
Setelah selesai makan siang ,Tania pun menuju ruang keluarga ,dia ingin menonton televisi, Karena Tania paling suka dengan cartoon, dia pun menonton film cartoon, Tania yang merasa lucu dengan apa yang dia tonton pun sampai kelepasan tertawa , Pras yang baru turun dari kamar nya Sampai menaikkan alisnya.
Dan berpikir ada apa dengan gadis itu, Pras berjalan mendekat ke arah suara Tania, dan karena penasaran Pras pun ikut duduk disofa yang berada dibelakang Tania, Tania yang lebih senang duduk si ambal tak menyadari kalau ada Pras yang ikut menonton.
Pras hampir tidak pernah menonton televisi, dia sibuk dengan kantornya, ataupun jalan-jalan menghabiskan waktu dan uang nya bersama Tasya, bahkan kadang dia sampai lupa kalau memiliki rumah, Tasya selama ini terlalu menguasai dirinya.
Namun siang itu, Pras seperti terhipnotis dia begitu penasaran apa yang lucu dengan yang ditonton Tania. Dan Pras juga ikut larut dalam tontonan anak-anak itu jadi ikut tertawa.
Bahkan sampai membuat Tania yang begitu fokus dengan televisi sampai memutar badannya, dan Tania terdiam menatap Pras, tak terlihat sikap dingin, atau wajah datarnya, namun Pras layaknya manusia biasa seperti dirinya.
Tanpa disadari Tania terus menatap Pras yang sedang tertawa sambil memegang perutnya, dalam diam Tania tersenyum, ternyata Om Pras juga memiliki sisi lain, dia terlihat tampan ketika tertawa.
Tania masih termenung menatap ke arah Pras, dan Pras pun ikut terdiam ketika tanpa sengaja mata mereka saling bertemu. Tania yang menyadari hal itu segera merubah Suasana yang saat itu terlihat canggung.
"Om ternyata bisa tertawa juga, Tania pikir om cuma bisa marah-marah dan bersikap dingin seperti es batu."
Pras yang kepergok menjadi salah tingkah, dia bangun berencana untuk pergi, namun dengan sigap Tania menahan tangan Pras.
"Om mau kemana, kita nonton lagi!"
"Saya mau istirahat'."
"Om disini juga bisa istirahat bahkan bisa menghilangkan beban."
"Lelucon."
"Iya, memang lelucon ,kan Om tadi tertawa."
Namun pras tetap mau pergi dan Tania mencoba menahan nya sekuat tenaga, Tania sudah pikirkan semuanya, tak ada gunanya dia dan om Pras berselisih paham, apalagi untuk waktu sebulan kedepan.
Tania ingin menghabiskan waktunya sebulan dengan berdamai, setidaknya sebagai ucapan terimakasih karena sudah diberikan kesempatan untuk kuliah diluar negeri dan dikampus terkenal.
"Om Ayo lah, ini kan rumah Om kenapa harus pergi, kalau tidak Tania yang pergi dan Om yang nonton."
"Saya mau ke kamar."
Namun Tania menarik Pras untuk duduk lagi, dan alhasil bukannya duduk Pras malah terjerembab ke bawah dan menimpa tubuh Tania, keduanya pun saling tatap Bahkan bibir Pras saat itu menempel di bibir Tania.
Karena masih dalam keadaan terkejut keduanya masih diam ditempat, dan saat itu bik Siti yang ingin mengantar minuman dingin untuk Tania pun terkejut dan dengan reflek memanggil Tania.
"Non Tania?"
Keduanya pun terkejut Dan langsung membenarkan posisi masing-masing.
__ADS_1
"Bik Siti, ini tidak seperti yang bibik lihat."
Tania yang polos berusaha menjelaskan pada bik Siti, padahal seharusnya Tania tak perlu melakukan hal itu, karena dia dan Pras adalah suami istri ,jadi tidak akan ada yang akan memarahinya.
Saat itu bik Siti ingin tersenyum tapi dia takut tuan mudanya marah, dalam hati bik Siti berharap tuan muda dan nona nya bisa bersama dan saling menerima.
"Tuan maaf kan saya ,tadi saya ingin mengantarkan minuman non Tania."
Bik Siti meletakkan minuman dan pergi dari sana, tinggallah Pras dan Tania yang pipinya memerah karena malu, dan Tania pun refleks memegang bibirnya yang tadi sempat menempel dengan bibir Pras.
Tania menghadap ke arah Pras, dengan tatapan tajam dan bibir manyun, dia sedang kesal dengan Pras, namun Pras yang ditatap begitu pun mengangkat sebelah alis nya, Karena dia tidak tau apa yang sedang terjadi.
"Kamu kenapa menatap saya seperti itu?"
"Om Pras, kenapa menodai bibir Tania , Om tau enggak sih Tania menyimpannya untuk suami Tania nanti, tapi kenapa Om Pras malah menodai kesucian bibir Tania."
Pras malah melongo bingung sendiri, apalagi melihat Tania sudah berdiri dihadapannya dengan memegang bantal, dia bingung dengan maksud Tania menodai bibir nya, apa hari gini masih ada yang membicarakan tentang menjaga kesucian , dan yang dipermasalahkan Tania adalah bibirnya yang tadi menempel dibibir Tania.
"Om jangan pura-pura tidak tau, tadi bibir Om kenapa menempel dibibir Tania?"
Pras tidak juga menjawab, dia menelan ludah nya, apa benar kata papa nya kalau gadis dihadapannya belum pernah punya kekasih.
Karena tak mendapat jawaban atau pun permintaan maaf Tania pun memukul Pras dengan bantal sofa.
"Sekarang Om minta maaf sama Tania,kembali kan kesucian bibir Tania" tangannya masih terus memukul Pras.
Dan Pras yang kelelahan menghindari Tania, akhirnya menangkap tangan Tania dan membuang bantal nya.
"Eh, gadis bodoh bukannya kamu tadi yang terus menarik-narik tangan saya?"
"Tapi Tania tidak meminta Om menodai bibir Tania."
"Kamu ini kebanyakan nontom sinetron, kamu itu sudah besar jangan bicarakan masalah ciuman pertama l lagi , itu tadi tidak sengaja."
"Tapi Om tetap sudah menodai kesucian bibir Tania tau!"
"Sudah lupakan, tadi itu kecelakaan kamu paham, Saya juga tidak ingin menempel
di bibir anak kecil seperti kamu."
"Om harus tanggung jawab pokoknya, Tania mau om kembalikan Ciuman pertama Tania, itu untuk suami Tania."
"Jadi apalagi yang kamu ributkan?"
__ADS_1
Tania mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Pras namun tidak bisa ,karena Pras itu lebih kuat dan jauh lebih besar dari Tania.
"Diam, atau mau saya cium lagi bibir kamu dengan sengaja?"
Tania pun diam dan mengatupkan mulut nya dengan rapat, tentu saja dia tidak rela kalau harus menyerahkan bibir nya kepada pras, apalagi dengan sengaja.
"Sekarang dengarkan saya baik-baik!"
Tania mengangguk kan kepalanya, tanda dia mengerti dan mendengarkan apa yang dikatakan Pras.
"Kamu ingin memberikan ciuman pertama kamu kepada suami kamu kan?"
"Hmmm."
"Kalau begitu sudah terpenuhi ,jadi kamu diam jangan berisik, saya mau menonton."
"Apa maksud Om, om tidak mau minta maaf?"
"Untuk apa saya minta maaf, kamu lupa kalau saya ini suami kamu?"
Mulut Tania ternganga, benar saja apa yang diharapkan tercapai juga, Pras adalah suaminya, dia tak punya jawaban lagi untuk perkataan Pras, Tania kembali manyun, dia sangat kesal tapi dia pun tak bisa marah, Pras benar mereka adalah suami istri.
"Sudah duduk ,enggak perlu manyun begitu, apa kamu berharap akan saya mengulanginya lagi?"
Tania menatap Pras, dengan tatapan kesal dia pun pergi dari sana ,tidak jadi menonton lagi, Tania berjalan ke kamar nya sambil terus memarahi Pras, walaupun yang dimarahi sama sekali tidak mendengar.
Dan saat akan menaiki tangga Tania bertemu bik Siti, dan terlihat tersenyum ke arah nya, tentu saja Tania jadi malu mengingat kejadian tadi antara dia dan Pras.
Tania langsung menaiki tangga dan menuju kamar nya, namun ternyata kekesalannya belum juga reda ,dia kembali memarahi Pras sambil mondar-mandir dikamar nya.padahal yang dimarahi sama sekali tidak mendengar nya, Tania jadi malu sendiri benar juga kata pras tadi kalau dialah yang menarik-narik tangan pras, sehingga insiden itu terjadi.
Tania menepuk jidatnya pelan, mengingat kejadian tadi, karena bisa-bisanya dia bertindak bodoh dengan sok akrab dengan pras.
Lain hal nya dengan Tania, pras yang berada dibawah pun tersenyum sendiri mengingat sikap tania yang terlihat seperti kekanak-kanakan, baru kali ini pras bertemu perempuan yang mempermasalahkan tentang bibir yang hanya menempel bahkan tidak sengaja.
Pras tersenyum sendiri, mengingat kelucuan Tania tadi, tapi apa benar ada gadis yang masih mempermasalahkan tentang ciuman pertama dan itu hanya masalah bibir? Pras jadi tersenyum sendiri saat bertanya pada hatinya sendiri, sungguh lucu menurut nya , Pras pun melebarkan senyum nya mengingat hal itu, senyum yang telah lama sirna , semenjak dia pergi meninggalkan jakarta, Namun seorang Tania hari ini membuatnya tersenyum, bahkan wajah dingin dan datar itu seakan sirna begitu saja.
Tapi apa itu pertanda kalau pras sedang mencoba menerima kehadiran Tania atau hanya sekedar menghibur untuk nya. Senyum pras yang sudah lama hilang pun seakan terbit, selama ini dia hidup sendiri, dan menghabiskan waktu nya bersama dengan Tasya itu hanya dengan keseriusan, yang dia pikirkan hanya uang dan uang, karena memang hanya itu yang diinginkan Tasya , kesenangan, dan memang pras juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu, harta nya yang di habis-habiskan oleh Tasya tak pernah dia permasalahkan, Karena dia juga membutuhkan Tasya untuk menemaninya.
Pras menyandarkan tubuhnya ke sofa , memejamkan matanya, pikirannya menerawang, sejenak bayangan papa nya melintas dibenak pras, pras menarik nafas berat, begitu lama sudah tak ada lagi kehangatan antara dirinya dan papa, hanya karena keegoisan dan saling mempertahankan pendapat masing-masing.
"Andai saja mama masih hidup mungkin saat ini keluarga mereka masih rukun dan bahagia. ma, Pras merindukan mama!" Pras bicara pada dirinya sendiri.
Ada rasa rindu yang luar biasa pras rasakan, dan entah kenapa tiba-tiba pras terbayang akan wajah tania, pasti akan lebih sulit untuk tania yang saat ini kehilangan kedua orang tuanya, apalagi ibunya baru sebulan ini meninggal dunia, pasti akan sangat sulit, dan mungkin saat ini Tania pasti membutuhkan sandaran dan dukungan, namun apa yang aku dan papa lakukan, malah menambah beban hidup nya, dengan menjadikan dia seperti sekarang ini.
__ADS_1
Ada rasa bersalah dibenak Pras saat itu, Namun semua sudah terjadi, mungkin saat ini dia memang akan fokus pada hubungannya dengan Tasya, supaya dia bisa melepas kan Tania, Namun bagaimana kehidupan Tania setelah ini jika dia kembali kejakarta karena Tania hanya sebatang kara, apalagi Pras tau kalau Om dan tantenya tak pernah peduli dengan kehidupan tania.
Pras menarik nafas berat dan membuangnya dengan kasar, apakah ini pertanda kalau pras akan menerima pernikahannya dengan Tania, Atau kah Pras akan melepaskan Tania untuk hidup sendiri di Jakarta ?