Saat Aku tiba dikamar, aku melihat sebuah paper bag , aku mengambil nya dan ternyata isinya sebuah handphone keluaran terbaru, dan ada sebuah pesan disecarik kertas.
"Ini handphone baru untuk kamu, jangan gunakan handphone jadul mu itu lagi!"
Aku duduk dikursi meja rias , kutatap handphone dihadapan ku,
"bagus ,bahkan sangat bagus mungkin seumur hidup aku tidak akan mampu membelinya, namun bukan itu yang aku butuh kan." Aku bicara pada hatiku saat itu.
Aku pun segera mengganti kartu SIM ke handphone yang baru, mungkin aku butuh ini untuk kelancaran kuliah ku, apalagi handphone ini sudah sangat canggih nampak nya.
Ku letakkan kembali handphone di atas meja rias dan menuju kamar mandi, setelah selesai berganti pakaian aku berniat untuk makan malam, namun seperti ada suara dering handphone tapi itu bukan handphone ku, begitulah pikir ku saat itu.
Dan saat mendekat ke meja rias ,aku pun menepuk pelan kepala ku, ternyata itu adalah dering handphone baru yang diberikan om Pras.
Ada sebuah nomor baru yang tertera dilayar, aku ragu mau mengangkatnya namun aku takut itu telpon penting, bisa saja dari kampus.
"Hallo!"
"Kamu sudah ambil handphone nya? Ingat jangan gunakan lagi handphone Yang lama, apa yang orang katakan jika mereka tau kamu tinggal bersama ku, apalagi kalau papa tau."
"Iya terimakasih om." Hanya sepatah kata yang ku ucap kan, karena sama saja, setiap apa yang om Pras lakukan untukku itu semua karena papa nya
"Satu lagi, dilaci lemari saya sudah letakkan uang cash dan juga sebuah kartu berwana gold untuk kamu, gunakan untuk semua keperluan kamu, dan mungkin akhir-akhir ini saya akan sibuk sekali."
"Iya, Tania mengerti."
Dan sambungan telpon itu pun terputus, aku tersenyum getir, memikirkan jalan hidup ku saat ini, entah kenapa seharusnya aku bahagia, karena aku bebas melakukan apapun yang aku mau, bahkan status ku sebagai seorang istri memang harus di sembunyikan.
Tapi hatiku tak ingin menerima, walupun aku tak menginginkan pernikahan ini namun aku tak ingin mempermainkan janji pernikahan, tapi selama aku disini, aku tak pernah punya kesempatan menjadi seorang istri untuk om Pras.
Aku turun kembali ke ruang makan, untuk makan malam sendirian lagi, hanya bik Siti yang selalu setia menemaniku.
"Non Tania kenapa?"
"Tidak ada apa-apa bik, mungkin Tania kecapean."
"Non habiskan makanan nya lalu istirahat."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum, melanjutkan makan ku, dan menuju ke kamar, aku memang harus istirahat, besok Aku akan mulai ke kampus.
Malam ini aku gelisah tidak bisa tidur, aku terus dibayangi oleh nasihat ibu tentang berumah tangga, dan saat ini semua nasihat itu aku abaikan begitu saja, seharusnya aku tetap melakukan tugas ku, walupun hanya mengisi piring om Pras dengan sarapan pagi, namun aku tak diberikan kesempatan untuk itu.
Karena semalam aku tidak bisa tidur nyenyak, hampir saja hari ini aku kesiangan, aku berlari kekamar mandi dan secepatnya bersiap-siap, aku melewati kamar om Pras pelan, namun tak ada tanda-tanda ada penghuninya didalam.
Ku putuskan untuk sarapan dulu sebelum ke kampus.
"Non Tania!"
"Iya bik."
"Ini ada titipan dari tuan untuk non Tania."
"Apa ini?Om Pras sudah pulang bik?"
"Sudah non, jam 04.00 pagi tadi, ini kunci mobil baru untuk non Tania."
"Tapi bik, di garasi, kan ada mobil yang tidak pernah digunakan!"
"Bibik juga tidak tau non, tapi kata Tuan non Tania ke kampus bawa mobil ini."
"Ya sudah bik, terimakasih."
Aku berjalan ke parkiran yang terletak disamping sebelah kanan, dan ternyata benar, ada sebuah mobil berwarna merah, Aku pun langsung menuju mobil tersebut karena tak ingin kesiangan ke kampus nya.
Dengan hati-hati aku mulai menghidupkan mobil tersebut, sebenarnya aku masih belum begitu Berami, tapi aku harus bisa supaya tidak merepotkan orang lain.
Mobil yang ku kemudikan mulai melaju memecah keramaian jalanan pagi itu, aku pun mencari tempat parkir yang nyaman setelah sampai di kampus.
Dan entah kebetulan apa pagi ini aku langsung bertemu dengan kak Alvin di parkiran.
"Tania!"
"Kak Al."
"Kamu bawa mobil sendiri?"
"Kalau gitu kita bareng aja ke dalam."
Aku hanya mengangguk , Dan kami berjalan beriringan menuju ke kelas masing-masing, banyak mata yang menatap ku saat itu, tepatnya menatap kami berdua, aku sempat risih, karena aku belum terbiasa ditempat itu.
Kami berdua pun berpisah di depan kelas masing-masing, hari ini kuliah selesai sekitar jam tiga sore, jadi aku terpaksa makan siang dikantin, dan memutuskan untuk kembali ke rumah dan ber- istirahat.
"Tania, apa mau langsung pulang?"
"Iya kak, Tania mau istirahat dirumah."
"Ya sudah hati-hati ya, sampai ketemu besok."
Aku berjalan menuju tempat dimana mobilku terparkir dan mengendarai nya menuju kerumah, dan ternyata mobil ku dan Om Pras masuk hampir bersamaan.
"Tumben cepat pulang, ada angin apa?" Batin ku saat itu.aku segera turun dari mobil dan berjalan ke arah om Pras.
"Om, sudah pulang?"
Namun yang ditanya Hanya diam saja fokus mengambil jas nya didalam mobil, dan berlalu begitu saja dari hadapan ku.
Aku pun ikut masuk Karena ingin istirahat, dan diruang tengah sudah ada bik Siti yang menunggu tuannya pulang.
"Bik Siti, tolong buatkan saya kopi!"
"Iya tuan!"
Aku hanya melihat saja ke arah mereka berdua dan mendahului om Pras naik ke kamar ku, aku segera mandi dan mengenakan pakaian santai, dan kembali turun ke bawah, didepan tangga aku berpapasan dengan bik Siti.
"Kopi itu untuk om Pras?"
__ADS_1
"Iya non."
"Ya sudah bik, biar Tania saja yang antarkan."
"Tapi non!"
"Tidak apa-apa bik, Tania juga ingin bicara dengan om Pras."
"Ya sudah, hati-hati non kopinya panas."
"Iya bik, tenang aja." Aku tersenyum ke arah bik Siti dan aku pun menggunakan lift untuk kembali ke atas, aku capek baru turun tangga.
Aku segera menuju kamar om Pras, dan mengetuk pintu kamar nya.
"Tok tok tok!"
"Masuk!"terdengar suara dari dalam.
Aku pun memutar gagang pintu kamar om pras, dan tak terlihat si pemilik kamar didalam nya, tapi aku tadi mendengar suara nya, Aku berjalan masuk perlahan menuju sebuah meja kecil didepan sofa berwarna coklat muda, dan ku letakkan secangkir kopi yang tadi sudah dibuatkan oleh bik siti.
ku putar kepalaku mengitari kamar tersebut, Namun aku tak menemukan apapun, Namun aku melihat kamar ini begitu rapi, pasti karena bik siti mengurusnya dengan baik, aku pun berjalan perlahan menuju balkon kamar om pras, menatap senja yang hampir mulai menghilang dari sana, sungguh kota yang luar biasa. hembusan angin sore membuat ku memejamkan mata, aku bisa merasakan begitu tenang, sampai aku lupa kalau sedang berada di kamarnya orang lain.
Dan aku mendengar suara derap langkah, dan itu pasti om pras, dan aku pun berniat untuk pergi dari kamar itu, namun sudah terlambat, ternyata Om Pras sudah berada dipintu menuju balkon.
"Tania, sedang apa kamu dikamar saya ?"
" Maaf Om, tadi tania hanya ingin mengantar kopi, tapi tania tidak melihat Om jadi tania mencari ke balkon ternyata tidak ada juga,tapi ini Tania sudah ingin pergi kok Om!"
"Kemana bik siti?"
" Ada di dapur, sedang menyiapkan makan malam, ya sudah jadi Tania yang menolong Bibik mengantarkan kopi."
"Tapi kamu bukan pelayan dirumah ini, Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat papa marah kepada saya."
"Tapi om, Tania hanya mengantarkan kopi, itu bukan pekerjaan yang berat."
"Tapi kamu tidak perlu melakukan hal apapun dirumah ini, kamu cukup hidup dengan tenang, dan kuliah dengan benar, Bukan kah itu yang kamu inginkan?"
Aku terdiam ditempat ku menatap ke arah om pras, aku jenuh, sepertinya kami memang harus bicara, mungkin banyak hal yang belum aku pahami tentang hidup karena usiaku, Namun kehidupanku bersama ibu yang penuh dengan rintangan membuat aku belajar banyak hal tentang hidup.
"Om pras, sepertinya kita perlu bicara, sudah hampir tiga minggu kita tinggal satu atap, tapi kita hanya bertemu empat hari, Tania paham om sibuk, Itu bukan masalah untuk Tania."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kita berada dalam satu atap itu karena keterpaksaan."
"Tania tau Om, dan untuk itu kita perlu bicara"
"Apa yang perlu kita bicarakan?" Om Pras bicara tanpa menatap wajah ku bahkan dia berjalan kepinggir balkon dan membelakangi ku, namun bukan masalah untukku, Bahkan dengan begitu akan sedikit mengurangi rasa takut ku.
"Om , kalau memang semua ini membuat Om tertekan dan mengganggu kehidupan Om, kenapa Om tidak menceraikan saja Tania om, Tania bisa hidup sendirian dan menjalani semuanya sendiri."
" Kenapa tidak kamu saja yang meninggalkan saya, Bukankah kamu tau kalau saya tidak pernah mencintai kamu dan mencintai orang lain, Tapi sepertinya itu tidak penting untuk kamu karena yang kamu inginkan adalah uang kan ?"
"Iya ,Om benar, memang uang yang Tania inginkan , Uang dan uang, sekarang Om sudah puas mendengar jawaban dari Tania?" suara Tania mulai meninggi.
"Tanpa kamu jawab saya pun sudah tau, jadi untuk apa kamu membuat sandiwara dengan meminta saya meninggalkan kamu, supaya Papa marah dan menghancurkan semua Bisnis saya dan seolah-olah kamu adalah korban?"
"Saya memang korban Om!"
"ha,,, ha..ha, Korban kamu bilang, korban keserakahan kamu sendiri!"
"Ya saya memang serakah , menginginkan uang dari orang yang tidak pernah saya kenal, bahkan saya egois karena saat itu rela menikahi Tuan sanjaya demi uang, Dan apa saya punya pilihan?"
Aku mulai kehilangan kendali, aku marah pada diriku sendiri yang begitu bodoh dan terjebak dengan semua ini, namun om Pras masih tak menatap ke arah ku, bahkan cangkir kopi yang tadi dipegang nya diletakkan dipinggiran balkon, disamping dia berdiri.
"Dengarkan saya baik-baik, kamu jangan menunjukkan seolah-olah kamu itu yang dirugikan, saya tidak pernah melarang kamu untuk pergi dari sini"
"Seandainya saya punya pilihan, saya memang akan memilih untuk pergi, untuk apa saya bertahan hidup dengan orang yang tak pernah menganggap saya ada."
__ADS_1
"Kalau begitu pilihlah jalan untuk pergi."
Tania kembali diam, saat ini dia berusaha untuk kuat, namun akan kah Tani pergi dan meninggalkan Pras?