Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Rasa itu mulai tumbuh


__ADS_3

Pras yang masih duduk ditempat nya pun, menarik rambutnya kasar, dia benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.


Pras masih ragu dengan apa yang dia rasakan terhadap Tania. apa ini memang perasaan cinta atau hanya rasa kasihan dengan kehidupan Tania.


pandangan Pras pun beralih kemeja ruang tamu, Pras baru sadar kalau dia tadi sempat membeli makan malam untuk dirinya dan Tania.


Pras berjalan mendekat ke pintu kamar Tania, dan mengetuknya perlahan.


"Tania, kita makan malam dulu."


"Tania sudah kenyang." jawab Tania.


"Tan, kamu makan apa kenyang, bukannya kamu belum makan?"


"Makan hati." jawab Tania ketus.


Pras yang belum nyambung dengan apa yang dikatakan Tania pun terus ya manggil Tania untuk keluar.


"Kamu jangan mengada-ada Tan, kamu masak nasi goreng aja gosong gitu, kapan kamu makan."


"Apaan seh Om, yang penting Tania kenyang."


"Tan, kamu keluar dulu kita makan, dari siang kamu belum makan."


Tania masih malas keluar, dia kesal dengan Pras, namun Pras terus saja memanggil-manggil namanya, dengan kesal Tania keluar , dan begitu membuat pintu ternyata Pras masih berdiri didepan kamar nya.


Pras langsung melebarkan senyum nya, melihat Tania akhirnya membuka pintu, sesaat Tania seakan terhipnotis dengan senyuman pria tampan dihadapannya.


"Ya Tuhan,, andai saja setiap hari Tania bisa melihat senyum ini" ucap Tania dalam hati.


Pras yang melihat Tania malah melamun jadi Herna sendiri.


"Tania, kamu kenapa?" tanya Pras sambil menyentuh bahu Tania.


Tania pun tersadar dari lamunannya, dia sedikit grogi dengan lamunannya sendiri.


"Kamu kenapa?"


"Tidak."


"Kita makan dulu, tidak baik membuang-buang makanan."


"Sejak kapan Om Pras sadar akan hal itu?" tanya tania menyindir Pras.


Karena selama ini dirumah Pras selalu memasak makanan yang berlebihan padahal hanya dua orang yang berada di rumah itu.


"Sudah, lebih baik kita makan dulu Aku sudah lapar." jawab Pras mengalihkan pembicaraan.


Tania pun akhirnya mengikuti Pras kemeja makan, Namun dia hanya duduk diam ,karena semua sudah disiapkan oleh Pras.


"Ayo makan!"


"Tania kenyang Om."


Pras yang sedang memegang sendok pun langsung menyendok kan nasi goreng seafood kesukaan Tania, dan mengarahkan sendok nya ke mulut Tania.


Namun Tania masih terdiam, tanpa respon apapun.

__ADS_1


"Buka mulut kamu !" perintah Pras.


"Tania kenyang Om."


Namun Pras tetap memaksa, sampai akhirnya Tania terpaksa membuka mulut nya, walaupun wajah nya cemberut.


"Tidak baik makan sambil cemberut."


”Sejak kapan Om peduli, pasti itu karena Om hari ini melakukan kesalahan kan?"


Pras tak menjawab, dia hanya menatap Tania sekilas, sebenarnya apa yang dikatakan oleh Tania ada benarnya ,perhatian yang diberikan malam ini karena pas merasa bersalah dengan Tania.


"Lebih baik habiskan nasi goreng nya."


"Kenapa Om tidak menginap saja di hotel?" tanya tania.


Yang sebenarnya saat itu sedang memancing pras ,untuk mengatakan ke mana dia dan Tasya pergi. Namun Tania tidak mungkin bertanya karena itu akan membuat dia terlihat begitu posesif.


Namun Pras bukanlah anak kemarin sore, dia tau kalau Tania sedang memancing dirinya.


"Jangan bicara saat sedang makan."


"Oke, kita akan bicarakan hal ini setelah makan." jawab Tania asal.


Dia langsung meraih Pring yang berisi nasi goreng dan langsung memakannya, karna sebenarnya dia memang sangat lapar. Dan dia juga ingin cepat menghabiskan nasi goreng nya, agar Pras tidak ada alasan untuk menjawab semua pertanyaan nya.


"Tania sudah selsai."


Sontak Pras mengarahkan pandangannya ke arah Tania.


"Karena Tania ingin bicara, bukan kah tidak boleh bicara saat sedang makan?"


"Tapi Aku masih makan."


"Ya sudah, Tania akan tunggu."


Pras nyaris tersedak mendengar perkataan Tania, sepetinya malam ini dia akan menghadapi Masalah besar.


Tapi sebenarnya bukan Tania yang ingin bicara dengan dirinya yang membuat Pras takut, tapi dia hanya khawatir kalau pembicaraan ini akan memperkeruh hubungannya dengan Tania.


Tania masih setia menunggu Pras Yanga sengaja makan berlama-lama.


"Om sedang apa? sedang menghitung jumlah nasi goreng? kenapa lama sekali?"


Pras pun menatap Tania, dan Pras begitu kaget ketika menyadari kalau posisi Tania berada kayak gitu dekat dengan dirinya.


"Kamu sedang apa?" tanya Pras terlihat gugup.


"Menunggu Om makan." jawab Tania santai.


"Tapi kenapa harus dekat begini, kamu masih lapar?"


"Tidak"


Tania memundurkan tubuhnya Yanga saat itu sedang bertumpu di atas meja makan. Dia pun memanyunkan bibir nya karena kesal, dia mulai menyadari kalau Pras sengaja berlama-lama.


" cepat makannya!"

__ADS_1


"Sabar!"


Karena tak juga Pras selesai ,Tania yang mulai kehilangan kesabaran pun mengambil alih sendok ditangan Pras, dan menghabiskan nasi goreng Yang hanya tinggal sedikit lagi itu.


Pras hanya melongo, dia tak menyangka kalau Tania menyadari kalau dia sengaja.


"Sekarang udah selesai kan Om."


"Iya , Tapi lain kali kalau masih lapar jangan sok jual mahal."


Namun saat itu Tania tidak ambil pusing, dia berjalan memutari meja dan menarik tangan Pras Yanga baru saja selesai menghabiskan air mineral nya.


Karena tubuh Pras yang kekar Tania sedikit kesusahan.


"Om ini berat sekali, pasti karena banyak dosanya."


"Kamu bilang apa?"


"Sudah, ayo ikut."


Pras yang ditarik-tarik pun akhirnya mengikuti Tania, berjalan kemana arah Tania membawanya, Dan ternyata Tania membawa Pras ke samping rumah nya.


Tania pun duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke arah taman bunga yang tidak luas.


"Ayo duduk!" pinta Tania.


Pras tak menolak dia langsung ikut duduk disamping Tania. Kebetulan sekali Suasana malam itu begitu terang, sepertinya langit sedang mendukung kebersamaan mereka.


"Kita mau apa disini?" tanya Pras heran.


"Tania mau bicara Om." jawab Tania serius.


Pras menatap ke arah Tania, dia tentu saja bertanya dalam hati apa yang akan Tania bicarakan? Apakah tentang perceraian mereka?


"Disini dingin, lebih baik kita masuk kedalam." jawab Pras mengalihkan pembicaraan.


"Tapi Tania merasakan kedamaian disini Om."


Kali ini nada bicara Tania mulai melemah, bertolak belakang dengan sikapnya yang tadi dimeja makan.


Pras hanya menatap gadis yang saat ini berada begitu dekat dengan dirinya, Namun Pras tidak memberikan komentar apa-apa.


Pras bisa melihat raut wajah Tania berubah sendu, Namun Pras bersikap seakan tidak tau.


"Om Pras!" panggil Tania.


Pras masih bungkam, jujur saja hatinya saat itu sedang gundah, dia khawatir kalau Tania akan membahas perceraian mereka.


Padahal selama ini dia lah yang berkeras ingin berpisah dengan Tania, tapi entah kenapa saat ini Pras malah khawatir kalau Tania memaksa dirinya untuk berpisah.


"Om tau, sejak kecil Tania tinggal disini, ya walupun bukan dirumah ini."


"Tania hidup dengan keterbatasan ekonomi, namun Tania merasa tak pernah kekurangan."


Tania berhenti berbicara, namun Pras saat itu hanya menjadi pendengar saja, dia tidak Berani berkomentar.


Tania menarik nafas berat, seperti begitu banyak beban yang ingin dia tumpahkan saat itu, Tapi apa sebenarnya tujuan pembicaraan Tania saat ini?

__ADS_1


__ADS_2