
Malam itu Tania sudah bisa istirahat dengan tenang, Dia tak lagi kepikiran dengan kakek nya Danil.
Tania pun membaringkan tubuh nya merenggangkan otot-otot nya yang pegal karena acara perpisahan sekolah nya.
Tania pun terlelap dan masuk ke alam mimpi, melupakan semua penat dan juga beban pikiran.
Keesokan pagi Tania pun sudah bangun dan bersiap membantu ibu membuat kue, setelah semua selesai Tania pun bergegas pergi ke supermarket untuk bekerja.
Tania seperti biasa berjalan kaki menuju supermarket, namun belum sampai Tania di supermarket Tania melihat lagi mobil hitam yang sempat parkir di depan rumah nya.
Tania pun berhenti berusaha melihat siapa yang berada didalam mobil ,namun kaca mobil yang tak bisa terlihat dari luar pun membuatnya gak bisa melihat siapa pemilik mobil hitam, yang seperti nya mengikutinya beberapa hari ini.
Karena tak ada pertanda pemilik mobil akan keluar Tania pun kembali melanjutkan ke supermarket untuk bekerja.
Seperti biasa Tania bekerja melayani pelanggan, Tania pun melihat kesana kemari mencari seseorang.
Ternyata yang dicari hari ini sama sekali tak terlihat, ada sedikit lega dihati nya.
Tania pun berharap biarlah dia tak usah bertemu dengan kakek nya Danil lagi, dia tidak mau ambil pusing dengan hal-hal yang tidak perlu.
Tania pun kembali disibukkan dengan pekerjaan nya, sampai suara dering handphone nya mengalihkan perhatian nya.
Tania pun izin sebentar untuk mengangkat telpon karena terlihat nama tantenya yang tertera dilayar handphone.
"Hallo Tante!" Ucap Tania.
"Hallo Tan, kamu cepat pulang ya!"
"Ada apa Tante, apa ada Masalah?"
"Pulang lah cepat Tania, ibu kamu jatuh pingsan, dan harus dibawa kerumah sakit."
Tania tak lagi memberikan jawaban, kakinya terasa bergetar dia langsung mematikan handphone dan berlari menuju pemilik supermarket,dan meminta izin pulang.
Tania pun pulang dengan seetengah berlari, dia gak tau bagaimana keadaan ibunya saat itu, air matanya sudah membasahi pipinya.
Dalam hati Tania memohon untuk kesehatan ibunya, dan ketika tiba didepan rumah Tania pun melihat banyak tetangga disana, perasaan Tania mulai campur aduk.
Tania pun berlari masuk menerobos orang-orang yang sedang berkerumun didepan rumah nya.
Tania segera menuju keruangan tengah tempat ibu nya dibaringkan, dia melihat tantenya yang hanya mondar-mandir disamping ibunya yang terbaring.
Tania langsung berhamburan kesamping ibunya, dan membangunkan ibunya yang saat itu sudah tak sadarkan diri, Tania menatap ke arah Tante dan om nya dengan tatapan kecewa.
"Tante, kenapa Tante hanya membiarkan ibu terbaring disini dan dikerumuni bnyak orang?"
"Jadi Tante harus apa?"
__ADS_1
"Tante dan om kenapa tidak membawa ibu kerumah sakit?"
"Emangnya kamu punya uang untuk berobat ibu kamu?"
"Deg", perasaan Tania hancur bagaikan dicabik-cabik, teganya sang Tante bicara begitu kepada dirinya dan ibunya, padahal om nya adalah adik kandung dari ibu nya.
Tania , bangun dengan kaki bergetar, tak kuat rasanya menahan rasa kecewanya kepada om dan tante nya, Tania pun meminta kepada tetangga disana untuk membantu membawa ibunya kerumah sakit.
Dan tentu saja dengan senang hati tetangganya membantu, dari tadi mereka memang sudah ingin mengantarkan orang tua Tania kerumah sakit, Namun ditahan oleh tantenya.
"Tania pun membawa ibunya dibantu oleh salah satu tetangga yang memang memiliki mobil, Tania pun masuk ke mobil memangku kepala ibunya ,air matanya terus saja mengalir dipipi.
Tania tak kuasa melihat ibunya yang masih memejamkan mata,sekitar setengah jam, Tania pun sampai dirumah sakit, dan dia langsung turun meminta bantuan dari suster yang sedang berjaga didepan.
Tania saat itu masih mengenakan pakaian kerjanya, dia tak lagi memperdulikan apapun, dengan dibantu suster Tania pun membawa ibunya yang sudah diletakkan diatas tempat tidur pasien.
Ibunya pun langsung dibawa ke IGD untuk diperiksa, namun pada saat Tania ingin masuk ,dokter melarang Tania untuk ikut masuk, dan memintanya untuk mengurus administrasi agar ibunya segera ditangani.
Tania pun berlari menuju administrasi dan mengurus administrasi untuk ibunya, kebetulan sekali Tania membawa uang hasil kerjanya dan juga uang tips yang sempat diberikan oleh kakek nya Danil.
Setelah selesai Tania langsung kembali kedepan ruang IGD dan disana Tania masih ditungguin oleh tetangganya sepasang suami istri.
"Tania, kamu yang sabar ya nak!"
"Iya Bu, terimakasih ibu sudah membantu Tania."
Tania pun duduk dikursi panjang yang ada didepan ruang IGD, namun tatapannya terus saja ke pintu ruangan dimana ibunya sedang diperiksa.
Dalam hati, berbagai do'a Tania panjat kan untuk kesehatan ibunya, Tania tak ingin sesuatu apapun terjadi pada diri ibunya.
Hampir satu jam Tania menunggu, baru terlihat pintu ruangan terbuka, Tania langsung berlari mendekat seorang dokter yang baru saja memeriksa ibunya.
"Bagaimana keadaan ibu saya dokter?"
"Apa kamu keluarganya?"
"Iya dok ,saya adalah anaknya, dan keluarga yang dia punya."
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya dokter .
"Iya dok."
Tania pun berjalan mengikuti dokter, dengan perasaan campur aduk, apa sedang ada hal yang serius dengan ibunya, dan tetangga yang tadi menemani tania kerumah sakit pun ikut menemani tania keruangan dokter.
Setelah berada disana, sesaat suasana hening, Tania pun belum berani bertanya, dia akan menunggu saja apa yang akan dokter katakan.
"Sebelumnya saya mohon maaf jika apa yang akan saya katakan ini mungkin berat untuk kamu."
__ADS_1
Tania belum berani menjawab setelah dokter bicara, dia takut kalau tak akan kuat menghadapinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya.
Air mata sudah menunggu disudut mata Tania, yang kapan saya bisa membasahi pipinya, namun Tania masih berusaha untuk kuat mendengar apapun yang akan dikatakan dokter.
"Siapa nama Kamu?"
"Saya Tania dokter."
"Tania, apa kamu tidak punya keluarga lain?"
"Saya punya Tante dokter, tapi..."
Suara Tania terhenti bahkan mungkin disebut tercekat saat itu, dia tak ingin bicara apapun tentang Tante nya, apalagi kalau harus meminta bantuan dari mereka.
"Tapi apa?"
"Tidak ada dokter, Tante saya hanya sibuk saja." Jawab Tania berbohong .
"Tania, saat ini ibu kamu sedang mengidap penyakit yang serius, dan harus secepatnya ditangani, apalagi ibu kamu usia nya sudah lanjut."
Tania terdiam, Dan terlihat hanya menelan ludah untuk menghilangkan kan rasa kering di tenggorakan nya.Dokter pun mulai melanjutkan perkataan nya.
"Tania, ibu kamu mengidap kangker usus stadiun akhir, dia harus segera diberikan penangan dengan di operasi."
"Apa dokter?" Tanya Tania dengan suara yang lemah.
Hancur rasa hati Tania, dia bahkan tak pernah tau kalau ibu nya sedang sakit parah, apa selama ini ibu menyembunyikan semuanya dari dirinya.
"Berapa biaya operasi nya dokter?"
Tania hanya sekedar bertanya dia paham pasti tak akan sanggup tania membayar semuanya, namun tania kaan berusaha untuk bisa membawa ibu ke meja operasi.
"Dokter, berapa lama waktu yang bisa ditangguhkan untuk bisa operasi?"
"Saya rasa kalau bisa secepatnya, bahkan dalam dua hari ini, kondisi ibu kamu sedang kritis."
Tania terdiam ditempatnya , air matanya pun sudah membasahi pipinya, tak kuasa lagi dia menahan kesedihannya.
"Berapa biaya operasi nya dokter?"
"Sekitar seratus sampai dua ratus juta.
"Seratus juta dokter!''
"Iya Tania, kamu boleh bicara dengan kelurga kamu yang lain, bagaimana apa kalian akan setuju ibu kamu di operasi "Tania diam seribu bahasa, pada siapa dia akan meminta bantuan , pada Tante sama sekali tidak mungkin, untuk membawa ibunya saja kerumah sakit dia tidak mau.
Tania keluar dari ruang dokter dan terduduk lemah, apa yang harus Tania lakukan, tak ada yang bisa dijual nya untuk uang sebanyak itu, melihat nya saja tidak pernah apalagi menyentuh uang sebegitu banyak.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi dengan ibu nya ,apakah Tania hanya akan pasrah pada keadaan, dan menunggu kapan ibunya dipanggil?