
Mobil yang membawa Tania dan Pras mulai menembus jalan raya, sampai akhirnya Pras memasuki parkiran sebuah mall besar di Jakarta.
"Ayo!" ajak Pras.
Kali ini Tania tak membantah, dia langsung turun dan berjalan ke tempat Pras berdiri.
"Apa Om suka jalan-jalan ke mall?" tanya Tania.
"Tania, kamu tidak mau kan kalau..!"Pras menggantung perkataan nya.
Tentu saja Tania langsung paham, karena Pras sudah mengingatkannya berkali, Tania menyesali mulut nya yang tidak bisa diam, padahal sejak tadi di mobil dia berusaha untuk tidak bicara, agar tidak salah memanggil Pras.
"Ayo masuk!" Pras menarik tangan Tania pelan,"sudah seperti bapak sama anak nya saja." batin Tania saat itu.
Karena memang jujur, mereka itu sama sekali tidak mirip sepasang suami istri, Pras yang selalu cuek dan tak mau ambil pusing dengan Tania, dan juga Tania yang tidak ingin hatinya terluka.
Karena saling menjaga hati, mereka pun menjadi berjarak, dan seakan terlihat tak memiliki hubungan. Yang satu menjaga hati nya sendiri, namun yang satu lagi malah sibuk menjaga hati orang lain.
Tania mulai kesal dalam hatinya, kenapa juga dia harus dipaksa menikah dengan lelaki yang sudah memiliki kekasih seperti itu.
Pras yang merasa langkah kaki Tania mulai melambat pun berhenti, dan menoleh ke arah gadis yang saat ini sedang dipegang tangannya.
"Kamu kenapa cemberut? Tidak suka ke mall?"
Bukannya menjawab Tania malah langsung mengubah ekspresi wajah nya saat itu, dan memperlihatkan senyum yang penuh keterpaksaan itu.
"Kamu ingin beli apa Tan?" tanya Pras dengan tanpa menoleh.
"Tania hanya diam, dia takut kalau salah lagi."
"Tan, kamu kenapa diam."
"Tania bingung." jawab nya singkat.
"Iya ,aku tau kalau kamu bingung karena terlalu banyak barang Yang ada disini."
"Tapi kamu tinggal bilang, aku bisa belikan apa pun, semua yang ada disini."
"Tania bukan bingung ingin membeli apa."
"Lalu?"
Kali ini Pras berhenti dan menoleh ke arah Tania, Pras sedikit bingung melihat gadis disampingnya, biasanya gadis-gadis yang dikenal Pras akan sangat bahagia jika dia Jak belanja, namun beda dengan Tania.
"Apa yang membuat kamu bingung?"
"Bingung ,Tania harus panggil apa untuk orang yang saat ini berdiri dihadapan Tania." jawab Tania sambil menatap Pras.
Pras pun sontak menepuk jidat nya, tentu saja dia langsung tertawa renyah, melihat kepolosan gadis dihadapannya.
Sesaat Pras menatap netra hitam yang ada dihadapannya, ternyata Tania benar-benar takut dengan ancamannya untuk tidak memanggilnya Om.
"Kenapa Tertawa?"
"Kamu ini lucu, tinggal panggil saja suamiku, kan gampang." Jawab Pras tanpa beban.
"Enggak, Tania tidak mau. Itu terlalu lebay ."
"Ya sudah kamu tinggal ganti dengan panggilan sayang." Pras sengaja menggoda Tania.
__ADS_1
Untuk nya saat ini, kadang ekspresi kesal Tania, menjadi sebuah kebahagian untuk nya, menatap wajah gadis yang selama ini tak pernah dia harapkan , Namun untuk saat ini netra itu membuatnya damai.
Perasaan yang tidak pernah sedikit pun dia rasakan selama ini saat bersama dengan Tasya, atau pun perempuan lainnya.
"Ya sudah, lebih baik kita makan es krim. kamu suka eskrim kan?"
Pras menarik Tania untuk kembali melangkah kan kaki, namun kali ini sambil menggenggam jemarinya.
Sontak saja, perlakuan Pras saat itu membuat jantung Tania tidak aman, dia bisa merasakan jantung nya yang mulai berpacu dengan cepat.
Tania bahkan mencoba untuk berjalan sedikit menjauh dari Pras, karena dia takut suara detak jantung nya didengar oleh Pras.
"Kamu kenapa?" tanya Pras.
"Pipi kamu kenapa jadi merah begitu?" tanya Pras dengan sikap datar nya.
Hal itu tentu saja membuat Tania kesal, dia terus berjalan mengikuti Pras, dan perlahan Tania meraba pipinya, apa benar pipinya merah? tapi siapa yang bisa memberikannya jawaban, kecuali percaya dengan apa yang dikatakan Pras.
Akhirnya mereka sampai didepan penjual eskrim, Tania yang melihat es krim langsung saja mendekat, seperti anak kecil yang kegirangan.
Senyumnya terlihat melebar saat itu, Pras yang melihat Tania pun ikut tersenyum, Pras tau selama ini dia telah membuat senyum itu hilang, namun itu semua juga bukan keinginannya.
"Kamu mau rasa apa?"
"Tania mau eskrim rasa coklat dan vanila." jawab Tania semangat.
Pras langsung memesan dua es krim yang sama dan mengajak Tania untuk duduk disebuah meja kecil, sambil menunggu eskrim nya di buat.
"Kamu senang?" tanya Pras.
Walaupun Pras tau, dia belum membelikan apapun untuk Tania, namun dia bisa melihat kalau Tania sedang bahagia.
Pras tersenyum, namun bukan karena tentang perkataan Tania yang tidak pernah ke mall, tapi panggilan Tania terhadap nya, Pras terlihat mulai mengagumi gadis cantik dihadapannya.
"Kenapa kamu tidak pernah ke mall?"
"Tania itu bukanlah berasal dari keluarga elit sepeti teman-teman yang lain."
"Tapi kamu bilang pernah ke mall."
"Iya dulu Daniel yang membawa Tania kesini, dia juga memberikan Tania eskrim."
"Daniel?"
"Iya, Daniel keponakannya mas."
"Apa kamu dan Daniel pernah punya hubungan?"
"Dulu, Daniel pernah menyatakan perasaannya kepada Tania."
"Lalu?" Pras terlihat mencari tau tentang hubungan istrinya dan keponakannya itu.
" Tania Sadar kalau Tania dan Daniel sangat berbeda status."
"Apa kamu suka dengan Daniel?"
"Dulu pernah, tapi Tania kubur perasaan itu dalam-dalam." Tania terus bercerita tanpa menyadari kalau Pras sedang mencari tau perasaan nya terhadap Daniel.
"Lalu, kenapa kamu setuju menikah dengan ku?"
__ADS_1
Kali ini Tania menatap kearah Pras, dia baru sadar kalau sedang menceritakan lelaki lain dihadapan suaminya, walupun suami hanya di atas kertas saja, dan bisa diakhir hanya juga dengan secarik kertas.
"Kenapa kami diam?"
"Tania enggak ingin membahas semua itu, bukankah selama ini Tania sudah cerita."
"Karena terpaksa?" Tanya Pras lagi.
Namun kali ini Tania melihat tatapan Pras yang berbeda dari sebelum nya. Namun Tania tak ingin menduga-duga dengan apa yg yang terjadi.
Dan saat suasana sedang hening, eskrim pesanan mereka pun datang.
Tania mengalihkan pandangan nya , menatap es krim yang sudah ada dihadapannya.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Pras.
"Iya."
Tania menyendok kan eskrim kedalam mulut nya, namun perasaan nya sudah tidak seperti saat memesan eskrim lagi.
Begitu juga dengan Pras, pikirannya sedang menerawang kemana-mana. Entah perasaan apa Yang membuatnya ingin tau hubungan Daniel dengan Tania.
"Apa yang terjadi dengan hatiku saat ini?" Pras bertanya pada dirinya sendiri.
Tidak mungkin kan kalau dia telah jatuh hati dengan gadis dihadapannya, gadis yang selam ini begitu dibenci oleh dirinya.
Pras terlihat melamun, bahkan eskrim Yanga da dihadapannya pun mulai mencair. Namun Tania hanya menatap Pras yang melamun sesaat, di tidak Berani bicara apapun.
Namun Tania juga tidak mungkin membiarkan Pras larut dalam pikirannya sendiri, Tania takut akan berdampak pada sikap Pras terhadap dirinya.
"Mas!" panggil Tania, sambil menyentuh tangan Pras.
Pras pun langsung tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah Tania.
"Kamu sudah selsai makan eskrim?"
"Sudah."
"Kenapa tidak dihabiskan?"
"Mas juga."
"Aku tidak suka makan eskrim." jawab Pras berkilah.
"Aku bayar dulu ,biar kita bisa jalan-jalan."
Tania hanya mengangguk, dia masih menunggu ditempat nya, sampai Pras datang dan mengajaknya untuk pergi dari situ.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Pras.
"Terserah Mas saja."
Pras pun membawa Tania kesebuah toko branded, disana banyak berbagai macam sepatu yang harganya fantastis.
"Pilih lah kamu mau yang mana ?"
"Tapi Tania tidak butuh sepatu."
"Ayo jangan menolak, anggap saja kenang-kenangan sebelum Aku kembali ke Amerika."
__ADS_1
Deg, hati Tania sepeti dihantam dengan keras, apa maksud dari Pras saat itu?Apa dia akan meninggalkan dirinya dan kembali ke pelukan Tasya?