
Suasana diruang keluarga itu pun hening, hanya Suara tuan Sanjaya yang terus terdengar, aku masih diam mendengarkan.
"Pras, dalam pernikahan ini papa lah yang bersalah, papa mohon terimalah pernikahan ini dan jalani semuanya dengan normal."
"Apa yang papa ingin kan?"
"Papa tak menginginkan apapun, papa hanya ingin kamu hidup dengan benar Pras, selama ini papa mendidik kamu menjadi orang yang bertanggung jawab, papa keras terhadap pendidikan kamu, itu semua demi masa depan kamu, papa tak pernah berharap kamu menjadi seperti ini."
"Apa menurut papa kehidupan ku saat ini salah?"
"Pras, jangan memusuhi papa, berdamai lah dengan papa, kembali kejakarta dan jadi lah suami yang baik."
"Untuk siapa?"
"Tentu saja untuk Tania, apakah kamu memiliki istri lain selain Tania? Dan kamu Tania, tolong terima pernikahan ini, papa tau jalannya sudah salah, tapi papa melakukan ini juga untuk kebaikan kamu, walaupun mungkin cara papa salah."
"Tapi Tania itu bukan Aku yang ingin menikahinya ,Kenapa aku harus menjadi suami untuk nya, bukannya dia menjual dirinya kepada papa?"
"Pras!!!" Suara tuan sanjaya menggelegar penuh amarah diruangan itu.
Aku bahkan begitu kaget, suasana yang tadinya tenang menjadi menegang, tangan tuan Sanjaya terlihat terangkat ingin menampar Pras, namun tangan itu hanya melayang dan tak sampai ke pipi Pras, tuan Sanjaya mengepalkan tangannya.
"Kenapa papa begitu marah, papa ingin menampar ku silah kan ,tampar pa, jika kehadiran orang lain bisa membuat papa menampar ku."
"Memang seharusnya dari dulu papa sering menampar kamu pras, agar kamu tidak kurang ajar dengan papa seperti sekarang ini." Suara tua itu terdengar bergetar.
"Sudah Tuan, Om Pras, kalau memang kehadiran saya sebenarnya tidak kalian harapkan ,biarkan saya pergi, biarkan saya kembali kejakarta dan menyambung hidup saya sendiri."
Aku berdiri dan menatap ke arah mereka, aku tak berniat melawan terhadap orang tua, tapi aku juga tak ingin hidup ku digantung tak ber arah seperti ini.
Tuan Sanjaya, menatap ke arah ku dan tak ada kemarahan disana, aku melihat mata itu begitu teduh, membuat ku terdiam sesaat.
"Maaf kan saya tuan, tapi seandainya tuan ingin memenjarakan saya saya ikhlas tuan, saya siapa menjalani semua konsekuensi yang telah disepakati dalam surat perjanjian."
"Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pa, papa bilang pada ku, kalau wanita yang bernama Tania bersedia menikah dengan ku, Karena dia tidak punya siapa-siapa."
"Maaf kan papa, Pras sebenarnya papa yang memaksa Tania menikah dengan kamu, dia tidak bersalah, papa, yang salah, papa menjadikan sakit ibunya sebagai senjata untuk memaksa Tania setuju menikah, namun papa tidak pernah mengatakan dengan siapa dia akan menikah."
"Ternyata papa orang yang kejam, papa lupa bagaimana rasanya saat aku dan juga papa kehilangan mama saat itu?"
"Papa benar-benar minta maaf Pras, tapi papa lakukan semua ini karena papa sudah tidak punya cara untuk memisahkan kamu dengan wanita itu, yang hanya bisa membuat mu menjadi pembangkang."
"Cukup pa, cukup! Jangan salah kan Tasya dalam hal ini, Karena aku lah yang sangat mencintai Tasya, dia yang selama ini menemani aku disaat aku membutuhkan Sandaran dimana papa?"
"Iya papa tau Pras, tapi dia selama ini melakukan hal itu karena dia membutuhkan uang kamu, dan papa bukan tidak perduli Pras papa bekerja keras untuk bisa menyelesaikan kuliah kamu, apa kamu tau itu Pras."
Mata tua itu menatap kearah ku dan Pras bergantian, aku melihat kesedihan Dimata tuan Sanjaya, namun om Pras seakan tak perduli, bahkan dia tak menatap ke arah papa nya.
"Tania, mungkin setelah ini kamu bertanya-tanya, untuk apa papa menikahkan kamu dengan Pras, sedang Pras sudah memiliki kekasih, papa menaruh harapan besar Sama kamu Tania, kalau kamu akan bisa mengembalikan Pras putra papa yang begitu papa sayangi."
Tuan Sanjaya diam sejenak, menarik nafas berat, ada air disudut matanya yang saat itu menunggu untuk jatuh ke pipinya.
"Hari ini papa datang, untuk menjelaskan semuanya, kalau kalian berdua tidak salah, Pras juga tidak tau menau tentang surat perjanjian itu Tania, dan begitu juga dengan Tania Pras dia tidak tau apa alasan papa memintanya menikah dengan kamu, jadi sekarang jalani kehidupan kalian semana mestinya, sepasang suami istri."
"Tapi aku tidak bisa, karena sampai kapan pun hanya Tasya yang Aku cintai dan akan menjadi istriku."
Pedih kurasakan dihati saat itu, aku mencoba untuk merasakan apa yang saat ini dirasakan tuan Sanjaya, namun seakan Kembali bertekad untuk memilih pergi, karena mendengar semua perkataan Om Pras."
"Baik, kalau memang itu prinsip kamu Pras, papa akan kasih kamu waktu selama satu bulan, kalau memang Tasya bersedia menikah dan menjadi istri kamu, papa akan merestui, dan kamu Tania papa bebaskan ,papa janji tidak akan menuntut kamu seperti perjanjian kita."
__ADS_1
"Iya Aku setuju, karena itu bukan hal yang sulit untuk ku "
"Dan kamu Tania ,selama satu bulan ini tetap lah tinggal disini bersama Pras , dan setelah itu papa akan mengurus kepindahan kamu ke Jakarta, dan untuk menebus semua salah papa, papa janji akan menanggung seluruh kehidupan dan kuliah kamu,anggap saja itu ganti rugi untuk kamu."
"Tidak perlu Tuan, kalau tuan mengizinkan saya pergi dari sini saya sangat bersyukur, saya akan menjalani hidup saya sendiri."
"Mulai hari ini buang lah rasa saling menyalahkan dan membenci, hidup lah selama sebulan ini sebagai saudara."
Tuan Sanjaya bangun, dan berjalan ke arah ku saat itu, menatap ku namun dengan tatapan penuh harapan, aku hanya bisa menebak apa yang ingin dia katakan, tapi aku tak Berani berkomentar apapun.
Tiba-tiba tuan Sanjaya menyentuh kepala ku, aku merasakan kehangatan dihati saat itu, kehilangan Seorang ayah sejak berusia 3 tahun ,membuat ku begitu merindukan sosok itu, namun sayang pertemuan ku dan tuan Sanjaya dalam waktu dan situasi yang tidak tepat.
"Jaga diri kamu Tania, dan jangan panggil papa tuan lagi, papa titip Pras."
Aku pun mengangguk ,padahal hati ku saat itu ingin menolak, namun kerinduanku akan sosok seorang ayah seakan menghipnotis ku untuk patuh pada tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya pun pergi dari hadapan kami, tinggal Aku yang masih mematung, dan juga Om Pras yang masih duduk ditempatnya, dan menatap ke arah lain.
Aku tak ingin membuat keributan saat itu, yang jelas kami berdua telah saling menduga-duga, aku pun melangkah kan kaki untuk pergi ke kamar, aku ingin istirahat dari semalam hanya masalah pernikahan ini yang dibahas , aku jenuh hati ku begitu lelah.
Kalau memang ini takdir terbaik untuk kami, Kenapa kami tidak saling menerima kenyataan,dan atau kah sebentar lagi memang aku akan menjadi seorang janda muda.
Sungguh miris rasanya, aku harus menyandang status janda di usia jalan 19 tahun. Kenapa kehidupan ku tak seindah percintaan orang lain? Impian ku akan menikah dengan Orang yang mencintai ku dengan tulus, sekarang ternyata benar-benar Hanya tinggal mimpi, belum sempat aku belajar untuk mencintai, aku sudah sah menjadi seorang istri.
"Yang jelas untuk sebulan kedepan aku tidak boleh sampai jatuh hati pada Om Pras, dan rasanya itu tidak mungkin aku jatuh cinta pada orang yang seperti itu"aku terus bicara pada hatiku sendiri .
Tapi biar lah selama satu bulan aku tinggal disini, karena tidak mungkin kalau aku tiba-tiba berhenti kuliah Tampa alasan.
Setelah lama Melamun aku pun tertidur, menikmati mimpi indah ku yang akan buyar saat aku terbangun
Aku menggeliat kan tubuh ku yang baru terbangun dari tidur, melangkah bangun dari tempat tidur menuju balkon.
"Ya ampun, sejuk nya angin dipagi hari membuatku ingin tidur lagi, apalagi memang masih terlihat gelap, dan aku yang sedang menatap langit pun teringat kalau aku masuk kuliah pagi.
Dan ternyata malah Aku yang di kaget kan oleh keluarnya sosok dari dalam kamar itu secara tiba-tiba ,hampir saja aku terjengkang kebelakang, untung saja tuan dingin itu masih mau menangkap tubuh ku.
Sekejap kami begitu dekat, bahkan saling tatap sudah seperti sepasang kekasih saja, namun itu hanya mimpi karena sekejap mata rasa kagum menjadi perasaan jengkel dihati ku.
"Terimakasih!" Ucap ku membuyar kan momen tidak enak itu.
"Lain kali hati-hati, seperti maling saja , pagi-pagi mengendap-endap."
"Siapa juga yang mau maling, aku kan tidak ingin membangun kan orang" jawab ku pelan.
"Kamu bilang apa?"
"Saya lapar mau makan."
Aku pun pergi meninggalkan Tuan dingin itu sendiri didepan pintu kamar nya.
Menuju dapur dan mencari bik Siti, seakan tak punya beban lagi, entah karena aku begitu bahagia karena sebulan lagi bisa pulang kejakarta, atau ada hal lain aku pun tak mengerti dengan hati ku.
"Bik Siti, bik!"
"Iya non, ada apa? Apa non Tania sudah lapar?" Tanya bik Siti sambil tersenyum lebar kearah ku.
"Bik apa ada yang bisa Tania bantu?"
"Tidak usah non, semua sudah siap , tinggal tunggu tuan besar dan tuan muda saja."
__ADS_1
" Ya sudah bik, kalau begitu Tania bantu letakkan dimeja saja ya bik."
"Tidak usah non duduk aja dulu, apa non ingin minum susu coklat sambil menunggu tuan?"
"Tidak bik."
"O iya ,non Tania Mau kemana?"
"Kuliah bibik!"
"Apa nona tidak ikut mengantar tuan besar ke bandara?"
"Memang nya Tuan Sanjaya, akan berangkat pagi ini?"
"Sepetinya begitu non, non Tania kenapa masih manggil tuan ,panggil papa seperti yang Tuan minta."
"Tapi bik, Tania tidak terbiasa, apalagi dari kecil Tania tidak pernah sebut kata papa."
"Kalau begitu non harus belajar, mungkin ini rezeki untuk non dapat seorang papa."
"Enggak ah bik, Tania takut!"
"Kenapa non Tania harus takut, sebenarnya Tuan besar itu orang baik non, dia juga sangat menyayangi tuan muda, Hanya saja sejak ibunya tuan muda meninggal , mereka menjadi berjarak, karena tuan besar sering sibuk dengan pekerjaan nya."
"Hmm, tapi bibik kok tau seh?"
"Ya iya lah non , bibik sebelum ikut ke sini ,bibik itu bekerja dengan tuan, mengurus semua keperluan tuan muda."
"Hmmm, pantas ya bik si tuan dingin itu terlihat baik sama bibik."
"Hush! Non enggak boleh gitu, tuan muda itu kan suami non, kualat tau non!"
"Kan emang iya, bibik tidak lihat tatapannya dingin begitu, seperti es batu saja, Tania Heran bik Kok ada ya, orang seperti itu?"
Aku terus bicara panjang lebar, namun aku heran kenapa tiba-tiba bik Siti diam, tidak menjawab perkataan ku lagi, dan aku yang berdiri membelakangi meja makan pun membalik kan badan karena bik situ seperti sedang meminta ku untuk balik arah dengan isyarat.
Dan ternyata,pantas saja bibik diam, rupanya yang sedang dibicarakan sedang duduk manis dikursi meja makan pas dibelakang ku.
"Aku pun jadi gugup, bagaimana kalau tiba-tiba dia marah?" Aku seperti biasa hanya bicara pada diriku sendiri.
Dan pagi itu Aku terselamatkan dari tatapan sangar si tuan dingin itu karena papa nya datang.
"Selamat pagi Tania?"
"Pagi Tu,eh pa!"
"Kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi?"
"Tania mau kuliah pa, ada kelas pagi."
"Kamu tidak ikut mengantarkan papa ke bandara?"
"Tapi Tania ada kuliah pa."
"Ya sudah kita sarapan dulu, nanti kamu di antar Pras saja ke kampus, jadi nanti dijemput saat papa ingin ke bandara."
"Tapi pa!" Protes om Pras.
"Kamu kan bos besar, jadi tidak Masalah kan sehari tidak ke kantor!"
__ADS_1
Karena aku tidak ingin melihat perdebatan, ya sudah aku pun langsung mengajak keduanya makan, aku bangun dan mengambilkan sarapan kedalam piring papa, dan juga kedalam piring Om Pras.
Sepetinya kehadiran tuan Sanjaya memang membuat ku sedikit tenang, tapi bagaimana kelanjutan hidup ku setelah hari ini?