
Sampai acara selesai, Tasya masih belum meninggalkan tempat dimana acara peresmian pernikahan Pras dilaksanakan. Tasya masih setia menunggu di depan gerbang walaupun dia tidak diizinkan masuk.
Hampir jam 11.00 malam acara baru selesai, para tamu bergantian terlihat meninggalkan tempat resepsi.
"Mas, apa kita akan menginap di sini?" tanya Tania.
"Tentu saja, kita akan pulang besok."
"Ya sudah mas, Tanak juga capek."
"Kalau begitu setelah semua tamu pulang , istirahat lah dikamar."
"Mas ingin bicara dulu dengan papa."
"Iya mas."
Dan setelah semua Kamu terlihat meninggalkan tempat resepsi Tania pun menuju kamar yang sudah disiapkan oleh pras untuknya.
Dia benar-benar lelah dan ingin beristirahat saat itu juga ,kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri. meninggalkan pras bersama dengan papanya.
Tania berganti pakaian dengan dibantu oleh mamanya. malam itu semua menginap di hotel karena sudah terlalu lelah.
Tania langsung larut dalam mimpinya setelah memejamkan mata dia benar-benar ngantuk. Apalagi Pras sudah berpesan untuk tidak menunggu dirinya.
Pras yang berada dibawah pun menemui papanya untuk bicara hal yang penting, setelah semuanya selesai baru Pras kembali ke kamarnya.
Dan Pras hanya tersenyum karena melihat istrinya sudah tertidur pulas,karena terlalu capek.
Pras mengambil sebuah bantal dan memutuskan untuk tidur di sofa, karena Pras tidak ingin mengganggu tidur nyenyak nya tania.
keesokan paginya, Tania terbangun lebih awal ,mungkin karena tidurnya yang nyenyak malam tadi, Dan Tania sedikit terkejut melihat Pras saat itu tidur di sofa.
Tania mendekat ke arah Pras dan menyelimuti nya, secara perlahan takut kalau tidur Pras terganggu.
Tania langsung membersihkan diri dan memesan sarapan pagi untuk dirinya dan Pras. Agar begitu bangun Pras bisa langsung sarapan.
Dan benar saja tak lama setelah pesanan Tania datang, Pras pun terbangun dari tidurnya.
"Mas sudah bangun?"
"Mas mandi dulu biar kita sarapan."
"Sarapan?"
"Iya, Tania sudah pesan kan sarapan, jadi kita sarapan dikamar aja."
"Oke."
Dengan masih sedikit mengantuk Pras pergi ke kamar mandi, dan Pras juga berencana hari ini akan bicara dengan Tania masalah kepindahan mereka, apalagi Pras sudah menyiapkan semuanya dengan matang.
Bahakan semua aset nya di Amerika telah dijualnya, properti dan juga rumah. Dan bahkan Pras sudah meminta si bibi yang saat ini mengurus rumah nya di Amerika untuk segera pindah ke rumah yang di Bandung.
Pras berharap, semuanya berjalan lancar, dia dan Tania bisa memulai hidup yang baru, Pras ingin menebus waktu yang telah terbuang selama ini karena dia yang tidak bisa menerima Tania.
Setelah selesai mandi dan berganti baju dikamar mandi Pras kembali ke kamarnya, Dimana Tania ternyata sedang menunggunya di sofa tempat dimana tadi dia tidur.
__ADS_1
"Kamu pesan apa?"
"nasi goreng seafood, ada juga sandwich."
"Mas suka?"
"Apapun yang kamu suka, mas kan suka."
Tania menatap ke arah Pras, dia kadang merasa lucu sendiri, karena sikap Pras yang saat ini berbanding terbalik dengan saat mereka pertama bertemu.
Mungkin memang takdir merencanakan merek berjodoh, walaupun tak seperti pasangan-pasangan lainnya.
Mungkin saat dipertemukan dengan pras, itu semua membuat tania terjebak di dua pilihan yang sulit. Memilih menikah untuk menyelamatkan ibu nya, dan mengorbankan semua impian dan masa depannya.
Mungkin rasa cintanya yang luar biasa terhadap ibunya dan ketulusan hatinya menerima semua takdir, saat ini membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
Kebahagian, perhatian keluarga baru yang baik dan suami tampan dan perhatian seperti Pras, dalam hati Tania berharap agar Pras tidak akan pernah berubah lagi.
Kan terus mencintainya dan berada di sisinya selamanya, sampai maut memisahkan.
Pras yang melihat Tania melamun pun khawatir, apa terjadi sesuatu dengan Tania.
"Sayang!" panggil Pras sambil menyentuh pipi Tania.
Sontak Tania jadi kaget, apalagi disentuh begitu oleh Pras, jadi jadi grogi dan serba salah.
"Kamu kenapa?" tanya Pras dengan udara lembut.
"Tidak mas, Tania baik-baik saja." terlihat gugup.
"Ya sudah kita sarapan !" ajak Pras.
Setelah selesai sarapan Pras pun mengajak Tania untuk turun dan berjalan-jalan didekat hotel. Itu pun setelah Pras menelpon ke sekuriti hotel untuk memeriksa apakah Tasya masih berada disana.
"Kita mau kemana mas?"
"Tidak jauh dari sini ada sebuah taman yang bagus, kita kesna ya?"
"Kamu kan suka taman bunga."
"Iya mas, Tania mau." jawab Tania begitu bersemangat.
Iya karena memang Tania paling suka dengan bunga, saat di Amerika dia juga suka mengurus bunga.
Pras mengajak Tania berjalan kaki, menikmati udara pagi, kebetulan saat itu semua kelurga mereka sudah kembali kerumah, termasuk Danil.
Tidak begitu jauh tempatnya jadi tidak membuang banyak waktu untuk sampai disana tentunya, Pras membawa Tania untuk duduk disebuah kursi taman.
Udara yang sejuk membuat hati terasa nyaman, Pras sengaja mengambil tempat itu agar dia bisa bicara dengan Tania.
"Mas, tempat nya bagus ya?"
"Tentu saja."
"Memang nya kamu tidak pernah kesini?"
__ADS_1
"Menggelengkan kepala ." namun tatapan masih lurus kedepan.
Pras pun mengalihkan pembicaraan, dia tau mungkin Tania sedih, Pras pun nunjuk kan beberapa bunga yang disukai Tania.
memang gadis dihadapannya itu gampang sekali berubah perasaan nya, Pras tersenyum melihat Tania tampak bahagia.
Pras menggenggam jemari Tania, dan Tania langsung menatap ke arah Pras, Tania saat itu merasa kalau ada hal yang ingin Pras sampaikan kepada dirinya .
"Apa mas ingin bicara sesuatu sama Tania?" tanya Tania tanpa basa-basi.
"Apa begitu terlihat?" tanya Pras sambil memperlihatkan senyum nya.
"Sangat." jawab Tania.
"Maaf ya jika momen bahagia ini dipenuhi dengan berbagai macam masalah."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, semua sudah kehendak takdir kan mas."
"Kamu benar, banyak sekali lika-liku yang hadir di hubungan kita."
"Ini semua karena kehidupan mas yang pelik."
"Mas ingin kita memulainya dari awal."
"Kita akan coba bersama-sama ya mas "
Pras tersenyum, dan meraih lembut kepala Tania, membawanya bersandar di dadanya yang bidang
"Sayang, mas ingin kita pindah dari sini "
Tania yang tadi sedang nyaman berada dalam dekapan suaminya pun membenarkan duduk nya, dan menatap kearah Pras penuh pertanyaan.
"Mas tau, Kalau kamu pasti keberatan."
"Tapi mas hanya ingin kita memulai kehidupan kita yang baru juga ditempat yang baru."
"Mas tidak ingin kalau sampai Tasya menyakiti kamu lagi."
"Lalu bagaimana dengan semua pekerjaan dan kehidupan mas di Amerika?"
"Mas sudah membangun semuanya dari nol, bahkan untuk sekian lama."
"Kamu tidak usah khawatir."
"Mas sudah urus semuanya, bahkan semua Aset, properti juga sudah mas jual."
"Tapi apa kamu masih ingin hidup bersama mas, dalam keadaan tidak punya apapun?"
" Mas, mungkin mas berpikir kalau Tania akan keberatan, karena alasan pernikahan kita dulu ."
"Tapi harta masih bisa dicari kan mas?"
"Kemanapun mas pergi Tania akan ikut ."
"Terimakasih sayang."
__ADS_1
Pras memeluk Tania dengan begitu erat, dia tidak menyangka kalau semudah itu Tania setuju, Pras sangat bersyukur, dan dia berencana akan pindah besok pagi.
Karena pasti Tania ingin menyiapkan barang-barang yang akan dibawa nya. namun akan kah kepindahan mereka adalah jalan terbaik?