Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Persiapan pernikahan


__ADS_3

Siang itu, dengan ragu-ragu Tania mengangkat telpon dari nomor yang tak dikenal nya.


"Hallo! Ini siapa?"


"Hallo nona, ini saya yang tadi pagi menemui nona."


"Iya pak ada apa, apa ada hal yang penting?"


"Nona bersiaplah ,sebentar lagi saya akan menjemput nona."


"Menjemput?"


"Iya nona, kita harus pergi fitting baju pengantin."


" Baju pengantin?"


"Apa nona lupa kalau akan menikah?"


"Tentu tidak pak, tapi kapan pernikahan nya akan diselenggarakan?"


"Dalam Minggu ini nona?"


"Minggu ini?"


"Iya nona, karena pernikahan akan digelar di sebuah hotel dan hanya akan dihadiri oleh kerabat saja,jadi tidak perlu waktu yang lama untuk persiapan."


Tania terdiam ,dan seakan sulit menelan ludahnya, dia tak menyangka akan menikah dalam waktu yang begitu cepat.


Hal ini membuat Tania semakin bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang akan menikahinya dan kenapa harus menikah dalam waktu yang cepat, padahal calon suaminya adalah orang yang kaya raya.


Karena Tania terus diam, membuat pria yang menelponnya pun mematikan teleponnya.


Tania masih termenung ditempatnya, ingin rasanya dia membawa ibunya pergi jauh dari sana, Namun Tania bukanlah orang yang tak tau balas Budi.


Tania bangun dari duduk nya, dan berjalan menemui perawat yang akan mengurus ruangan ibu nya.


Tania pun meminta tolong untuk menjaga ibunya dengan baik karena dia harus pergi untuk hal yang sangat penting, dan setelah bicara pada perawat tersebut Tania pun bersiap-siap, mandi dan berganti baju dirumah sakit.


Mengenakan baju seadanya saja, karena memang Tania tak membawa baju yang bagus, hanya baju untuk dirumah sakit, dia tidak perduli jika nanti calon suami tidak suka dengan penampilannya.


Bahkan Tania berharap memang begitu, Bahkan kalau bisa calon suaminya batal menikahi dirinya.Sekitar jam dua siang, pria yang tadi pagi datang pun menjemput Tania, namun terlihat dia tak perduli dengan pakaian Tania.


"Pak, dimana calon suami saya?"


"Beliau sedang sibuk, tapi mungkin nanti Akan menyusul kita ke butik."


Tania pun berpikir , untuk fitting baju pengantin saja dia sibuk, bagaimana nanti setelah menikah apa dia tak akan sempat berada dirumah pun.


Tanpa banyak bicara lagi Tania pun masuk ke mobil mewah yang katanya milik calon suaminya, dan mobil mulai melaju dan akhirnya berhenti disebuah butik ternama.

__ADS_1


Setelah berada didepan butik Tania terlihat ragu-ragu untuk masuk, apalagi dengan pakaian nya saat itu baju kaos lengan pendek dan rok selutut, tak lupa sandal jepitnya.


Sibapak yang melihat calon majikannya bengong, langsung berbalik arah dan meminta Tania masuk kedalam.


"Ayok nona ,masuk lah untung fitting baju."


"Tapi pak, saya malu , bapak tidak lihat baju saya seperti apa?"


"Tidak apa-apa nona, tuan sudah memberi tahu butik ini kalau nona akan datang, jadi tak akan ada yang berani mengusik nona."


Tania menatap wajah sibapak mencari apakah ada kebohongan Dimata lelaki paruh baya itu.


Dan akhirnya dengan sedikit ragu Tania pun masuk setelah pintu dibuka oleh dua orang securiti yang berada dipintu utama butik tersebut.


Tania berjalan pelan ,dan melihat seorang wanita mendekat ke arahnya. Dan langsung mengajak nya untuk masuk keruang tempat fitting baju pengantin.


Sesampai disana, Tania terlihat terkagum -kagum dengan ruangan yang dipenuhi baju yang begitu indah.


"Ayo nona, silahkan dipilih baju yang mana yang nona suka!"


"Iya mbak, terimakasih."


Namun Tania masih ragu memilih bajunya, bahkan menyentuhnya pun dia takut, Karena dia yakin baju pengantin itu bisa berharga ratusan juta.


"Nona silahkan dipilih, tidak perlu pikirkan harganya semua akan dibayar oleh calon suami nona."


"Oke baik."


Wanita yang merupakan pemilik butik pun mulai menunjukkan bajunya satu persatu , Dan pada akhirnya Tania pun memilih sebuah gaun berwarna putih, yang depannya sedikit tertutup, Karena kebanyakan baju yang ditunjukkan padanya memiliki belahan dada yang rendah.


Setelah memilih gaun dan Tania melihat sopir yang mengantarnya menelpon seseorang, mungkin menelpon calon suaminya, begitulah pikir Tania.


Setelah mencoba baju pengantin, namun orang yang dikatakan akan menyusul itupun tak terlihat datang.


"Pak dimana orang yang bapak bilang akan menyusul?"


"Maaf nona tuan rupanya sedang sibuk."


" Ya sudah pak, ayok kita pulang!"


Pak sopir pun hanya menganggukkan kepala, dan langsung berjalan menuju parkiran.


Sepanjang perjalanan Tania hanya diam, tak ingin bicara apapun, dan dia berpikir seperti apapun calon suaminya, dia tetap harus menikah, karena Tania tak akan sanggup mengembalikan uang yang digunakan untuk pengobatan ibu nya.


Tania malam itu kembali menginap dirumah sakit, tak ada yang menemaninya, karena kedua sahabatnya sedang ikut bersama orang tua mereka untuk liburan.


Tania menemani ibunya di ruang rawat, kali ini ibu pun sudah sadar, namun ya masih belum bisa bicara mungkin pengaruh dari operasi di bagian perutnya.


"Ibu, apa ibu baik-baik saja?" Tanya tania.

__ADS_1


Namun hanya dijawab dengan mengedipkan kedua matanya saja, Namun Tania terus saja mengajak ibunya bicara , walaupun dia tau tidak akan mendapat jawaban.


Tania terus bercerita tentang kebahagiaan mereka saat-saat sebelumnya, dan tak ada sedikit pun terlihat kesedihan diwajah tania. sebisa mungkin Tania menyembunyikan apa yang saat ini dia alami dan rasa kan.


Sekitar jam 09.00 malam, Tania melihat ibunya kembali terlelap, Tania pun memutuskan untuk duduk diluar, menumpahkan kesedihan yang ditahan oleh nya sejak dihadapan ibunya.


Namun tania dikejutkan oleh kehadiran kakek nya Danil, Dan dua orang pria yang sebelum nya menemui dirinya.


Tania menatap mereka dengan Heran, pikiran nya campur aduk tak menentu, seakan tania kesulitan bernafas saat itu, apalagi menatap wajah datar pria tua yang ada dihadapannya. Nona Tania, bagaimana keadaan ibu nona?"


Tanya sopir yang tadi siang mengantarnya fitting baju.


"Sudah lebih baik pak."


Jawab Tania dengan suara gugup, entah apa yang ditakutinya saat itu. Dan tanpa bicara apapun kakek nya Danil pun mengambil posisi duduk disamping Tania, membuat gadis itu semakin takut.


"Nona Tania, ini adalah tuan kami."


"Tu, tuan?" Tanya Tania gugup.


"Iya nona, dan beliaulah yang telah membiayai pengobatan ibu nona."


Duarr, bagai disambar petir rasanya, Tania tak dapat berkata apapun, suaranya seakan hilang begitu saja, tak pernah Tania sangka kalau pria yang ingin menjadikan nya istri adalah pria tua yang sempat dia takuti, dan dia juga kakek nya Danil.


Tidak, Tania seakan tak mampu menerima jika dirinya akan menjadi nenek tiri dari daniel, begitulah pikiran Tania saat itu, ingin dia menangis sekuat tenaga , namun dia sudah tak mampu menangis, tenyata takdir begitu menyedihkan untuk nya.


"Nona, beliau datang untuk bertemu dengan nona, dan memberitahu kalau pernikahan Nona akan dilaksanakan besok lusa."


Bukan Masalah pernikahan itu yang Tania bicarakan tapi hal lain, yang begitu mengganjal dihatinya saat itu.


"Apa yang tuan ingin kan dari saya, Kenapa tuan seakan menjebak saya."


Suara Tania terdengar bergetar, dan air matanya pun lolos dengan sendirinya membasahi pipi nya.


"Saya tidak menginginkan apapun, dan bukan kah kamu yang membutuhkan bantuan saya?"


"Tapi tuan kenapa harus dengan menikah dengan tuan, tuan bisa menjadikan saya pembantu se umur hidup, tapi kenapa harus menikahi saya tuan."


Seketika suara Tania meninggi dia gagal mengendalikan emosinya, entah apa yang terpikir oleh nya saat itu, rasa


takutnya pun hilang seketika itu juga.


"Saya belum bisa menjelaskan alasannya, tapi kamu jngan khawatir, saya akan tetap memberikan kamu izin melanjutkan kuliah, dan secepatnya setelah mendapatkan ijazah saya akan mendaftar kan kamu ke fakultas terbaik."


"Tolong tuan, jangan paksa saya, biarkan saya hidup dengan ibu saya, saya janji akan bekerja keras untuk membayar semua uang yang sudah tuan keluarkan."


"Kamu lupa sudah tanda tangan perjanjian?"


Tania terdiam, tak ada yang mampu dia ucap kan saat itu.

__ADS_1


__ADS_2