
Pagi-pagi Tania sudah bangun karena akan kuliah pagi, setelah bersiap Tania langsung menuju meja maka untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi semuanya!"
"Pagi non!" Jawab semua pelayan disana.
"Non mau kuliah pagi, hari ini?" Tanya bik Siti.
"Iya bik, Tania mau masuk pagi, apa Om Pras sudah berangkat bik?"
"Belum non, bahkan Tuan belum bangun, padahal Tuan sempat bilang kalau akan ada rapat penting pagi ini dikantor."
"Apa sudah bibik bangun kan?"
"Sudah non tapi telponnya tidak di angkat."
"Ya sudah kalau begitu Tania bangun kan kekamar dulu ,mana tau sedang dikamar mandi "
"Iya non, non mau sarapan apa biar bibik siapkan di piring?"
"tidak apa-apa bik, biar Tania sendiri saja, bibik kalau sudah tidak ada pekerjaan, istirahatlah."
Tania berjalan menuju lift agar cepat tiba dikamar Pras, Karena dia juga harus ke kampus pagi-pagi.
Setelah berada didepan pintu kamar Pras,Tania mengetuk pintu dan belum ada jawaban, Tania pun mengulang sampai yang ke empat kali, baru Tania mendengar jawaban dari dalam.
Pras yang masih setengah sadar dari tidurnya pun membuka pintu kamar, Tania yang masih menunggu di depan pintu kamar Pras menelan ludah nya, kenapa tiba-tiba ada kotak dadu dihadapannya.
Pras yang memang ber tubuh sixpack pagi itu tidak mengenakan baju hanya celana pendek saja.
"Tania!"
Tania pun tersadar dari lamunannya,dia membalikkan tubuhnya membelakangi Pras, ini pertama kali Tania melihat pria asing yang memamerkan tubuh sixpack nya dihadapan Tania.
"Kamu kenapa membelakangi saya, ada apa?"
"Om kata bibik, hari ini ada meeting penting dikantor, tapi Om belum bangun jadi Tania kesini."
"Ya ampun saya benar-benar lupa." Pras menepuk jidatnya sendiri.
"Ya sudah Tania duluan ke bawah."
"Eh tunggu dulu."Pras menarik tangan Tania masuk kedalam kamar, dan Tania pun jadi bingung apa yang ingin Pras lakukan padanya.
"Om mau apa, jangan sakiti Tania!"
"Diam, siapa yang ingin menyakiti kamu, berhubung hari ini saya harus cepat kekantor dan kesiangan, jadi kamu bantu saya dulu."
"Bantu apa Om, mau di bantui mandi?"
"Jangan mengharap yang bukan-bukan."
"Siapa juga yang ngarep, tapi om mau minta tolong."
"Saya minta tolong siapkan baju saya hari ini."
"Tapi om."
"Sudah cepat, saya mau mandi dulu."
Tania pun masih berdiri ditempatnya dia bingung, belum pernah menyiapkan baju orang ke kantor.
Perlahan Tania mendekat ke arah tiga lemari yang teratur rapi, membuka ketiga lemari dan rupanya isinya berbeda-beda.
Tania pun tersenyum tidak akan susah untuknya Karena setiap lemari berisi satu macam model baju saja.
di lemari yang pertama Tania mencarikan jas yang cocok dan beralih ke kemeja ,celana dan dasi untuk Pras.
Dia tersenyum setelah memilih warna biru muda ,menurutnya cocok untuk Pras yang berkulit putih. Dan setelah Tania meletakkan baju di atas tempat tidur, Pras pun selesai dari kamar mandi.
Dan Pras pagi itu dengan santai berjalan ke arah nya dengan hanya menggunakan handuk terlilit di pinggang nya.
"Om Pras!" Tania sedikit menjerit.
__ADS_1
"Ada apa menjerit pagi-pagi ,saya tidak tuli."
"Kenapa Om pakai handuk begitu?"
"Memangnya kenapa, saya memang selalu pakai handuk begini, apa kamu berharap saya tidak pakai apa-apa?"
"Ngeres, tapi kan ini lagi ada Tania om tidak sopan tau!"
"Sejak kapan orang yang pakai handuk tidak sopan?"
"Ish!" Tania kesal dan ingin meninggalkan kamar Pras.
"Kamu mau kemana bantuin saya bersiap biar cepat selesai."
"Enggak mau, Om sendiri saja."
"Saya cuma minta tolong pagi ini, apa kamu mau saya terlambat dan perusahaan saya bangkrut?"
Tania menatap ke arah Pras yang saat itu sedang mengenakan baju kaos dalam nya, dan akhirnya Tania mendekat juga kearah Pras, dalam hati Pras tersenyum ternyata akhirnya Tania mengalah juga.
Tania pun mulai membantu memakaikan kemeja Pras dan Pras yang nunduk berdiri karena memakai celana membuat Tania kesusahan ingin memasang kancing baju Pras.
"Om jangan seperti itu Tania kesusahan."
"Jadi saya harus pakai celana bagaimana?"
"Ish, om nyusahin Tania aja, Tania juga mau ke kampus Om!"
"Kalau begitu cepat pasangkan kancing nya."
Pras berjalan ke arah kaca dan menyisir rambutnya, Tania terpaksa ikut karena kesal Tania pun duduk di atas meja tempat pras sedang berkaca.
"Kalau kamu duduk disitu bagaimana cara saya menyisir, kamu menghalangi cermin nya."
"Ya sudah kalau begitu om sabar biar Tania pasangkan dulu kancing nya baru menyisir rambut."
"Terserah kamu saja!"
Tania bisa merasakan wangi maskulin dari tubuh Pras saat itu, Tania memejamkan matanya menikmati wangi itu, Dan akhirnya tangannya pun terhenti mengancingkan Kemeja pras.
Pras yang merasa aneh mencoba menundukkan kepalanya dan melihat apa yang terjadi dengan Tania dan Pras bisa melihat Tania yang saat itu memejamkan matanya.
"Kamu mengantuk?"
Tania tersentak dan langsung membuka matanya dan melihat ke arah Pras, sejenak mata itu bertemu, Tania merasakan jantungnya berdetak dari batas kata wajar, bahkan dia Merasa bisa mendengar suara detak jantung nya.
"Ada apa ini, dengan jantung ku, apa aku sakit jantung?" Tania bertanya pada hatinya saat itu.
Dan untuk menghilangkan kecanggungan Tania pun menundukkan pandangannya di segera turun dari meja dan berdiri, namun ternyata itu bukan mempermudah dirinya, malah tubuhnya menjadi rapat dan menempel pada Pras.
Tania tambah salah tingkah saja dibuat Pras yang masih menatap ke arahnya.
"Om kalau begini terus Tania kesusahan memasang kancing nya, katanya Om buru-buru!"
"Pipi kamu kenapa?"
"Pipi?" Tania memegang pipinya dan merasakan tidak ada apa-apa rasanya, dia pun membalikan tubuh nya membelakangi pras saat itu, dan Tania menatap dirinya di cermin tak ada yang aneh.
Dan Tania menatap Pras dari kaca, menaikan dagunya untuk bertanya, namun Pras mengangkat kedua bahunya.
Pras yang tadinya ingin dibangun kan Tania karena terburu-buru malah bukannya cepat siap tapi malah menjadi lama. Bik Siti yang khawatir apa terjadi sesuatu dengan Tania menelpon ke kamar Pras, apalagi jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Dering telpon yang berulangkali dikamar Pras mengalihkan perhatian mereka.pras pun menjauh dari Tania dan menuju telpon yang sedang berdering.
"Hallo Tuan, apa tuan sedang tidak sehat?"
"Tidak bik saya baik-baik saja."
"Apa tuan akan sarapan pagi?"
"Iya bik, sebentar lagi saya turun, saya sedang bersiap-siap."
"Iya baik tuan, tuan maaf bibik mau tanya tadi non Tania katanya mau memanggil tuan tapi belum turun lagi untuk makan, apa terjadi sesuatu pada non Tania."
__ADS_1
"Tidak bik, saya sedang meminta bantuan Tania, sebentar lagi kami segera turun."
Telepon pun ditutup oleh Pras, dan Pras memberikan isyarat pada Tania untuk menyelesaikan kemejanya, Dan Tania langsung mendekat dengan cepat memasang kancing baju, dan jas Pras pagi itu.
Dan Tania juga memasangkan dasi dileher Pras, dahi Pras sedikit mengernyit, karena Tania memasang dasinya dengan cepat, tapi bukan kah menurut papa nya Tania adalah gadis dari keluarga yang sederhana, dan tepatnya tidak mampu.darimana Tania bisa memasangkan dasi.
Tapi Pras tak sempat untuk membahas itu ,dia langsung menuju lift bersama Tania untuk sarapan pagi itu.
Mereka langsung duduk dimeja masing-masing, Tania langsung menyendok kan nasi ke piring Pras, karena dia tau Pras paling tidak suka makan roti.
Setelah itu Tania mengisi piringnya sendiri dan segera makan, dan saat sedang makan handphone Pras berbunyi, Tania hanya melihat sekilas, dia tidak tau dengan siapa Pras bicara dan berbicara apa.
Setelah selesai makan Tania pamit pada bik Siti sambil tersenyum, Pras Hanya melihatnya ada sedikit senyuman dibibir nya, selama ini Tasya tak pernah mau bertegur sapa dengan pelayan dirumahnya apalagi harus pamit.
Pras berjalan meninggalkan Tania menuju parkiran, dan Tania pun menyusul karena ingin mengeluarkan mobilnya.
"Kamu mau bawa mobil?"
"Iya Om."
"Kamu saya antar saja, kita kan searah."
"Tidak usah, Om kan harus cepat kekantor."
"Meeting nya di undur sampai jam 09.00 pagi, koleganya dari Malaysia mereka baru tiba jam 09.00."
"Ya sudah Om."
Tania mengurungkan niatnya mengeluarkan mobil miliknya ,dia masuk dan duduk disamping Pras, dan pagi itu Tania memakai dres di atas lutut, berwarna senada dengan Pras, Pras menaikan alisnya menatap Tania.
"Ada apa om, apa ada yang salah lagi dengan baju Tania?"
"Kamu sengaja memilih baju yang senada dengan kamu?" Pras bertanya sambil mengemudikan mobilnya.
"Tidak Om, Tania Hanya bingung saja Om suka pakai warna apa, karena Tania suka biru, ya sudah Tania pilih saja warna biru, apa om tidak suka?"
"Saya suka semua warna."
"Tania pikir Om tidak suka pilihan Tania, maaf ya om Tania memang tidak pernah menyiap kan baju untuk laki-laki apalagi baju jas, dari kecil Tania tidak punya papa, jadi Tania minta maaf kalau salah pilih."
Mata Tania menatap ke arah samping jendela, matanya berkaca-kaca jika sudah membahas orang tuanya, walaupun Tania sudah bilang tak ingin menangis lagi tapi dia tak sekuat itu.
Pras yang melihat Tania mengalihkan pandangan, dia pun terdiam, Pras paham bagaimana rasanya kehilangan.
"Tapi saya lihat kamu cukup pintar dari mana kamu belajar memakaikan dasi?"
Tania mengusap air yang ada disudut matanya, menatap ke arah Pras, namun dia hanya diam.
"Kamu menangis? Apa yang saya katakan menyakiti hati kamu?"
"Tania menggelengkan kepalanya."
"Kalau begitu coba ceritakan kenapa kamu bisa memakaikan saya dasi, bisa makan menggunakan peralatan makan dengan benar, padahal kamu." Pras menahan perkataan nya dia tak ingin lagi salah bicara.
"Saya dari keluarga tidak mampu?" Tania tersenyum ke arah Pras namun senyum itu terasa tak ada beban.
"Bukan begitu maksud saya."
"Tidak apa-apa om, itu memang kenyataan nya, Tania banyak belajar dari berbagai kegiatan dan lomba disekolah, Tania paling sering diikut sertakan sehingga Tania bisa menguasai banyak hal."
Setelah selesai Tania bicara mobil pun berhenti dihalaman kampus.
"Sudah sampai."
Tania langsung membuka pintu mobil, namun dia mengarahkan pandangannya ke arah Pras,mengambil tangan lelaki dihadapannya dan mencium punggung tangan nya.
"Terimakasih ya om, Tania masuk dulu."
"Nanti saya jemput."
Belum sempat Tania memberikan
Jawaban Pras sudah pergi.
__ADS_1