
Malam sudah menunjukkan pukul 07.20, Tania yang masih berada diruangan pun sudah tenang, dan tak lagi menangis, dia takut karena jika terus menangis, kakek Danil akan memberhentikan pengobatan ibunya.
Tania berusaha sedikit tenang, dia memejamkan matanya dan duduk diatas sebuah kursi , menatap dirinya dicermin besar yang terpampang dikamar hotel tersebut.
Dia terlihat sangat cantik bak putri raja, seharusnya saat itu dia melebarkan senyum dengan hasil riasan diwajahnya dan pakaian mewah yang seharga puluhan juta yang ia kenakan.
Namun sayang nya, hari bahagia untuk semua gadis lain, namun menjadi hari yang paling menyedihkan untuk dirinya. Tania yang merasa seperti dikurung dan disembunyikan dari banyak orang pun mencoba bertanya, kepada wanita yang tadi merias dirinya.
"Mbak!"
"Iya nona!"
"Apakah akad nya sudah dimulai?"
"Sedang dilaksanakan nona!"
"Kenapa saya tidak diizinkan untuk turun dan melihat akad nya berlangsung?"
"Maaf nona, tapi tuan meminta nona tetap disini."
Apa maksud kakek tua itu, begitulah pikir Tania, menikahi dirinya namun menyembunyikannya dari bnyak orang, tapi bukankah itu lebih baik, jika tak ada yang tau kalau dirinya telah menikahi pria yang seharusnya dipanggil kakek.
Dan apa yang akan orang-orang katakan tentang dirinya, dia seakan menjual dirinya sendiri demi uang, namun Tania tak ingin menyesali apapun yang orang katakan , namun dia menikah karena ingin menyelamatkan ibu nya.
Tania pun terdiam, tak ingin bertanya apapun lagi, memang apapun yang dilakukannya, tak akan merubah segalanya.
Lain hal nya dengan Tania, diruangan akad, ternyata masih belum terjadi apapun, bahkan penghulu terlihat memberikan waktu kepada mempelai pria.
Dan setelah 30 menit menunggu para undangang yang hadir mulai krasak krusuk, karena akad belum juga dimulai, terlihat penghulu kembali mengulurkan tangannya.
Dan saat itu semua yang hadir saling bertanya-tanya dan kebingungan, Karena yang saat itu menjabat tangan penghulu bukanlah tuan Sanjaya melainkan putra bungsu nya Prasetya.
Namun yang hadir hanya menyimpan tanda tanya dalam hati masing-masing, mereka tak berani mengeluarkan suaranya.
Saat itu Danil yang sudah duduk tak jauh dari kakek nya pun begitu kaget, Karena bukan kakek nya yang saat itu berjabat tangan dengan penghulu, apa itu artinya pamannya lah yang akan menikah, tapi siapa wanita yang akan dinikahi pria dingin itu.
Namun sama hal nya dengan yang lain Danil hanya mengikuti alur nya saja, dia tak ingin protes atau apapun, siapapun yang akan menikah bukan lah urusannya, begitu lah batin Danil saat itu.
Dan suasana kembali tenang, setelah penghulu mulai membacakan nasehat pernikahan.
"Tuan muda sudah siap?"
"Iya, saya sudah siap."
"Jabat tangan saya."
__ADS_1
Dan tanpa menunggu lama, Prasetya sudah menjabat tangan penghulu dan mendengarkan setiap perkataan yang di ucapkan oleh penghulu tersebut.
"Prasetya Sanjaya, saya nikah kan dan kawin kan engkau dengan Tania Renata binti Salman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat seratus gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Tania Renata binti Salman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah" terdengar suara tamu yang hadir hampir bersamaan.
Dan akhirnya dalam satu tarikan nafas pria tak dikenal oleh Tania, Tania pun telah menjadi seorang istri sah.
Danil yang saat itu masih bingung dengan apa yang terjadi pun terlihat terkejut, nama. Yang disebutkan dalam akad itu adalah nama sahabatnya, bahkan nama wanita yang sangat dicintainya, namun Danil tak pernah berani mengungkapkan cintanya.
Tapi Danil mencoba menepis pikiran nya saat itu, mungkin bnyak nama yang sama dengan Tania yang dia kenal, dan tak mungkin tania tiba-tiba menikah sedangkan ibu nya masih terbaring dirumah sakit.
Dan tak berapa lama terlihat sebuah layar disana yang menampilkan pengantin wanitanya, namun saat itu Tania sedang menghadap ke arah lain.
Semua tamu undangan pun kembali berbisik-bisik karena tak dapat melihat wajah pengantin saat itu, begitu juga dengan Danil dia terus memperhatikan wanita yang terlihat dilayar tersebut, namun dia tak bisa melihat jelas wajah mempelai wanita.
Perasaan danil sedikit gundah, dia tak ingin hal buruk apapun terjadi pada Tania, dan Danil pun menepis semua pikirannya tentang Tania yang dia kenal adalah wanita yang menjadi istri pamannya saat itu.
Acara malam itu berjalan lancar, semua sudah menikmati berbagai hidangan ,dan terlihat paman dari Danil pun sedang berbincang-bincang dengan kolega mereka.
Danil merasa sedikit aneh kenapa pengantin wanita nya tak di bawa bertemu dengan tamu, apa sebenarnya yang sedang disembunyikan kakek nya
Lain hal nya dengan keadaan diruangan akad, Tania yang masih berada dikamar pun terlihat gelisah.
"Sudah lah nona, lebih baik kita melakukan pemotretan dulu, untuk kenang-kenangan nona."
"Apa akad nya telah selesai?"
"Sudah nona."
"Kalau begitu saya bisa membuka baju ini?"
"Jangan nona, nona akan difoto dulu, dan Nona juga nanti akan dipertemukan dengan pengantin pria."
"Dipertemukan?"
"Iya nona."
Pikiran Tania jadi kacau balau, dan dia tak ingin bertemu dengan kakek nya Danil, karena yang Tania tau dirinya menikah dengan kakek dari Danil, bahkan Tania sendiri tak tau kalau kakek Danil saat ini adalah mertua nya bukan suaminya.
sungguh pernikahan yang misterius , Namun yang jelas pernikahan ini akan menjadi awal kehidupannya yang entah akan seperti apa.
__ADS_1
Tania pun terlihat lemas terduduk disudut tempat tidur ,mencoba untuk tetap tak menangis, Tania Kali ini hanya menurut saja untuk melakukan pemotretan , dan dia terus memaksakan untuk tersenyum, saat fotografer mengarahkan nya untuk berpose.
Namun tiba-tiba tania kepikiran dengan ibunya, tapi dia tak mungkin kembali kerumah sakit tanpa izin dari kakek nya Danil.
Tania yang malam itu telah selesai berfoto pun masuk kembali ke kamar hotel yang sudah disediakan untuk nya, dia benar-benar tak menyangka, menjadi pengantin tunggal malam itu, mungkin hal yang tak dialami oleh pengantin wanita yang lain.
Tapi itu tak dipermasalahkan oleh Tania, Bahkan dia berharap orang yang telah menjadi suaminya itu tak pernah datang kepadanya.
Tania menarik nafas panjang dan membuang nya dengan kasar, dia mendekati tempat tidur dan mendudukkan tubuh nya di satu sudut, mencoba menghilangkan kesedihan nya.
Sungguh Tania tak pernah menyangka, ternyata ,takdir berbanding terbalik dengan apa yang sudah direncanakannya bersama ibunya.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu dirumah sakit, maafkan Tania ya buk, sudah meninggalkan ibu malam ini."
Tania berbicara sendiri, seolah-olah dia sedang bercerita pada ibunya, ingin rasanya Tania lari saja dari tempat itu, namun Tania takut akan membahayakan Nyawa ibunya.
Karena dia di ancam jika meninggalkan pesta itu, maka pengobatan ibunya pun diberhentikan. Tania tak ingin mengambil resiko, kalau tidak mungkin dia akan minta tolong kepada Danil.
Jarum jam terus saja berputar, bahkan sudah menunjukkan pukul 10.00 Malam, namun Tania masih sendirian didalam kamar, seperti sedang disekap.
Karena terlalu kepikiran dengan ibunya, Tania pun memberanikan dirinya mengambil handphone nya dan mencoba menelpon kakek nya Danil, yang saat itu dipikir Tania telah menjadi suami nya.
Namun yang ditelpon tak ada jawaban, Tania pun menelponnya, kembali sampai panggilan ke tiga barulah ada jawaban.
"Hallo ada apa?"
Tanya kakek dengan suara tegas nya. Dan Tania yang mendengar pun jadi takut dan ragu-ragu untuk biacara.
"Kalau tidak ada yang penting akan saya matikan telponnya."
"Ja ,jangan tuan!"
"Lalu bicara lah!"
"Tuan, tolong biarkan saya kembali kerumah sakit, saya takut ibu akan khawatir, jika saya tidak ada disana."
Tania bicara dengan ragu-ragu, dan gugup. Dia sangat takut jika tindakannya di anggap salah, dia akan membahayakan ibu nya.
"Kamu jangan khawatir, saya sudah meminta banyak orang untuk menjaganya, besok pagi-pagi kamu akan di antar pulang."
"Tapi tuan!"
"Kamu menurut saja, jangan membantah!"
Tania pun terdiam dan mematikan handphone nya, dia pun berusaha Menganti bajunya dengan baju yang dipakai dari rumah sakit tadi siang.
__ADS_1
Dia capek mengenakan baju pengantin itu, baju yang seharusnya membuat orang bahagia memakainya, namun tidak untuk nya.
Tania bingung, bagaimana nanti caranya mengatakan semua ini kepada ibu, akan kah ibu merestui pernikahan nya ini?