
Pras mengikuti Tania, masuk kedalam , namun Pras saat itu belum Bernai untuk bicara apapun, dia takut apa yang dikatakan nya akan menyakiti hati Tania.
Pras sesaat tersadar dari lamunannya, dia pun berpikir sejak kapan dia memikirkan perasaan Tania, bukankah selama ini dia memang sudah sangat menyakiti hati Tania dengan hubungannya dengan Tasya?
Pras Kembali berkecamuk dengan perasaan nya sendiri, dia mungkin belum sepenuhnya menyadari kalau dia saat ini begitu mencintai Tania.
Pras berjalan perlahan menuju kamar tamu tempat dia tidur kemarin malam, dia merebahkan tubuhnya disana.
Pras tidak langsung memejamkan matanya, dia menatap langit-langit kamar. dalam hati Pras juga merasa pernikahan macam apa yang saat ini di jalani,bahkan untuk tidur pun mereka tak bisa bersama.
Malam itu Pras memang begitu gundah, dia tidak bisa memejamkan matanya, Pras bingung bagaimana jika Tasya tau keberadaan nya, Pras yakin perempuan itu akan menjumpai dirinya.
Pras tau betul bagaimana sifat Tasya, dan apalagi kalau dia tau bahwa dirinya telah menikah dengan Tania pasti Tasya tidak akan tinggal diam.
Jam sudah menunjukkan tengah malam, Pras masih larut dalam lamunan nya, dia sedang mencari solusi tentang apa yang harus dia lakukan, Pras juga khawatir karena Tania telah mendaftarkan perceraian mereka, apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Pras bangun dari kamar nya dan keluar keruang tamu rumah Tania, dia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya.
Dan dalam kegundahannya Pras tertidur diruang tamu rumah Tania.
Malam itu Tania yang merasa haus dan lupa membawa air minum pun keluar dari kamar, dan Tania sedikit terkejut melihat suaminya tidur diruang tamu.
Ya seorang suami yang tidak pernah menganggap nya ada, tapi Tania bukanlah gadis yang kejam, dia Kembali ke kamarnya untuk mengambilkan selimut untuk Pras, Tania tidak tega jika membangunkan Pras yang terlihat sedang begitu nyenyak tertidur.
__ADS_1
Setelah menyelimuti Pras, Tania kembali kekamar nya, dan kali ini giliran Tania lah yang tak lagi bisa tidur, dia juga sednga gundah memikirkan bagaimana nasib hidupnya setelah bercerai dari Pras.
walaupun mungkin saat ini tak ada yang tau dengan pernikahannya yang saat itu diselenggarakan secara tertutup, Bahkan dirinya pun tak dibiarkan bertemu dengan tamu undangan , namun statusnya di pengadilan agama tetap telah tercatat sebagai seorang janda.
Ternyata Tania tak pernah menduga kalau kehidupannya akan tragis seperti ini. Semua harapannya telah sirna, dia hanya bisa menelan pil pahit kehidupan.
Malam ini Tania memang tak lagi bisa tidur sampai hari sudah terang, Tania bangun dan menuju dapur rumahnya, dia berjalan dengan perlahan agar tak membangunkan Pras.
Tania ingin membuat sarapan pagi untuk mereka, dan tak berapa lama Tania pergi ke dapur, Pras terbangun, dan melihat ada selimut ditubuhnya, dia hanya tersenyum, dia yakin kalau Tania yang menyelimutinya.
"Kamu masak apa?" tanya Pras.
Tania yang sedang memasak hampir saja menjatuhkan pisau yang sedang dipegang nya, dan dia hanya menatap Pras sedikit kesal karena mengagetkan dirinya.
"Kamu masak nasi goreng?" tanya Pras lagi.
"lebih baik Om mandi dulu, biar kita sarapan." jawab Tania tanpa menatap Pras.
"Oke."
Pras pun pergi ke kamar untuk mandi, dia tak ingin berdebat atau apapun.
Setelah Tania selesai menyiapkan sarapan pagi , Pras pun sudah kembali dengan lebih rapi, dia sudah mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
"kita sarapan sekarang?" ajak Pras.
Namun tak ada jawaban ,Tania hanya langsung menyendok kan nasi ke piring Pras.
Suasana pagi itu hening seketika, mereka berdua seakan tak saling kenal.
Setelah sarapan, mereka Oun duduk diruang tamu sambil menonton televisi, tapi tepatnya sibuk dengan handphone masing-masing.
sekitar jam 09.00 pagi, terdengar suara dari luar pagar, Tania langsung berjalan mendekat begitu juga dengan Pras.
"maaf cari siapa pak?" tanya tania ramah kepada tukang pos.
"ini mbak ada surat dari pengadilan agama." jawab tukang pos.
Duarr, rasanya seperti mendengar suara petir hal yang sebenarnya ditakutkan Tania namun sudah harus dihadapinya.
Tania meraih surat itu dengan gemetar, bahkan setelah pengantar suratnya pergi Tania masih membeku ditempatnya.
"Surat dari siapa?" tanya Pras.
"Dari pengadilan agama." jawab Tania tanpa menatap pra.
Dia tidak sanggup menatap wajah pria disampingnya. Dia sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dan begitu juga dengan Pras, dia terlihat diam sesaat, namun akan kah mereka menyadari bahwa telah ada cinta di antara mereka? Atau kah keduanya akan mengikuti alur dan berjalan dengan kehidupan mereka sendiri ?
__ADS_1