Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Kecelakaan yang menimpa Tania


__ADS_3

Malam itu Tania berjalan dibawah deras nya hujan, air matanya tak lagi terlihat Karena dibasahi air hujan , Tania berhenti di tengah hujan menangis sekuat-kuatnya, ternyata dia tak sekuat itu.


Tania membenci perasaan nya saat itu, kenapa dia harus membuka hatinya untuk menerima Pras, hatinya begitu hancur pertama kali dia mengenal cinta namun hatinya diporak-poranda kan oleh orang yang mulai disukainya.


Pras yang sudah berada dilobi langsung menuju ke parkiran, mengambil mobilnya dan mencari Tania, namun Pras tidak bisa melihat jalan dengan jelas, hujan begitu deras.


Perlahan Pras melajukan mobilnya , tak jauh dari kantornya Pras melihat seseorang yang sedang berlutut ditengah derasnya air hujan dipinggir jalan.


Pras mencoba mendekat,namun dari arah berlawan sebuah mobil hitam keluar seorang pria yang membawa payung mendekat ke arah Tania.


Dan ternyata itu adalah Al, Pras pun segera turun , setelah mengambil payung dari dalam mobil.


"Tania! Kamu kenapa Tan, kenapa kamu hujan-hujanan?"


"Kak Al" Tania menatap ke arah Al yang saat itu sedang memayunginya.


Al berusaha membantu Tania untuk bangun, namun belum sempat tangan nya menyentuh Tangan Tania, satu tangan kekar menepis tangan Al, Al mengalihkan pandangannya ,dan saat itu dia bisa melihat dengan jelas Pras ,Om nya Tania.


"Jangan sentuh dia!"


"Maaf Om, saya Hanya ingin membantu Tania yang sedang hujan-hujanan, saya khawatir Tania bisa demam."


"Lebih baik kamu pergi dari sini biar saya yang urus Tania."


Tania bangun dan berdiri, menatap tajam ke arah Pras, tatapan penuh kekecewaan saat itu, dingin air hujan tak lagi membuatnya bergetar, karena rasa sakit yang dia rasakan saat itu mengalahkan semuanya.


Al yang sudah di usir oleh Pras pun berjalan sedikit menjauh, namun belum lagi sampai Al dimobil nya ,suara Tania menghentikan langkahnya.


"Kak Al, tunggu!"


Al membalikkan badannya menghadap ke arah Tania, dia tidak tau apa yang sedang terjadi, tapi Al juga tak ingin menduga-duga, Tania berjalan ingin ke mobil Al, tapi tangannya ditahan oleh Pras.


"Tania ini sudah malam, kamu bisa pulang dengan saya."


Namun bukan jawaban yang Pras dapat kan, Tania menepis tangan Pras dan berlari ingin menyeberangi jalan ketempat Al, Karena Hujan lebat pengendara kesusahan melihat jalanan.


Dan seketika Tania belum sampai di samping Al, suara mobil mengerem secara tiba-tiba terdengar begitu kencang, namun kecelakaan tak dapat dielakkan, Tubuh Tania ter campak Sejauh setengah meter dari mobil berhenti.


Pras dan Al berteriak bersamaan memanggil nama Tania, keduanya mendekati Tania.


"Tan, bangun Tan ini kakak!"


Namun sudah tak ada lagi jawaban air hujan yang tadinya jernih berubah merah bercampur darah yang mengalir dari kepala Tania saat itu.


Pras yang melihat hal itu tanpa banyak bicara langsung mengangkat tubuh Tania ke mobil dan juga tidak diam disana dia ikut masuk ke mobil Pras.


"Apa yang kamu lakukan ,ngapain kamu ikut masuk?"


"Om Tania dalam keadaan luka parah, tidak mungkin dia bisa diletakkan begitu saja, jadi biar saya yang memangku kepalanya."


"Kalau begitu kamu yang menyetir, saya yang memangku Tania."


Al Tak ingin berdebat lagi, Karena yang harus di pikirkan keselamatan Tania saat itu, Al langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Dokter yang melihat kehadiran Pras pun langsung mendekat, dan membawa brankar untuk membawa tubuh Tania.


Brankar dorong yang digunakan untuk Tania langsung masuk ke dalam ruang IGD, mereka membersihkan luka di kepala Tania, namun darah tak berhenti mengalir, akhirnya Tania didorong masuk ke ruang operasi.


"Dokter kenapa dia dipindah kan?" Tanya Pras yang ternyata juga khawatir.


"Maaf tuan, tapi kondisinya sangat parah, luka di kepala nya terus mengeluarkan darah, sepetinya kami akan melakukan tindakan operasi, maaf ya permisi."


"Operasi?"


Pras terdiam ditempatnya, dia bingung apa yang harus dia lakukan ,dan kalau sampai papa nya tau dia pasti akan marah besar, tapi dia tak mau perdulikan itu, karena jika sesuatu terjadi pada Tania apa yang harus dia katakan pada papa nya.


Al juga masih terlihat duduk di bangku tunggu didepan ruang operasi, dengan bajunya yang masih basah ,dia tak perdulikan itu, Al menelpon untuk meminta temannya mengambil mobil yang saat itu dia tinggalkan begitu saja bersama kuncinya.

__ADS_1


Itu semua karena dia panik melihat Tania yang hujan-hujanan dijalanan. Al pun kepikiran apa yang sebenarnya terjadi, karena baru saja dia mengantarkan Tania ke kantor Om nya.


Al pun menepis pikirannya yang tidak penting ,saat ini dia harus fokus pada keadaan Tania dulu, Al menyesal dalam hati seandainya tadi dia tidak pergi begitu saja, mungkin Tania masih baik-baik saja.


Operasi Tania berjalan selama Satu jam, lampu ruang operasi pun terlihat sudah mati, itu tandanya operasi sudah selesai, Pras mendekat ke arah ruangan operasi dan seorang dokter yang baru keluar dari sana.


"Bagaimana dokter?"


"Syukurlah, semua berjalan lancar, ternyata lukanya cukup lebar di dahi sebelah kanan nya, sehingga mengeluarkan banyak darah."


"Sekarang bagaimana kondisi Tania?" Tanya Al lagi.


"Tinggal tunggu stabil ,dan dia sudah melewati masa kritisnya, setelah ini kita akan pindahkan keruangan."


"Baik dokter, saya akan urus administrasi nya." Ucap Pras saat itu.


Setelah dokter pergi, Pras pun mendekat ke arah Al, entah kenapa Pras tidak suka dengan kehadiran Al.


"Lebih baik kamu pergi saja, sudah ada saya yang akan mengurus Tania."


"Tapi saya ingin melihat keadaan Tania terlebih dahulu."


"Tidak perlu, kamu bukan siapa-siapa Tania."


"Saya tau , tapi saya temannya ,saya hanya ingin memastikan kondisinya."


"Dia akan baik-baik saja "


Al yang tak ingin membuat keributan pun, akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana, dia tak ingin memperkeruh suasana.


Setalah Al pergi, Pras menghubungi rumah nya, karena dia juga perlu berganti pakaian, dan juga baju tania yang juga basah saat itu.


"Hallo bik Siti!"


"Iya hallo tuan, ada yang bisa bibik bantu?"


"Tuan kenapa panik siapa yang dirumah sakit?"


"Bik saya tidak bisa cerita panjang lebar, bibik kerumah sakit sekarang juga, minta antar dengan pak Kasim security rumah kita, bawakan baju saya lengkap, dan juga bajunya Tania."


Sambungan telpon pun diputus kan, bik siti masih berdiri ditempatnya, perasaan nya tidak enak, dia pun menelpon kedepan untuk meminta bantuan pak Kasim di antar kerumah sakit.


Setelah semua yang diperlukan disiapkan bik Siti pun pergi kerumah sakit, tapi sampai disana dia kebingungan ,karena Pras tidak mengatakan diruang mana dan siapa yang sakit saat itu.


Bik Siti mendekat ke resepsionis untuk bertanya.


"Ada yang bisa kami bantu Bu?"


"Maaf saya mau mencari tuan Prasetya!"


"OOO, pasien yang dibawa tuan Pras berada di ruangan operasi belum dipindahkan."


"Terimakasih suster."


Bik Siti segera mencari keberadaan Pras, saat itu dia yakin kalau bukan Pras yang sedang sakit, tapi apa Tania?


Sesampai didepan ruangan operasi bik Siti melihat Pras yang duduk di bangku tunggu ruangan.


"Tuan!"


"Bik Siti sudah sampai?"


"Iya tuan, tapi siapa yang sakit dan kenapa tuan jadi basah kuyup begini?"


"Tania kecelakaan bik."


"Non Tania kecelakaan tuan?"

__ADS_1


"Iya Bik, apa bibik membawa baju untuk saya?"


"Iya tuan."


Bik Siti menyerahkan paper bag yang berisi baju Pras. Dan Pras meninggalkan ruangan operasi dan berpesan pada bik Siti untuk menunggu disana.


Bik Siti dengan gelisah mondar-mandir didepan ruangan operasi, sampai akhirnya terlihat brankar yang berisikan Tania yang kepalanya di balut oleh perban.


Bik Siti langsung mendekat ke arah brankar dorong tersebut, melihat Tania yang tak sadarkan diri bik Siti pun meneteskan air matanya.


"Maaf buk, dimana tuan Pras?"


"Sedang mengganti baju nya suster."


"Kami akan pindah kan pasien ke ruang terbaik, seperti pesan tuan Pras."


"Baik suster saya akan ikut, karena tuan sedang berganti pakaian."


Bik Siti mengikuti brankar yang membawa Tania keruangan rawat juga, jarum infus pun terpasang ditangan Tania, namun gadis itu belum juga sadarkan diri.


"Dokter apa yang terjadi?"


"Jangan khawatir dia dalam pengaruh obat bius."


Bik Siti sedikit tenang dan ternyata saat itu Tania sudah berganti pakaian dengan seragam pasien rumah sakit, bik Siti mendekat kesamping Tania, menarik sebuah kursi dan duduk disamping gadis malang disamping nya.


Kenapa tidak ,begitu pergi meninggalkan Jakarta untuk ikut suaminya, namun malah bukan kebahagiaan yang dia dapat, tapi kesedihan yang terus menerus tiada hentinya.


Baru saja bik Siti merasa senang dengan kedekatan Pras dan Tania, namun gadis itu malah masuk rumah sakit, memang saat itu bik Siti tidak tau apa permasalah.


Tak berapa lama Pras muncul setelah berganti pakaian, dengan yang kering dan menyerahkan bajunya yang basah kepada bik Siti.


"Tuan kenapa non Tania bisa begini?"


"Tania tertabrak mobil bik, saat tadi hujan deras."


"Ya ampun non Tania,kenapa bisa begini non?"


"Bik Siti kalau ingin Pulang tidak apa-apa, Biar saya saja yang dirumah sakit."


"Tidak apa-apa tuan, kalau tidak tuan saja yang pulang dan istirahat."


"Tidak bik, bibik saja yang pulang malam ini, besok datang kesini lagi pagi-pagi."


"Tapi tuan bagaimana kalau non Tania sadar dan ingin ke kamar mandi?"


"Bibik tidak usah khawatir, ada banyak suster disini."


"Kalau begitu saya izin pulang tuan."


"Iya bik hati-hati."


Sudah satu jam setelah bik Siti pulang, belum ada tanda-tanda Tania akan sadar, Pras mulai gelisah menatap wajah Tania yang pucat karena banyak mengeluarkan darah.


Suara dering handphone Pras membuyarkan lamunan nya saat itu, Pras menatap layar handphone dan ternyata Tasya yang menghubunginya, Pras tak ingin menjawab, Pasti Tasya akan marah Masalah kejadian dikantor Karena Pras meninggalkan dirinya begitu saja.


Namun saat ini lebih baik dia mengabaikan dulu Tasya dan fokus pada keadaan Tania. Seorang dokter masuk melihat kondisi Tania saat itu.


"Dokter apa yang terjadi, kenapa dia belum sadarkan diri?"


"Tidak apa-apa tuan jangan khawatir, ini lebih baik, untuk beberapa waktu kedepan dia tidak merasakan sakit dikepalanya."


"Apa ada cidera yang serius dokter?"


"Selain itu tidak ada,tuan jangan khawatir."


Pras menarik nafas berat dan berharap semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2