
Tania yang baru turun dari taksi, berdiri mematung ditempat nya, tubuhnya seakan membeku melihat suami yang baru saja menolak perceraian mereka sedang berpelukan dengan wanita lain.
Sakit, begitulah yang Tania rasakan saat itu. Namun Tania berusaha seakan menjadi buta akan hal itu, walupun hatinya terasa tercabik-cabik.
Perlahan Tania melangkah mendekat, dan Pras yang menyadari kehadiran Tania pun mencoba melepaskan Tasya dari pelukannya.
"Tasya lepaskan aku, apa yang kamu lakukan."
Dan Pras pun mendorong Tasya agar bisa lepas dari dirinya.
"Pras, apa yang kamu lakukan, aku seakan enggak kenal dengan kamu Pras." ucap Tasya penuh amarah.
Namun Pras tak memberikan jawaban, dia bahkan terlihat pucat, entah apa yang dia takutkan saat itu.
Tasya yang saat itu melihat arah tatapan Pras pun, ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Tania!" panggil Tasya.
"Mbak Tasya!"
Tania mencoba tersenyum, senyum getir yang dia rasakan saat itu, memperlihatkan senyum kepalsuannya demi menahan air matanya.
"Kamu ada disini juga?" tanya Tasya.
"Iya mbak, ini rumah Tania " jawab Tania jujur.
"Rumah kamu? Jadi kalian tinggal bersama disini?" tanya Tasya penuh selidik.
"Iya, apa ada masalah mbak? Bukan kah di luar negeri kita juga tinggal bersama."
Tasya terdiam, karena apa yang dikatakan Tania itu benar , karena selama di Amerika Tania memang tinggal bersama pras. dan yang Tasya tau kalau Pras adalah Om dari Tania.
"Kalau begitu kebetulan sekali, apa boleh aku ikut tinggal disini bersama kalian?" tanya Tasya.
Tania hanya memperlihatkan senyum kepalsuannya. Tania menatap ke arah Pras, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tania berjalan menuju pintu rumah nya, Dan tanpa diminta Tasya pun ikut dibelakang Tania, Dan Pras masih diam ditempat nya, dia benar-benar tidak menyangka kalau Tasya akan mencarinya Sampai ke jakarta.
"Ayo mbak silahkan masuk!"
Dan tanpa menjawab Tasya langsung masuk kedalam rumah Tania.
"Ini rumah kamu?"
"Iya mbak."
"Rumah yang sangat sederhana."
"Terimakasih mbak." jawab Tania.
Dia tak ambil pusing kalau saat itu maksud tanya menghina rumah nya yang sederhana, dan bagaimana jika dia melihat rumahnya yang dulu, pasti Tasya akan menghinanya habis-habisan.
Dan memang rumah itu dibangun sederhana karena permintaan dirinya.
__ADS_1
"Mbak mau minum apa?"
"Tidak , aku sudah minum."
"Ya sudah kalau begitu Tania tinggal sebentar."
Tania masuk kedalam kamarnya, meletakkan tas dan mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur, menarik nafasnya pelan, untuk menghilangkan rasa sakit dihatinya saat itu.
Dia benar-benar tak menyangka kalau wanita itu akan mencari suaminya sampai ke Jakarta. Dan kenapa bisa dia tau alamat dirinya, apa Om Pras yang memberitahukan nya kepada tasya.
Tania terus menduga-duga, lalu untuk apa Om Pras membatalkan perceraian mereka jika dia masih berhubungan dengan Tasya.
Tania pun , berusaha terlihat baik-baik saja, dia keluar dan menemui Tasya diruang tamu, dan ternyata kebetulan Pras pun masuk kedalam rumah saat itu.
"Pras, kenapa kamu betah disini, lebih baik kita kembali ke Amerika saja." ucap Tasya.
"Aku tidak bisa, kamu saja yang kembali kelaut negeri, Aku akan kembali bersama papa."
"Pras, kamu lihat rumah ini sumpek, aku tidak akan betah disini."
"Kamu bisa tinggal di hotel."
"Oke, tapi harus bersama dengan kamu."
"Aku tidak bisa, disini ada papa."
"Lalu, kamu akan membiarkan aku sendirian , kamu kan tau Pras kalau aku tidak paham tentang Jakarta."
"Lalu kenapa kamu harus kesini."
Saat itu Tania hanya menjadi pendengar untuk perdebatan, suaminya Dan kekasih nya, mungkin kata-kata itu sangat miris untuk nya, namun apa Yang bisa dia lakukan selain menerima kenyataan pahit dalam hidup nya.
"Lebih baik Om dan Tante bertengkar ditempat lain." ucap Tania yang mulai jenuh mendengar perdebatan mereka.
"Apa kamu bilang Tante?" tanya Tasya terlihat tersinggung.
"Lalu ,Tania harus panggil apa? bukankah pasangan dari Om Tania memang harus Tania panggil Tante kan?"
Tasya menatap Tania dia terlihat kesal, namun lain hal nya dengan Tania, dia masih bersikap santai saja.
"Om Pras, boleh pindah ketempat lain , kalau memang rumah ini tidak nyaman."
"Maaf, Tania lelah dan ingin istirahat."
Tania bangun dari duduk nya dan berniat meninggalkan Pras dan tasya, Namun belum sempat Tania pergi meninggalkan pras dan Tasya suara Pras menghentikan dirinya.
"Tania kamu mau kemana?"
"Maaf, Tania hanya ingin istirahat Tania lelah."
"Tapi Tan, aku ingin bicara."
"Bicara lah!" pinta Tania.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bicara berdua saja."
"Maaf ,tapi Disini kita bertiga enggak mungkin kita bicara hanya berdua."
Tania tak lagi mendengarkan perkataan Pras, dia pergi masuk ke kamar nya, Tania menutup pintu dan menelungkup kan tubuhnya di atas tempat tidur.
Entah apa yang dia rasakan saat itu, cemburu kah ? Atau hanya sekedar tidak nyaman dengan kehadiran Tasya.
Tapi apa pantas kata cemburu itu hadir dihatinya? Tania sekuat tenaga mencoba menepis rasa yang ada di hatinya. Tania mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia rasakan saat ini bukanlah atas dasar cemburu ,ataupun rasa cinta kepada Pras.
Mencoba memejamkan mata, namun Tania merasa kesusahan, wajah Pras dan tasya terus mengusik pikirannya, Bagaimana jika sampai Tasya benar-benar menginap di rumahnya malam ini, apakah dia akan sanggup menghadapi mereka berdua?
Dan lain hal nya Pras yang saat itu bersama Tasya diluar, dia sedang berpikir keras bagaimana caranya supaya Tasya mau pergi dari rumah Tania.
"Tasya lebih baik kamu kembali ke hotel." pinta Pras.
"Kenapa sepertinya kamu tidak senang dengan kehadiranku di sini?"
"Apa maksud kamu ?Aku sama sekali tidak berkata seperti itu."
"Tapi aku tahu Pras dari sikap kamu ,kamu sedang mengusirku dari rumah Tania."
"Bukan begitu Tasya, kamu harus tau kalau ini bukanlah rumah ku, lebih baik kamu tinggal di hotel."
"Oke, aku akan pergi kalau kamu sendiri akan mengantarku ke sana."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Bukankah kamu kesini sendirian?"
"Aku tau."
"Aku merasa kamu begitu berubah Pras, Bahakan aku juga merasa aneh dengan sikapmu terhadap Tania."
"Apa maksud kamu?"
"Sekarang kamu merubah cara bicara kamu dengan Tania, dan juga kamu terlihat begitu mengkhawatirkan gadis itu."
"Itu hanya perasaan kamu saja, Aku tidak pernah berubah."
"Kalau begitu kamu antar Aku sekarang ke hotel, atau Akau akan menginap disini bersama kamu."
Pras memang hafal betul dengan Tasya, dia akan melakukan apa yang dia katakan.
"Kita naik taksi." ucap Pras.
"Tidak masalah."
Pras pun memutuskan untuk mengalah dan mengantar Tasya ke hotel, dia tidak ingin Tasya lebih lama berada dirumah Tania, karena dia yakin hal ini akan semakin memperkeruh hubungannya dengan Tania.
Apalagi saat ini perceraian nya telah terdaftar , dan hanya dalam hitungan hari dia dan Tania akan berpisah jika dia tidak menolak nya.
__ADS_1
Tapi Pras juga tidak yakin kalau setelah kehadiran Tasya, semua akan baik-baik saja.
Apa mungkin hubungannya dan Tania memang harus berakhir? Pras merasakan gundah didalam hatinya.