Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Pernikahan hanya status


__ADS_3

Ini adalah malam pertama Tania berada dirumah Pras suaminya, tapi apa pantas disebut suami, sedangkan Pras pun tak pernah mengakui pernikahan mereka.


Setelah makan malam Tania langsung menuju kamar nya untuk ber istirahat, terlalu lelah untuknya duduk didalam pesawat.


Tania mencoba memejam kan matanya walaupun baru jam 08.00 malam, dia tidak tau Harus berbuat apa, karena dirumah itu semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakannya.


Namun untuk nya kehidupan nya dengan ibu nya jauh lebih baik, Tania naik ke atas tempat tidur ber ukuran besar itu, Namun dia belum bisa memejamkan matanya.


Jujur tania sangat merindukan ibu nya, belum pun kering pemakaman ibunya, tania sudah pergi meninggalkan Jakarta untuk ikut bersama Pras.


Karena tak juga kunjung bisa memejamkan mata, Tania pun memutuskan melihat pemandangan negeri Paman Sam itu dari atas balkon kamar nya , dan ternyata begitu indah nya negeri tempat dia berpijak saat itu.


Saat sedang asyik dengan pemandangan malam hari itu, Tania pun melihat mobil mewah berwarna putih meninggalkan halaman rumah Pras.


"Siapa itu yang pergi? Apa om Pras? Tapi Mau kemana dia malam-malam begini." Tania berbicara pada dirinya sendiri.


Namun tentu saja dia tak mendapatkan jawabannya, dan pada saat sedang memikirkan siapa yang pergi, handphone tania pun berdering.


Berjalan menuju meja rias dimana handphone nya diletakkan dan ternyata Yang menelpon adalah tuan Sanjaya.


"Hallo tuan!"


"Hallo Tania! Bagaimana sudah lama kamu tiba dirumah Pras?"


"Sudah tuan, sudah jam 11.00 pagi tadi."


"Tania, jangan panggil saya tuan, saat ini kamu adalah menantu saya, panggil saya papa."


"Iya tuan, eh maksud Tania papa."


"Bagaimana ,apa Pras memperlakukan kamu dengan baik?"


"Iya pa, semua baik-baik saja."


"Tania, kamu jangan segan-segan bicara kepada saya, jika Pras melakukan sesuatu yang buruk terhadap kamu."


"Iya pa."


"Ya sudah, jaga diri baik-baik, semua urusan kuliah kamu akan di urus Pras, papa sudah bicara dengan nya."


"Baik pa, terimakasih!"


Sambungan telpon pun terputus, Tania meletakkan kembali handphone nya di meja Rias, berjalan mendekati pintu menuju balkon dan menutup nya karena bosan Tania pun memutuskan untuk turun kelantai dasar, mencari bik Siti.


Dan ternyata yang dicari sedang berada didapur dan membersihkan dapur ,Tania mendekat ke arah bik Siti.


"Bik!" Panggil Tania yang sempat membuat kaget bik Siti yang sedang fokus pada pekerjaan nya.


"Eee non Tania, ada yang bisa bibik bantu non, kok datang kedapur, kalau perlu apa-apa non bisa hubungi bibik dari kamar disana sudah ada telpon yang terhubung ke nomor bibik non."


"Iya bik, Tapi Tania memang ingin bertemu bibik ,kan bibik tadi bilang akan mengantar kan Tania untuk berkeliling rumah ini."


"Tapi ini sudah malam non, apa tidak besok pagi saja?"


"Tapi bik ,Tania bosan tidak tau harus ngapain."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu Ayok ikut bibik."


Aku dan bik Siti pun berjalan menuju kesebuah taman yang berada dibelakang rumah mewah tersebut, ternyata rumah itu masih memiliki lahan yang luas.


Aku dan bik Siti pun memutuskan untuk duduk di taman itu, taman yang diterangi dengan banyak lampu dan juga sinar cahaya rembulan.


"Bik, tempat ini apa bibik yang mengurusnya?" Tanya ku saat itu.


"Kadang-kadang non, tapi sering tukang kebun yang mengurus nya, nona suka kebun bunga?"


"Iya bik, kebun ini mengingatkan Tania sama ibu, walaupun ibu sibuk, ibu suka menanam bunga."


Mata Tania berkaca-kaca, dia menatap ke arah langit, untuk menahan air bening itu menetes di pipinya. Dia tak ingin menangis lagi, Tania mencoba ikhlas dengan kepergian ibunya, namun dia belum bisa.


"Non Tania masih punya ibu?" Tanya bik Siti saat itu."


Namun Tania masih diam, dan kemudian menggeleng kan kepala nya, kali ini air bening itu lolos begitu saja dipipi putih nya.


"Non, Tania kenapa nangis? Apa non kangen dengan ibu non?"


Bik Siti masih berpikir kalau tania sedih karena jauh dari orang tuanya saat itu


"Bik Siti, sekarang ibu sudah tak bisa bertemu Tania lagi, kami sudah berada


ditempat yang berbeda bik."


" Non jangan sedih, nanti jika libur kuliah non masih bisa pulang kejakarta kan?"


"Tapi Tania tetap tidak akan bertemu dengan ibu bik, ibu sudah pergi meninggalkan Tania untuk selama-lamanya."


"Maafkan bibi ya non."


"Enggak bik , bibik tidak salah, hanya saja Tania yang begitu cengeng, mungkin karena baru lima hari ibu pergi bik."


"Lima hari?"


"Iya bik, Tania sudah tidak punya siapa-siapa, dan hanya om Pras yang mau membantu melanjutkan kuliah Tania, jadi Tania langsung ikut kesini."


"Sudah non jangan sedih lagi, harus kuat, disini juga ada bibik kalau non Tania mau cerita."


Bik Siti menghapus air mata Tania, yang seharusnya saat ini Pras lah yang harus menghapus air mata istrinya, namun sayang nya untuk Pras pernikahan nya dan Tania hanya status di atas kertas saja tidak untuk hidup nya.


Tania yang begitu merindukan ibunya pun memeluk buk Siti, menumpahkan kesedihannya, dan kerinduannya pada sang ibu, bik Siti juga merasa iba dengan Tania yang hanya sebatang kara.


Saat itu bik Siti pun berpikir kalau tuannya adalah orang yang peduli dengan kesusahan orang lain, karena dia mau membawa Tania bersamanya.


Setelah Tania lebih tenang bik Siti mengajak Tania masuk kedalam, karena cuaca semakin dingin.


"Bik, Om Pras kemana?" Tanya Tania saat akan menaiki tangga ke lantai atas.


"Pergi, mungkin ingin bertemu pacarnya, kan beberapa hari ini tuan berada di Jakarta."


Pacar?, Begitu pertanyaan di hati Tania saat itu, suaminya pergi bertemu pacar nya, Tania tersenyum getir, tapi bukankah itu lebih baik, itu artinya Tania bisa melanjutkan kuliahnya dengan tenang.


Hanya senyum yang diperlihatkan Tania kepada bik Siti, agar semua terlihat baik-baik saja, Tania berjalan menuju kamar nya, dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Dan tanpa dia sadari ,dirinya telah terlelap dalam mimpi, dan seandainya bisa Tania ingin terus berada dalam mimpi indah nya dan tak terbangun untuk melihat kenyataan pahit hidup nya.


Keesokan pagi seperti biasa tania bangun jam 05.00 pagi, karena itu sudah kebiasaan dirinya saat bersama dengan ibu.


Turun kelantai dasar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Tania berjalan perlahan menuju dapur, dan ternyata disana sudah ada pelayan rumah yang sedang beberes dan menyiapkan sarapan untuk nya dan Pras.


"Selamat pagi!" Sapa Tania pada semua yang ada disana.


"Selamat pagi nona, Nona sudah bangun?" Tanya salah satu pelayan yang Merasakan hal baru.


seorang majikan bangun pagi dan menyapa mereka, biasanya mereka lah yang selalu menyapa majikannya namun tak pernah mendapat jawaban.


"Bik, panggil aja nama Tania, tidak usah non segala!"


"Jangan non Kami tidak berani, tuan Pras bisa marah dengan kami."


"Apa tuan pras itu kejam bik?" Tanya Tania sambil tertawa kecil.


Semua hanya tersenyum tidak ada yang memberikan jawaban, merek terus melanjutkan pekerjaannya, Sampai Tania pun ikut membantu walupun mereka sudah melarang, karena Tania terus beralasan kalau dia bosan jika tidak ngapa-ngapain, jadi bik Siti akhirnya mengalah dan mengizinkan Tania membantu yang ringan saja.


Pagi itu Tania tersenyum bahagia, dia begitu senang bersama pelayan dirumah Pras, Tania seakan menemukan sosok ibunya yang telah tiada.


Setelah selesai membantu bik Siti Tania pun berniat kembali kekamar nya namun dia bertemu dengan pras diujung tangga lantai dasar.


"Nanti sekitar jam 10 kita akan ke kampus untuk mendaftarkan kuliah kamu." Pras bicara Tanpa menatap ke arah Tania.


"Iya om, nanti Tania akan siap-siap , terimakasih om sudah mau mengurus kuliah Tania." Ucap Tania sambil menatap ke arah suaminya yang saat itu seakan mengganggap nya tak ada.


"Apa kamu tidak bisa memanggilku dengan panggilan lain, saya merasa terlalu tua untuk panggilan itu."


"Maaf om, Tania rasa itu panggilan yang cocok, kan kalau panggil tuan tidak boleh, panggil kakak kemudaan, kalau panggil mas kesan nya terlalu intim, apalagi kalau panggil suami lebih tidak mungkin kan?" Ucap Tania panjang lebar, entah dari mana keberanian nya saat itu.


Memang Tania adalah gadis yang periang, dan juga cepat akrab dengan orang lain, bahkan jika ada orang yang menyakitinya pun Tania akan begitu mudah melupakannya.


Pras saat itu masih mematung ditempatnya, namun Tania sudah pergi menaiki anak tangga dan meninggalkan Pras sendirian, Pras tidak menyangka ternyata gadis itu bukanlah gadis pendiam.


Namun pras tak ingin memikirkan hal tak penting itu, dia pun keluar dari rumah nya untuk joging, karena itu memang aktivitasnya dipagi hari.


Sekitar pukul 07.00 pagi Pras sudah kembali, membersihkan diri dan sarapan, pagi ini yang mengambilkannya sarapan adalah Tania, Pras berbeda dengan orang-orang yang hidup di Amerika lainnya, Pras lebih suka sarapan nasi dari pada roti.


Setelah sarapan, Pras pun pergi kekantor, dan diteras depan dia bertemu Tania, Pras kembali mengingatkan Tania kalau akan pergi ke kampus, dan dijawab dengan anggukan oleh Tania.


Namun pada saat Pras akan pergi Tania mengulurkan tangannya kehadapan Pras, namun pras tak mengerti apa maksud Tania.


"Ada apa, apa kamu mau saya berikan uang?"


Namun Tania menggeleng kan kepalanya, dan Karena Pras belum juga memberikan tangannya, Tania pun meraih tangan pras dan mencium nya.


Pras sesaat seperti kebingungan sendiri dengan apa yang dilakukan Tania, namun untuk Tania itu biasa saja, walaupun Tania tak pernah berharap pernikahan nya dengan Pras, tapi Tania tak pernah lupa tentang apa kewajiban nya terhadap suami yang selalu di ajarkan ibunya.


"Om, tidak jadi kerja?" Pertanyaan Tania membuyarkan lamunan Pras.


Saat itu Pras ingin protes panjang lebar dengan apa yang dilakukan Tania, namun dia harus segera ke kantor, Pras pun pergi dan saat itu dia juga melihat Tania melambaikan tangan ke arah nya.


Setelah Pras pergi, Tania kembali ke kamar dan mempersiapkan ijazah nya yang akan dibawa ke universitas, Tania melihat ada panggilan dari Danil, pasti karena Danil ingin bertemu dengannya setelah ibunya meninggal, Tania mengabaikan nya saja mungkin akan lebih baik jika dia tidak berhubungan dengan Danil.

__ADS_1


Tania juga tidak ingin Danil tau tentang pernikahannya dan pamannya Danil, apa yang akan dipikirkan Danil tentang nya, dan Tania juga mungkin harus memulai semua kehidupannya yang baru.


__ADS_2