
"Kenapa kamu diam, silahkan kamu pergi dan katakan pada Papa saya kalau kamu pergi karena ke inginan kamu sendiri, Saya tidak ingin disalah kan."
suara itu terdengar begitu dingin,aku merasakan kalau Om Pras saat itu begitu membenci diriku, Aku tak ingin menangis dan terlihat begitu lemah dihadapan orang lain, karena hal itu lah om dan tante ku menggunakan kelemahanku untuk menjebak ku dalam kehidupan seperti ini.
"Seandainya saja Aku bisa menjalani hidup ku dengan kebebasan, maka sekarang pun aku bisa pergi."
"Apa maksud kamu?"
"Tuan tidak tau akan hal ini atau pura-pura tidak tau ?"
"Jangan Bertele-tele dengan saya!" Om pras mengubah arah berdiri menghadap ke arah ku, menatap ke arah ku dengan tatapan tajam.
" Tuan prasetya Sanjaya, saat itu tuan memberikan saya sebuah surat perjanjian pranikah disaat saya Dalam keadaan tidak punya pilihan lain, apa Tuan lupa dengan surat perjanian itu?"
"Surat perjanjian?"
"Iya surat yang berisikan jika saya pergi meninggalkan tuan, ataupun meminta cerai maka saya kan dituntut secara hukum dengan alasan penipuan uang sebesar tiga ratus juta."
"Tiga ratus juta ? berarti hanya segitu harga diri kamu , kamu jual kepada Papa saya ?"
"Plak!" sebuah tamparan pun mendarat dipipi kanan Om Pras, aku seakan lupa akan posisi ku saat itu, Dan Om Pras terlihat begitu terkejut, memegang pipinya yang merah dan menatap ku penuh amarah, namun itu tak membuatku gentar, aku harus tau kenyataan dibalik semua rahasia pernikahan ku dan Om Pras.
" Tuan, saya memang dari keluarga miskin, bahkan sama sekali tidak punya apa-apa, tapi saya tidak pernah menjual harga diri saya, kalau kalian adalah orang yang punya hati, tidak mungkin kalian menjebak saya dalam pilihan hidup seperti sekarang ini."
Om Pras masih diam ditempat nya, Namun aku bisa merasakan amarahnya saat itu.
"Andai saja Tuan tau, saya memilih untuk setuju menikah karena ingin menyelamatkan nyawa ibu saya, Namun takdir berkata lain sehari setelah saya menikah dengan tuan, ibu saya meninggal, Namun saya tidak mampu mengembalikan uang itu dan saya juga sudah terlanjur menanda tangani surat perjanjian itu."
Suara ku mulai melemah, kekuatan ku sudah habis saat mengingat kehilangan ibu, air mata yang sejak tadi aku tahan lolos dengan sendirinya dipipi ku,aku sudah tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan orang dihadapan ku itu. Dan tiba-tiba saja gelas yang ada di pinggir balkon pun terjatuh karena Om pras yang memukulkan kepalan tangannya ke dinding balkon.
Aku pun terkejut mendengar pecahan gelas tersebut, Namun aku masih berdiri ditempat ku, aku sudah tak kuasa untuk melangkahkan kaki ku lagi, Dan Om pras pun terlihat pergi begitu saja dari dalam kamar, tinggal lah aku yang saat itu terduduk dilantai.
Namun ternyata diluar kamar sejak dari tadi bik Siti berdiri dan mendengarkan pembicaraan kami , BIK siti melangkah masuk ke kamar Om Pras dan memeluk tubuh ku yang saat itu memang membutuhkan sandaran.disela tangis aku berulang kali memanggil ibu, aku begitu merindukannya, bik Siti yang saat itu berada disamping ku pun , ikut meneteskan air mata.
"Bik , kenapa ibu meninggalkan Tania, Tania tidak kuat bik menghadapi semua ini, Tania ingin ikut bersama ibu saja bik,."
"Non, jangan bicara begitu, non Tania harus kuat, ini sudah jalan takdir non."
"Kenapa non Tania tidak bercerita dengan bibik tentang semuanya non, kenapa non simpan sendiri?"
Aku malah terisak dan memeluk Bik Siti, aku benar-benar tidak kuat rasanya. namun bik Siti benar ini sudah jalan takdir tapi tidak ada salah nya semuanya diakhiri sebelum terlambat.
"Non Tania maaf kan bibik ya, tadi bibik tidak sengaja mendengarkan semuanya, bibik khawatir karena non belum juga terlihat turun kebawah, makanya bibik menyusul non."
"Bik, sekarang bibik udah tau semuanya, apa bibik akan membenci Tania?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak non Tania,bibik malah saat ini prihatin dengan non, di usia yang masih sangat muda malah menikah dengan orang yang salah."
Bik Siti membantu ku untuk berdiri dan duduk disofa, aku masih sesenggukan, bik Siti pun mulai membersihkan pecahan gelas kopi yang berserakan di lantai balkon.
" Non , ayok bibik antar ke kamar, non istirahat, kalau mau makan biar bibik bawakan ke kamar."
"Tidak bik, Tania tidak lapar."
Aku pun berjalan sendiri menuju kamar, aku dudu disudut tempat tidur , aku bingung apa yang harus aku lakukan, apa aku harus menyerah dan kalau benar aku akan dituntut berarti Aku akan mengecewakan almarhumah ibu karena tidak bisa melanjutkan kuliah, orang kaya bisa melakukan apa pun terhadap orang miskin seperti ku.
Pikiran ku menerawang entah kemana, aku mencoba mencari jalan keluar namun pikiran ku buntu saat ini. Kalau Aku menelpon tuan Sanjaya, maka pasti Tuan Sanjaya akan marah pada tuan Pras.
Aku juga kepikiran dengan tuan Pras, kemana dia pergi, pasti dia sangat marah karena aku telah berani menampar nya, Tapi Aku benar-benar hilang kendali saat itu.
Malam semakin larut namun tak ada yang turun untuk makan, bik Siti pun menghubungi ku untuk makan, tapi selera makan ku hilang sudah, aku hanya duduk dan bersandar pada tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
Bagaimana cara aku besok menghadapi tuan Pras, dan jika aku tak ingin menggunakan apapun yang di berikan bagaimana cara aku hidup, aku sudah tidak punya uang lagi semua sudah Aku gunakan untuk keperluan pengobatan ibu.
"Apa aku juga harus kerja paruh waktu seperti dijakarta, tapi apa aku akan diterima?"
Aku pun bicara pada diriku sendiri untuk mencari solusi untuk semua Masalah ku, aku tak ingin lagi di anggap mengharapkan semua harta benda milik tuan Pras.
" Aku ingat dengan kak Al, aku akan bertanya pada nya, tapi bagaimana jawaban Ku jika dia bertanya?aku bingung"
Pagi itu,pras yang ternyata tidur diruang kerjanya pun sudah turun keruang makan.
"Bik Siti, apa Tania sudah pergi?"
"Belum tuan, non Tania bahkan belum terlihat pagi ini."
"Coba periksa ke atas, dimana dia?"
"Baik tuan, bibik akan ke atas."
"Kenapa tidak ditelpon saja?"
"Tapi tuan, sudah bibik telpon tapi tidak ada jawaban, biar saya lihat ke atas, tuan lanjutkan sarapan, bukannya tuan belum makan dari semalam.
Bik Siti pergi menuju kamar Tania, berulang kali diketuk, baru lah tania tersadar dari tidurnya, mungkin karena dia baru tidur beberapa jam saja.
Tani bangun dan membuka pintu kamar, melihat bik Siti Sudah tersenyum ke arah nya, namun Tania memang masih sangat ngantuk.
"Masuk bik, ada apa?"
"Non, kenapa belum bangun apa non tidak kuliah hari ini?"
__ADS_1
"Kuliah bik, tapi Tania masuk siang bik jadi mau istirahat dulu."
"Lebih baik non mandi dan sarapan dari malam tadi non belum makan kan?"
"Tapi Tania tidak lapar bik."
"Non dibawah Tuan sudah menunggu untuk sarapan, turun lah dulu."
"Iya bik, nanti Tania nyusul,Tania ingin mandi dulu."
"Kalau begitu bibik turun dulu ya non."
"Iya bik, terimakasih ya bik."
Setelah bik Siti pergi aku langsung mandi, sebenarnya aku tidak ingin turun apalagi sarapan bersama , tapi aku juga tidak ingin melawan lagi, sudah cukup apa yang kulakukan malam tadi.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, aku pun turun ke bawah untuk sarapan, dalam hati aku berharap hanya aku yang akan sarapan.
Dan ternyata Aku salah disana masih ada yang duduk dan menunggu ku, aku tidak tahu, apa karena ingin marah, atau memang menunggu sarapan.
Perlahan aku mendekat, namun aku tidak duduk ditempat biasa, aku duduk sedikit jauh dari hadapan Om Pras.
Tak ada yang makan, aku dan juga Om Pras saling menunggu siapa yang akan makan duluan, dan Aku hanya menunduk, tak ingin bertatapan dengan Om Pras pagi itu.
Bik Siti yang melihat kecanggungan dimeja makan pun mendekat ke arah kami.
"Tuan, ingin makan apa pagi ini?"
"Terserah bibik saja."
Bik Siti pun terlihat menyendok kan nasi goreng ke piring tuannya, dan Aku hanya diam, memang seharusnya aku lah yang saat itu mengisi piring Om Pras, tapi aku tidak berani, aku takut salah . setelah selesai bik Siti berpindah kearah ku, namun aku menolaknya,dengan alasan aku sendiri saja, aku tidak mau Bersikap seperti tuan putri.
aku masih terus diam, dan melanjutkan untuk makanan yang ada dalam piringku saat itu, namun aku sama sekali tidak menatap orang yang ada dihadapan ku, setelah selesai aku pun bangun dan membawa piring kotor ke belakang, Namun dicegah oleh Bik Siti.
" Non , biar bibik saja!"" Tidak apa-apa bik, anggap saja sebagai bayaran karena Tania sudah numpang makan dan Tidur disini, dan bibik boleh meminta bantuan apapun sama Tania, setidak nya Tania bisa meringankan pekerjaan orang rumah ini."
Aku pun pergi meninggalkan semua yang ada diruang makan, dan mencuci piring yang tadi kubawa, Bahkan aku tak perduli saat semua melarang ku melakukannya. aku kembali lagi keruang makan dan disana ada Om Pras yang masih berada dimeja makan.
" Tuan , saya izin duluan ke kamar!" setelah berucap aku pun pergi meskipun tak kudapatkan jawaban dari orang yang ku ajak bicara.
sepertinya memang aku harus belajar menempatkan diri dirumah ini, aku tidak perduli lagi, kalaupun nanti aku akan mendapatkan masalah aku tidak perduli, dan aku sudah pikirkan semuanya, seandainya saja hidupku akan berakhir dipenjara aku akan jalani, dan jika aku tidak dapat memenuhi keinginan ibu, aku akan minta maaf sama ibu, dan seandainya ibu saat ini bersama ku mungkin dia pun tak akan mengizinkan aku untuk seperti sekarang ini.
Aku masuk ke kamar dan menutup pintu dengan rapat, merebahkan tubuhku ditempat tidur, rumah ini memang begitu mewah untuk ku, Namun untuk apa aku bertahan jika tidak sama sekali memberi ku kebahagiaan. Mungkin ini sudah takdir hidup untuk ku.
namun akan kah kali ini Tania menyerah pada takdir hidup nya ? dan menerima sanksi atas uang yang digunakannya untuk ibunya ?
__ADS_1