
Keesokan paginya, Pras dan Tania terlihat canggung, keduanya tak bicara apapun.
Tania memasak nasi goreng, dan langsung sarapan begitu Pras datang, Dan Pras pun ikut makan walaupun tidak di ajak Tania.
"Hari ini kita akan ke pengadilan lagi." ucap Tania.
"Kita tidak akan kesana."
"Kenapa?"
"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak berpisah."
"Tapi Tania berubah pikiran."
Pras berhenti menyuapi nasi goreng ke mulut nya, dia menegakkan pandangan ke arah Tania, namun Tania sama sekali tidak menatap ke arah Pras.
dia berpura-pura sibuk dengan sarapannya pagi itu, tanya sudah pikirkan semuanya dengan matang. dia tidak ingin hidupnya terus bergantung kepada Pras, sehingga membuat dirinya kecewa dan hancur.
"Ada apa lagi dengan kamu Tania?" tanya Pras.
"Tidak ada, tapi Tania bicara apa yang semestinya terjadi dengan hubungan kita."
"sudah cukup tanya jangan mengulang masalah itu terus ,kan sudah ku katakan tolong berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Tasya."
"tapi kalau hari ini kita ke pengadilan tidak ada yang perlu dijelaskan lagi karena Tania raya akan mundur."
"sudah cukup Tania , aku sudah katakan kalau sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan kamu."
"Terserah, Tapi Tania lelah hidup dalam kepura-puraan terus-menerus."
"apa yang buat kamu berubah pikiran, Apa karena kamu ingin bisa dekat dengan Danil atau juga dengan Al ?"
"ini tidak ada hubungannya dengan siapapun, Tania hanya lelah, tolong berikan Tania kebebasan kalau memang Om tidak menginginkan rumah tangga ini."
Pras tiba-tiba melempar sendok dan garpu di atas meja makan, dan bangun meninggalkan Tania, Tania pun terlihat begitu kaget, dia tidak menyangka kalau ekspresi Pras akan seperti itu.
setelah pas pergi Tania menarik nafas panjang, mencoba menahan rasa pedih di hati nya, tapi bukan karena sikap Pras di meja makan, melainkan berusaha untuk tidak cemburu melihat suaminya bersama orang lain.
Sekitar pukul 09.00 pagi tadi aku bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan, namun belum sempat Tania keluar dari rumah Pras menarik tangannya.
Tania meringis kesakitan karena pras menarik tangannya yang semalam sempat lebam, karena genggaman tangan Pras saat di restoran.
"Sakit Om, tolong lepaskan tangan Tania!" ucap Tania sambil meringis kesakitan.
namun Pras belum juga melepaskan tangan Tania, dia tidak ingin Tania pergi untuk mengurus perceraian mereka.
"apa sebenarnya yang kau inginkan dari Tania?"
"Aku hanya ingin kamu memberikan aku sedikit waktu Tania." ucap Pras dengan nada tinggi.
"tapi aku tidak ingin hidup dan lelaki yang tidak pernah menghargai pernikahan." jawab Tania dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tolong berikan aku waktu hari ini saja aku janji akan bicara dengan Tasya hari ini." jawab Pras mencoba meyakinkan Tania.
"Tapi Tania sudah lelah, menunggu sesuatu yang tidak pasti."
"lebih baik Om berikan tania kebebasan, biarkan Tania meraih impian tania, dan Om bisa menjalani hidup Om seperti dulu lagi."
"Tapi aku tidak bisa Tan, saat ini aku tidak bisa kehilangan kamu." jawab Pras sambil menggenggam kedua jemari Tania.
seharusnya saat itu Tania begitu bahagia, karena lelaki yang dicintainya ternyata juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
namun Tania takut kalau apa yang dikatakan hanya untuk mencegahnya pergi ke pengadilan.
Air mata yang tadi berada di ujung mata ini lolos begitu saja ke pipi nya , Tania kembali menangis ketika mengingat nasib hidupnya yang terpaksa dia jalani untuk menolong ibunya.
Pras yang saat itu tak kuasa melihat kesedihan Tania pun, dengan reflek memeluk tubuh Tania membawanya ke dalam dekapannya.
"Tolong kali ini kamu percaya sama aku Tania."ucap pras diselah isak tangis Tania.
"Tolong, jangan permainkan lagi hidup Tania."
Dan saat keduanya sedang berpelukan di pintu utama rumah Tania, tiba-tiba saja Tasya muncul disana, dan entah kapan dia ada disana.
"Pras, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Tasya dengan emosi saat melihat Pras sedang berpelukan dengan Tania.
Pras yang kaget dengan kehadiran Tasya langsung melepaskan pelukannya, Pras yang tadi sudah berjanji pada Tania akan bicara dengan Tasya namun Pras terlihat bimbang.
Tania menghapus air matanya menatap ke arah Tasya yang sudah berdiri tepat di depan pintu utama rumahnya.
"Mbak tasya!"
"apa-apaan kamu?" ucap Tasya dengan nada marah.
"kamu sadar apa tidak kalau orang yang saat ini sedang kamu peluk itu adalah Om kamu dan juga pacarku." ucap Tasya. Dengan suara tinggi.
Tania menatap ke arah Pras, dia berharap Pras bisa menjelaskan semuanya kepada Tasya.
Namun saat itu Pras masih diam, dan Tania sudah putuskan jika Pras tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Tasya saat itu juga, maka dia akan pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraian mereka dan dia tidak akan memberikan Pras kesempatan sedikitpun lagi.
"Dan sekrang coba kamu jelaskan sama aku Pras Apa maksud kamu mengatakan peras mempermainkan hidup kamu?" tanya Tasya pada Tania.
Namun Tania masih bungkam ,dia tidak ingin mengatakan apapun karena dia berharap Pras lah yang akan menjelaskan semuanya.
"Aku tidak berhak mengatakan apapun, dan jika Mbak Tasya ingin bertanya tanyalah sama Om Pras ."
Tasya mengerahkan pandangannya kepada Pras menatap ras penuh selidik namun saat itulah sama si diam dia bungkam begitu saja.
"sekarang coba kamu jelaskan Pras, apa yang sebenarnya terjadi ? dan hubungan apa yang kalian miliki selain hubungan antara Om dan keponakan?"
Pras terlihat menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri saat itu, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya mengatakan semua kepada Tasya.
Pras tidak ingin kehilangan Tania yang jelas-jelas sudah sah menjadi istrinya , dan dengan senang hati mendampingi dirinya.
__ADS_1
sedangkan Tasya yang begitu dicintainya malah menolak untuk menikah dengannya.
"katakan Pras!" pinta Tasya lagi .
"Oke, aku akan mengatakan semuanya."
"Apa maksud kamu?" tanya Tasya terlihat tidak sabar.
"Tasya, mungkin mulai hari ini lebih baik kamu menjauh dari hidupku."
"kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?"
"sebelumnya aku sudah jelaskan kalau papa menentang hubungan kita karena kamu tidak ingin menikah denganku."
"Tapi sebelumnya kamu tidak pernah mempermasalahkan hal itu Pras."
"Tapi saat ini aku telah memiliki seorang istri Tasya." ucap Pras terbata.
"istri?" Tasya tertawa lebar.
saat itu dia merasa kalau Pras Serang mempermainkan dirinya agar dirinya menjauh dari kehidupan Pras.
"Aku sedang tidak bercanda, dan aku memang sudah menikah beberapa bulan yang lalu saat aku kembali ke Jakarta."
"Omong kosong apa.ini Pras?"
"Ini bukanlah sebuah omong kosong dan kamu juga harus tahu kalau Tania bukanlah keponakanku."
Tasya masih diam, menatap pras dan Tania bergantian, seakan meminta penjelasan.
"Tania itu adalah istri sah ku, dan aku telah menikahinya beberapa bulan yang lalu."
"Kamu jangan mempermainkan aku Pras."
"Aku tidak sedang mempermainkan kamu Tasya, tapi ini adalah kenyataannya."
"Tidak mungkin." jawab Tasya dengan emosi.
"Kamu lihat ini!" Pras menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Dan kamu bisa lihat kalau Tania juga menggunakan cincin yang sama denganku."
"Tidak Pras, Aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke pelukan siapapun."
"Tapi kamu sendiri membiarkan aku jatuh hati pada wanita lain."
"padahal selama ini aku tidak pernah menerima pernikahanku dengan Tania, tapi situasi dan juga sikap kamu yang membuat aku akhirnya tidak bisa membiarkan dia pergi dari hidup aku."
"Enggak Pras, enggak." Tasya tiba histeris dan menyerang Tania.
Tania yang saat itu tidak siap pun terjatuh ke lantai dan kepalanya mengenai sisi sofa, Pras begitu panik melihat Tania terluka.
__ADS_1
Dan Pras menarik Tasya untuk keluar dari sana, Pras mengangkat tubuh Tania dan membawanya kedalam mobil untuk dibawa kerumah sakit.
Bagaimana kondisi Tania setelah ini dan apa yang akan dilakukan Tasya terhadap Pras dan juga Tania?