Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Perjanjian pra nikah


__ADS_3

Sekitar jam 05.00 pagi, Tania melihat dokter kembali masuk keruangan ibunya, Tania masih menunggu diluar ruangan.


Dan tak berapa lama terlihat brankar dorong yang ditempati ibu Tania didorong keluar, dengan Terburu-buru Tania pun mendekati ibunya yang masih terbaring.


"Dokter ada apa dengan ibu saya?"


"Ibu kamu akan dibawa keruang operasi."


"Tapi dok bagaimana dengan biaya operasi nya?"


"Semua sudah dibayar lunas, bahkan sampai biaya perawatan sebulan kedepan."


Tania pun terdiam, ternyata apa yang dikatakan tantenya benar, pria yang akan menikahinya telah melunasi semua biaya operasi ibunya bahkan biaya pengobatan sebulan kedepan.


Biaya yang tak sedikit hanya hitungan jam telah terbayarkan, Tania menarik nafas panjang, ada rasa syukur dihatinya, karena ibunya sudah bisa mendapat penanganan medis dengan cepat, namun Tania juga gundah seperti apa lelaki yang akan menikahi dirinya.


Tania berjalan cepat menuju ruang operasi, dia dengan gelisah menunggu diluar , satu jam telah berlalu namun belum ada tanda-tanda operasi nya telah selesai.


Dan saat sedang menunggu diruang operasi ,Tania melihat om ,Tante dan dua orang pria datang ke arah ruangan operasi.


Tania pun berpikir apakah pria itu yang akan menikah dengan nya, tapi pria itu mungkin sebaya dengan papa nya bahkan bisa lebih tua dari papa nya.


Belum selesai Tania dengan berbagai pertanyaan dikepalanya, mereka pun sudah berada dihadapan Tania.


"Bagaimana ibu kamu tania?" Tanya om.


"Masih diruangan operasi om, belum ada tanda-tanda operasi nya telah selesai."


"Kamu Tenang saja, tuan kami akan memberikan penanganan terbaik untuk ibu kamu."


Jawab seorang pria yang tadinya datang bersama om dan tantenya, pria yang memiliki tatapan datar, Dan dingin itu, tak ada keramahan diwajahnya.


Tania hanya mentapnya sekilas, dia merasa begitu gugup dan takut, jika benar lelaki dihadapannya yang akan menikahi dirinya, apa yang akan Tania lakukan, Tania pasrah demi ibu nya.


"Maaf nona apa bisa kita bicara dulu sebentar?" Tanya pria itu lagi.


"Tapi pak, saya masih ingin menunggu ibu saya."


"Nona jangan khawatir, kita tidak akan lama, dan disini ada om dan Tante nona."


Tanpa menolak Tania pun bangun dari duduk nya dan mengikuti arah jalannya dua pria yang telah mendahului nya. Tania mengikuti mereka ke arah sebuah ruangan dirumah sakit.


Sepertinya ruangan khusus dirumah sakit itu, namun tak heran jika mereka bisa masuk keruangan itu, karena kalau benar seperti yang dikatakan om dan tantenya mereka memiliki kekuasaan dan harta .

__ADS_1


"Silahkan duduk nona" suara pria itu membuyarkan lamunan Tania.


Tanpa bicara apapun Tania pun menurut dan duduk dikursi yang berhadapan dengan kedua pria tersebut.


"Nona Tania, seperti yang sudah kami bicarakan sebelumnya dengan om dan Tante nona, nona harus menanda tangani perjanjian pra nikah."


Tania masih diam, perasaan nya campur aduk saat itu, bahagia dan sedih, bahagia untuk ibunya, dan kesedihan untuk pilihan hidup nya.


"Perkenalkan nona, saya pengacara yang akan mengurus semua nya."


Pengacara? Jadi bukan laki-laki ini yang akan menjadi suami ku, Tania pun menarik nafas lega, namun dia kembali kepikiran apa jangan-jangan pria itu cacat atau lumpuh, sampai-sampai tidak berani untuk menemuinya sendiri.


"Nona, silahkan dibaca dulu surat perjanjian ini, dan jika ada yang nona ingin kan silahkan beritahu saya."


Tania meraih sebuah amplo yang berisi surat perjanjian, dalam hati Tania pernikahan macam apa ini, dan pria seperti apa yang akan menikahi dirinya.


Satu persatu tania membaca tulisan itu, dan dipoin ketiga Tania sedikit keberatan, karena disitu tertulis kalau Tania tidak boleh meminta cerai apapun situasi yang terjadi.


"Pak saya tidak setuju dengan poin tiga ,bagaimana jika tuan bapak-bapak ini melakukan kekerasan kepada saya?"


"Nona jangan khawatir beliau tidak mungkin berani melakukan hal itu."


Tania pun menarik nafas, dan menghembuskan dengan kasar, dia memang tak punya pilihan, Dan dia bukanlah orang yang suka mengingkari janji.


"Pak saya ingin bertemu dengan Orang yang akan menikahi saya!"


"Maaf nona, untuk saat ini belum bisa, nanti juga nona akan bertemu dengannya."


Tania kembali kedepan ruang operasi, namun belum terlihat dokter keluar dari sana, setelah Tania kembali, om dan tantenya pun pulang.


Tania sampai geleng kepala melihat mereka bukannya prihatin dan ikut menunggu ibunya, namun malah meninggalkannya sendirian.


Tania sedikit tenang, walaupun dia telah menandatangani kontrak pranikah itu, namun dia tetap tenang, karena mungkin ini lah yang terbaik untuk dirinya.


Sekitar tiga jam ibu Tania berada diruang operasi, Tania pun melihat dokter yang mengoperasi ibunya keluar dari sana.


"Dokter bagaimana kondisi ibu saya?"


"Operasi nya berjalan lancar, mudah-mudahan bisa segera dipindahkan keruangan rawat"


"Terimakasih dokter."


"Apa bisa saya bertemu ibu?"

__ADS_1


"Tunggu sampai ibu kamu dipindahkan keruangannya."


"Baik dokter."


Tania pun kembali duduk didepan ruangan operasi, dan menunggu perawat dan dokter memindahkan ibunya keruangan yang Lain.


Setelah sekitar tiga puluh menit setelah operasi, ibu pun terlihat dipindahkan keruangan lain, Tania pun langsung berdiri dan mengikuti brankar yang didorong oleh dokter.


Tania menarik nafas lega melihat ibunya yang telah berada diruangan rawat walaupun masih belum sadarkan diri.


Tania terus menatap wajah ibunya yang masih terpejam, apa yang dikatakannya pada ibu jika ibu sadar dan tau kalau dia akan menikah dengan lelaki yang tidak ia kenal.


Tania menarik kursi disamping tempat tidur pasien, menggenggam jemari ibunya, dan menangis disisi ibunya, ternyata jalan hidup nya tak seindah yang dia bayangkan.


"Ibu.., maaf kan Tania Bu, Tania akan menikah walaupun tanpa meminta restu dari ibu, tapi Tania janji Bu akan memenuhi keinginan ibu."Air mata kembali membasahi pipinya, tak kuasa rasanya Tania menahan kesedihan itu sendiri, akan tetapi seandainya ibu nya sadar pun dia belum sanggup untuk bercerita Masalah ini.


Setelah hampir 5 jam, ibu pun sadar, namun masih belum bisa berbicara, kondisi ibu saat ini memang belum bisa seperti orang normal, pembuangan yang harus dilakukan melalui lobang yang dibuat pada perut nya.


Bahkan Tania bisa melihat ibunya yang masih belum bisa untuk bicara, terlihat lemah, setelah sebagian dari ususnya yang terkena kangker harus dibuang.


Tania tersenyum ke arah ibunya, menyemangatinya untuk tetap semangat untuk sembuh, harta yang dimiliki Tania saat ini hanya ibunya.


Orang yang telah berjuang demi hidupnya, masa depan dan kebahagiaan dirinya. Bahkan mungkin lupa akan rasa sakit nya sendiri.


Tania pun memanggil dokter dari tombol bantuan yang ada di dalam ruangan, supaya ibunya bisa diperiksa kesehatannya.


Tak lama dokter pun masuk dan melihat kondisi ibunya.


"Bagaimana keadaan nya dok?"


"Ibu kamu sudah melalui masa kritisnya, tapi akan lebih baik kalau tidak di ajak bicara terlebih dahulu, biarkan dia istirahat ."


"Baik dokter."


Setelah disuntikkan obat ibu pun memejamkan mata nya, mungkin pengaruh obat, atau karena kondisinya yang lemah.


Tania pun keluar menuju bangku tunggu pasien didepan ruangan, menyandarkan tubuhnya , memejamkan mata nya yang lelah, namun belum pun sempat mata itu terpejam , handphone Tania pun berdering.


Tania mengeluarkan handphone jadul milik nya itu, dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Nomor siapa ini? Kok gak ada nama penelponya."


Tania bertanya pada diri sendiri, dan karena tak kenal Tania pun mengabaikan telpon tersebut. Namun handphone nya kembali berdering.

__ADS_1


Dengan malas Tania mengangkat handphonya, namun siap yang menelponnya saat itu?


__ADS_2